Tampilkan postingan dengan label family story. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label family story. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 19 Oktober 2013

AFIFAH and Her new ride

Adududuh....

Belakangan kok topik saya cuman si ponakan unyu ini aja ya?

Bener-bener jadi tante yang norak deh saya, Afifah jangan il-feel yah kalo tante doyan bahas soal kamu di blog,di facebook dan ga bosan-bosan jeprat jepret kamu dalam berbagai kesempatan. Habis kamu lucu sih, salah siapa dong?

Keponakan saya yang jadi 'bintang' bersinar belakangan di keluarga besar ini dari hari ke hari makin imut. Sebagai tantenya yang lagi gatel terobsesi jadi fotografer Afifah jadi objek kesayangan saya. She's perfect. Cute, photogenic dan tidak banyak tingkah. Cukup berbaring dengan mainannya maka ia langsung jadi model paling ko-operatif yang pernah ada. HA HA HA. 

Tapi seiring dengan pertumbuhannya, Afifah tidak lagi hanya berbaring di tempat tidur dan matras. Sekarang ia bisa tengkurap dan berdiri sambil  dipapah. Riangnya bukan main kalau sudah diberdirikan oleh Bundanya. Langsung deh si baby mungil yang baru berusia 6 bulan ini menghentakkan kaki dan berancang-ancang melompat. Tapi berhubung masih 6 bulan yah sabar ya nak, cuman gitu - gitu aja deh dulu kamu. hehe.

Beberapa hari yang lalu saa mampir ke rumah kakak ipar saya. Adalah adek saya nan kalem, Merry, yang kangen berat dengan Afifah. Sepulang dari Padang, kota tempat ia melanjutkan studinya selepas SMA, Merry nekat berkendara dengan sepeda motor dengan saya diboncengannya, dari kota Batusangkar ke Bukittinggi, demi bertemu Afifah. 

Sesampainya di Bukittinggi, kami disambut Afifah yang tengah terlelap. Dia baru saja tertidur beberapa menit. "Sebentar lagi juga bangun kok, tidur siang bayi kan cuman 30 menit," kakak ipar saya menahan langkah kami  yang hendak mengganggu tidurnya.

Benar saja, tidak berapa lama Afifah terbangun. Tangisannya kecil dan halus. Tidak menggelegar seperti bayi kebanyakan. Butuh 15 menit agar ruh nya stabil dan mulai bisa diajak bermain. Tapi kali ini Afifah tidak berbaring, ia memiliki mainan baru. Sebuah kursi dengan pengaman bundar dan memiliki roda! Sebutan gampangnya kursi untuk belajar berjalan buat bayi.  

Kamera Aunty terpaksa keluar deh. 1, 2, 3, ...









Ahhh, Isn't she lovely?

Rabu, 11 September 2013

Afifah in Frames II

 

Oke, postingan ini membuktikan bahwa euforia tante baru masih menyelimuti saya. Keponakan saya memang lagi lucu-lucunya untuk jadi objek afeksi dan fotografi. Bukan hanya saya yang doyan jepret-jepret bayi mungil ini, menurut pengakuan kakak ipar saya Baby Afifah juga jadi objek foto para handai taulannya yang pulang merantau dari tanah Jawa lebaran kemaren. 

Sabtu, 31 Agustus 2013

Afifah in Frames

Keponakan saya Afifah Annazla Arswend lagi lucu-lucunya. Setelah menunggu selama 4 bulan finally saya bisa bertatapan langsung dengannya. Kepulangan saya saat lebaran menjadi momen pertemuan mengharu biru dan unyu-unyu gimanaaaa gitu.

Saya berkunjung ke rumah kakak ipar saya di lereng gunung Marapi, Jorong Koto Pisang Nagari Pariangan. Menuju ke lokasi ini butuh perjuangan ekstra mengingat jalan mendaki dan menukik curam dimana-mana. Tapi Alhamdulillah walau kampung terpencil sekalipun jalannya sudah mulus di aspal dan dibeton. 

Afifah baru saja dibawa mandi ke sumber mata air yang dinginnya luar biasa oleh sang nenek. Berbalut selimut hangat ia setengah terlelap setelah ritual mandi. "Lagi tidur Afifahnya Ante, tadi dia nggak ada nangis lho mandi di pincuran -sumber mata air-" demikian sang nenek bercerita dengan riang menyambut kedatangan saya. Afifah menggeliat sebentar di pelukan hangat sang nenek. Wajah mungilnya sedikit merona. Bibirnya kecil merah, pipinya tembem dan rambutnya lebat. Sungguh sangat beda dengan foto-foto yang dikirim oleh kakak ipar saya. Afifah terlihat jauh lebih mungil jika dilihat langsung. "Banyak yang mikir Afifah sudah gede lho kak," cerita kakak ipar saya." Mungkin karena rambutnya panjang kali ya kak, dia juga lincah dan senang difoto hehe"


Jumat, 30 Agustus 2013

Good Bye Mak Uwo...

Saya memanggilnya Mak Uwo, sebagian besar sepupu saya memanggilnya Mama Nit. Nama  aslinya Nuraini. Entah mengapa panggilannya berbeda dengan nama aslinya.

Beliau adalah saudari bapak saya yang paling tua. Banyak yang bilang saya memiliki banyak kesamaan dengan beliau. selain sama-sama anak perempuan tertua dalam keluarga Apa saya bilang saya dan Mak Uwo sama-sama 'lasak' -dalam bahasa Minang berarti tidak bisa diam- dan panjang akal alias kreatif. 

Mak Uwo memang tidak bisa diam. Ia tidak bisa tahan duduk manis di rumah tanpa melakukan aktifitas berarti.  Mulai dari memasak, menjahit, membuat kerajinan tangan yang unik dan cantik sampai arisan dan reunian. Semua Mak Uwo yang paling rajin mengorganisir. Ama belajar banyak dari Mak Uwo berbagai maakan , kue arai pinang serundeng, kerupuk kuah dan lalapan sambal ikan asin kesukaan saya.


Sabtu, 08 Juni 2013

Farewell... Willem Nooyen Dec 3rd 1957 - June 7th 2013

Hari ini kami berduka, melepas kepergian saudara kami Willem Nooyen. A funny and humble man yang telah menjadi bagia dari keluarga kami sejak ia menikahi sepupu saya tercinta Elsi Desnita pada 16 April 2011.

Willem dari tanah Belanda sana melamar kakak sepupu saya setelah sebelumnya mereka menjalin persahabatan dan sempat datang ke Padang, Sumatera Barat, untuk tinggal beberapa saat. They both traveled a lot. Since they were live separately, Willem in Netherland and my sister Elsi stay in Indonesia They only met once or twice a year. But still i see that they're so into each other. There were no days without Willem comunicate with Elsi via skype, email, or facebook. They connect trough wire. Distance seemed to dissapear.

Days ago, Willem came to Indonesia to accompany my sister whom will gave birth to their first child.  Elsi was so happy having him beside. But unfortunately something unexpected happened. He suddenly felt sick after going out for fishing and riding. The doctor said he had blood vessel constriction, i dont know the medical terms of it. but when i called my doctor friend and told her the story She said that Willem probably having stroke hemmoragik. 

We felt so lost. We only met once but its enough for me to said that he is a charming and humble person. He's funny and made us laugh a lot. Especially when it comes to culture shock in Indonesia.

Good bye Willem, we'll be missing you. 




Jumat, 19 April 2013

Officially Aunty!

Yey, akhirnya saya jadi Tante yang sebenarnya tante. Bukan tante-tante girang seperti di komedi-komedi girang lho, tante seutuhnya tante. 
Memiliki keponakan bukan hal yang baru bagi saya. Apalagi kebanyakan sepupu saya sudah menikah dan melahirkan bayi-bayi lucu. Berkat saudara yang jumlahnya melimpah ruah saya bahkan di usia 12 tahun sudah memiliki cucu. Lucu bukan? tapi memiliki seorang keponakan yang lahir dari kakak ipar alias istri dari abang kandung sendiri itu lebih sesuatu lagi. Senang rasanya ada baby yang diunyel-unyel pipinya saking ngemesinnya. Senang rasanya memiliki objek afeksi yang super adorable mengingat adik bungsu saya sudah nggak unyu lagi karena ia sudah beranjak remaja. 
Finally, welcome to the world baby Afifah Annazla Arswend , triple A nih... Aunty loves you very much. Semoga menjadi anak sholeha yang berwawasan luas, cerdas dan mengasihi sesama demi dunia yang lebih indah dan damai. Amin.... 

Baby Afifah was born on 9th April 2013, 10.30 AM in Batusangkar







Jumat, 01 Maret 2013

Dinner at The Ranch

Karena tidak sempat membawa my lil sis ke luar kota untuk jalan-jalan seperti rencana semula (ke Danau Toba atau pun ke Berastagi) akhirnya saya putuskan untuk meng-edukasinyamakan-makan  dari mall ke mall di kota Medan haha. Paling nggak saat dia pulang ke kampung kami dia sudah nyicip Medan Mall, Sun Plaza, dan Plaza Medan Fair kekekeke

Semalam sebetulnya saya mau membawa adik saya itu bertemu beberapa teman di Kopi Tiam Ong Dr Mansyur. Tapi berhubung salah satu teman membatalkan karena alasan urgent jadi kami yang sudah terlanjur dressed up memutuskan untuk jalan ke lokasi yang paling gampang dituju dari rumah kontrakan saya di kawasan pasar IV Padang Bulan.  Saya putuskan untuk membawanya ke lokasi wisata keluarga akhir pekan, Plaza Medan Fair.

Hal yang pertama kami lakukan adalah mencari tempat makan malam. Pilihan tempat makan di Plaza Medan Fair sebenarnya variatif dan tergolong terjangkau. Hanya saja saya sudah pernah makan di hampir semua tempat disini. Saya ingin adik saya makan di tempat yang interiornya bagus dan tidak terlalu ramai oleh umat manusia sehingga kami bisa makan sambil chit chat dengan tenang. Kebetulan Jumat malam Plaza Medan Fair sedang sepi, padahal hari itu tergolong weekend, tanggal muda (banget) dan ada pameran IT yang diadakan fumikom. Saya memutuskan membawanya ke sebuah kafe yang tergolong baru di lantai dasar, Ranch 57.

Kami memilih tempat duduk di pojokan paling belakang, alasannya? biar nyantai aja dan nggak diliatin oleh orang-orang yang cuci mata di areal tersebut haha. 

Setelah menelaah buku menu, saya memutuskan untuk memesan Spaghetti Spicy Tuna dan Hot Lemon Tea, sementara adik saya memesan Nasi ayam bakar  dan Oreo Cheese Cake. Heran deh ni adik, di ajak ke kafe a la western mesennya Nasi Ayam Bakar. Oiya, interior kafe ini bagus menurut saya, di dominasi oleh material kayu. Di dinding, ada berbagai macam poster iklan vintage dan lukisan yang membuat suasana sedikit Homey plus lighting yang berasal dari lampu petromak (entah itu petromak beneran atau udah diganti bohlam di dalamnya). Tempat duduknya juga unik, ada yang dibikin dari bagian depan vespa (apa ya istilahnya?).

Tidak lama, makanan yang kami pesan datang.Terima kasih kami tidak sampai meraung-raung histeris karena kami benar-benar sangat kelaparan. And then.. Itadakimasu !


Yang pertama kali dihidangkan adalah minuman pesanan saya, Hot Lemon Tea. Tapi saya lebih suka menyebutnya Hot Jeruk Nipis Tea, =p

Minuman pesenan si adek, Oreo Cheese Cake. Porsi segini cukup untuk berdua, tapi sendiri juga bisa seperti yang dilakukan adik saya. Sayangnya sedotan dan sendok nya kurang kompatibel dengan ukuran gelasnya. Niat pengen sedot sampai habis terhalangi karena kurang panjangnya instrumen. Rasanya enak (ngerasa sayang kalo nggak dihabisin) -_-.

Spaghetti Spicy Tuna. Pedasnya pas dan tidak hanya tuna, ada udangnya juga.

Nasi ayam bakar, cocok untuk lambung orang Indonesia yang nggak kenyang kalau nggak makan nasi (just like my sis).

Tokoh utama post kali ini, My sist. She enjoyed so much spending time in Medan, especially when we out for lunch or dinner. You Happy, I am tragically broke

Kamis, 28 Februari 2013

Merry Go Round Medan

My lil Sis, Merry, mengunjungi saya di Medan dalam rangka liburan perkuliahannya di Politeknik Negeri Padang. Setelah sebelumnya sempat membatalkan niatnya akibat tidak ada partner dalam perjalanan lintas darat Bukittinggi-Medan, akhirnya Merry memberanikan diri untuk beragkat sendirian tanpa teman. 

Dari kecil Merry paling dikenal akan kelemahannya dalam perjalanan darat. Bahkan untuk jarak tempuh 1 KM saja, my lil Sis ini bisa mabok darat dan berakhir memuntahkan isi perutnya. Saya ingat kejadian lucu saat kami berlibur di Padang dan menginap di rumah sepupu kami di Indarung. Kami dijemput di rumah nenek di Ujung Pandan oleh sepupu kami , Uni Desi, dan kemudian dia membawa kami ke Indarung dengan menumpangi angkot. Karena tahu Merry lemah dalam perjalanan darat, saya menyarankan agar dia duduk di bangku depan sebelah supir bersama sepupu kami. Dengan begitu ia bisa menghirup udara segar sepanjang perjalanan dan tidak akan mabok.

Awalnya itu terdengar seperti rencana yang cukup sempurna. Apalagi ini cuma perjalanan beberapa KM dan jalannya juga tidak berkelok-kelok. Semua berlangsung aman sampai kami tiba di tujuan. Saya yang duduk di bangku belakang turun duluan dan membukakan pintu depan untuk adik saya tersebut. Apa yang terjadi. Dengan pipi menggembung dan wajah pucat ia melompat, disusul sepupu saya dan Hoekhhh.... 

Dia muntah!

Sejak saat itu, perjalanan darat menjadi ke khawatiran tersendiri bagi kami sekeluarga, terutama kalau kami harus menumpang kendaraan umum dan Merry ikut. Kami harus memastikan ia bisa duduk di dekat jendela atau di bangku paling depan agar perjalan kami bebas gangguan. 

Namun jeleknya, gara-gara hal sepele ini, orang tua jadi meragukan kemampuan adik saya untuk bisa melancong saat kuliah nanti. Merry mulai ditakut-takuti bahwa kemungkinan ia akan bersekolah di kota tempat kami lahir dan dibesarkan, Batusangkar, karena ia tidak mungkin dilepas bepergian sendirian jika akan berakkhir mabuk darat parah. Tapi syukurlah Merry lebih ngotot dari pada lelucon orang tua saya itu. Ia berhasil memasuki Politeknik Negeri Padang dan sampai sekarang sudah 1,5 tahun berdomisili disana. Riwayat mabuk perjalanan? Nihil!

Merry akhirnya bisa mengalahkan riwayat jeleknya tersebut. Saya rasa itu berkat keteguhan hatinya yang ingin bisa melihat dunia luar, di luar kota kecil kesayangan kami. Sejauh ini, Merry sukses sehat sentausa dalam perjalanan lintas Sumatera Barat ketika keluarga saya melawat perhelatan akbar, WISUDA SARJANA SAYA setelah 5,5 tahun menunggu !

Dan sekarang, Merry bersama saya. Kemana dia sebaiknya saya bawa? Untuk bagian pertama saya rasa Mesjid Raya dan Istana Maimon  oke juga tuh. Ready, 1.. 2.. 3... *jepret* Ayo lihat hasilnya...


NO CARD IN CAMERA !

Oh no...




Akhirnya kami beraksi dengan kamera handphone Sony Xperia Ray milik adik saya. Huhuhu, saya fotografer trainee hina dina. Bagaimana mungkin memori kameranya saya lupakan begitu saja. What if Saya memotret di sebuah event yang jauhnya mintak ampun dari rumah saya? Misalnya di Pangunguran sana, mau dicari kemana memorinya? 

Makan kolak doren di samping Mesjid...







Langit-langit istana Maimon^^

Ada cerita lucu saat kami memasuki istana Maimon. Kami berjalan dari Mesjid Raya menuju lokasi istana yang tidak seberapa jauh dari Yuki Simpang Raya ini sambil melihat kanan kiri mana tahu ada toko elektronik atau selular. Jujur saja saya baru dua kali memasuki Istana Maimon. jadi saya tidak begitu paham bagaimana atau dimana pintu masuk dari lokasi wisata yang menjadi most visit place di Medan ini. Pertama saya memasuki Istana Maimon adalah saat membawa seorang turis asal Ukraina yang bernama Alexei. Kami berjalan dari Mesjid Raya dan memasuki pintu gerbang di sebelah kanan. Karena pintu gerbang besar yang di tengah tutup. Waktu itu kami hanya sampai di depan istana, tidak masuk ke dalamnya karena si bule nggak terlalu interest dengan lokasi wisata yang ke-rame-an. Jadi kami lenggang kangkung begitu saja meninggalkan kompleks istana. 

Kali ke-dua adalah saat bersama my lil Sis. Saya memasuki istana Maimon dari pintu gerbang yang sama ketika saya memasukinya bersama Alexei. Hanya saja saya baru ngeh ada tulisn "Dilarang Masuk Kecuali Pengunjung Tanaman Hias" dan tulisan lain "Dilarang Parkir kecuali Pengunjung Tanaman Hias". Saya dengan polosnya masuk begitu saja dengan pikiran, lalu pintu masuknya dimana rupanya? Dalam hati saya saya berpikir mungkin hari ini tidak dipungut biaya, berhubung Bapak penjaga (sepertinya) yang duduk di gerbang juga membiarkan kami berlalu begitu saja. 

Setelah sampai di depan istana, saya bertanya apakah adik saya ingin masuk ke dalam. Ia mengangguk, dan kami pun menaiki tangga istana. Di puncak anak tangga teratas kami alngsung disambut suguhan live music performance. Setelah menikmati satu lagu sampai selelsai, kami bergerak memasuki ruangan depan istana. Di dalam ini saya pikir kami akan membayar tiket atau apa palh. Jadi ketika melihat ada banyak orang berkerumun di satu meja, saya menghampiri sampil mempersiapkan uang dua Rp 10000,-. Tapi itu bukan meja karcis atau tiket seperti dugaan saya. Meja dimana seorang ibu-ibu berjualan souvenir, termasuk sabun batang sereh wangi dengan huruf kanji besar di depannya. Saya bingung, jadi bayar tiket masuk dimana? 

Setelah saya ingat-ingat kembali, arus umat yang memasuki kompleks Istana Maimun datang dari sebelah kiri saya. Dan ya, di seberang sana ada gerbang dengan penjagaan. Ada banyak bus pariwisata berbaris rapi juga. Dan ada banyak kerumumnan umat juga. Ah, rupanya disana pintu masuknya (yang berbayar). 

Berhubung sepertiny tidak ada pemeriksaan ulang tiket, saya dan Merry cuek saja dan berfoto-foto ria. dalam hati saya berjanji lain kali akan lewat gerbang tanaman hias lagi (haha). Nggak ding, saya akan mengedukasi agar setiap sahabat yang kondangan ke sini untuk masuk lewat gerbang yang sebenarnya, yaitu gerbang sebelah kiri yang ada pos tiket masuknya. Jangan masuk lewat gerbang penjualan tanaman hias!

Kamis, 20 Desember 2012

From Dee to Coffee to What's next ?

Saya punya adik bungsu berjenis kelamin laki-laki yang sedang memasuki masa puber. Usianya kalau dihitung-hitung sudah 15 tahun dan semakin keras kepala dari hari ke hari. Dulu, dia adalah sosok paling unyu di rumah, karena pipinya chubby dan wajahnya imut hehehe. Dia jadi bahan mainan saya dan adik perempuan saya. Nggak kebayang deh dulu dia sering kami pakaikan bando dan pita saat dia bahkan belum bisa berbicara apa-apa kecuali mengeluarkan bunyi-bunyian aneh.

My Lil Bro, Andre Septian. Born on September 18th 1997


Semakin adik saya tumbuh dewasa, saya semakin menyadari banyaknya kemiripan yang kami miliki. Salah satunya hobby melamun dan menghayal yang sangat kronis dan memilukan. Saya jadi malu sendiri ketika dulu saya datang mengambil raport nya dan gurunya berkata, "dia kurang berkonsentrasi, selalu melamun di kelas dan tidak pernah mengerjakan pekerjaan rumah!" Aha, That's me back in my elementary school! And also in my Junior and Senior HIgh and also in my college until me now hahaha. "Di buku tulisnya pun dimana seharusnya dia mencatat dan mengerjakan soal latihan isinya gambar dan coretan semua." Tuhan, dia memang suksesor saya!

Saya tidak bisa berkomentar banyak apalagi memarahinya, karena dia benar-benar template saya semasa muda. Kami memiliki hobby yang sama, menggambar. Hal ini membuat saya sangat menyayanginya dan berusaha mendukung hobby-nya agar tidak sekedar menjadi hobby yang tidak bermanfaat. Mulai dari membelikannya pensil warna, crayon dan memperkenalkannya pada pensil mekanik untuk menggambar dan soft pastel untuk mewarnai.  Saya juga menularkan hobby baca komik dan nonton anime pada my Lil Bro

Soal selera musik kami juga nggak jauh beda. Kami penikmat TOP 40! penggemar lagu-lagu hits pasaran, khususnya yang tercantum di tangga lagu Billboard. Walau selera musik saya sudah mulai beragam dan bercampur, tidak hanya mendengar musik populer, kami tetap nyambung kalau bicara soal musisi yang lagi nge-hits. Satu lagi, kami sama-sama menyukai genre film action-fantasy . Sebut saja The Chronicle of Narnia Series, Harry Potter saga dan our beloved The Lord of The Rings trilogy.

Kalau soal musik, anime, manga dan film kami sejalan, ada dua hal yang agak sulit menyatukan kami. Membaca buku (bukan hanya komik!) dan belajar. Sebenarnya pada dasarnya saya dan adik sama-sama menyukai pelajaran yang ada kisahnya. Sejarah dan bahasa Indonesia. Adik saya suka sejarah dan selalu suka menonton dokumenter yang ditayangkan di National Geographic Chanel dan History Chanel. Hanya saja dia hanya membaca buku-buku yang sama dan menurut saya itu tidak cukup. Ia harus lebih memperluas range bacaannya. Tidak heran kalau oleh-oleh atau hadiah dari saya untuk adik bungsu adalah buku, DVD, atau alat menggambar. Belakangan saya lebih suka membawakannya buku. Dan saya suskes membuat dia semakin menyukai buku (proud sister hehehe).

Hasil dari itu semua adalah dia jadi menyukai karya-karya Dewi Lestari, atau yang lebih dikenal dengan nama penanya Dee. Buku Dee yang pertama kali dibaca my Lil Bro adalah kumcer Filosofi Kopi. Awalnya saya sama sekali tidak menyodorkan buku itu untuk adik saya baca, Mengingat usianya masih 14 tahun saat itu. Kebetulan saja saya membawa puluhan buku pulang untuk melapangkan rak buku yang semakin reyot di kontrakan saya di Medan. Saya menyuruhnya membaca seri Harry Potter ( mengingat ia suka menonton filmnya)  yang langsung ditolaknya mentah-mentah karena tebalnya Nauzubillah. Adik saya akhirnya membaca novel Negeri 5 Menara. Selesai dengan Negeri 5 Menara ia mencari-cari buku lainnya dan menemukan Filosofi Kopi di tumpukan buku saya.

Saya tidak tahu kalau ia mulai membaca Filosofi Kopi sampai saya membersihkan kamarnya dan menemukan buku itu terselip diantara buku-buku pelajarannya yang penuh coretan. Kesan saya, WOW. Dia punya selera buku yang bagus ( selain buku-buku tentang sejarah dan biografi tentunya). Saat saya tanya kesannya, dia menjawab layaknya anak 15 tahun, "Jadi pengen buka kedai kopi di depan rumah dan diberi nama 'FILOSOFI KOPI' juga !" Ya, adik saya sedikit banyak adalah penggemar kopi juga *yang membuat Ibu saya gemas karena kebiasaannya begadang*. Dia suka khususnya kawa daun, kopi tradisional Minangkabau yang diseduh dari daun kopi yang disangrai hingga kering.  kalau mau tahu bentuknya kayak foto dibawah ini nih ...

Kawa Daun yang diseduh di periuk tanah liat dan dinikmati di gelas tempurung... Sangat antik bukan?


Ia juga peracik kopi tubruk yang handal. Racikannya selalu pas selera bapak-bapak dan om-om yang menjadi kolega Bapak saya dan sering berkunjung ke rumah. Ide mendirikan sebuah kedai kopi ini saya rasa sangat fantastis. Mengingat daerah kami adalah sebuah kota kecil dengan sebagian besar penduduk cenderung merantau dan warga baru tetap saja berdatangan. Apalagi di depan rumah kami adalah Rumah Sakit Daerah terbesar dan satu-satunya di kota Kabupaten. Ibu saya dulu membuka kedai makan di depan rumah untuk membantu Bapak. Tahun 2004 kedai kami berhenti beroperasi karena Nenek saya mulai sakit-sakitan. Ibu yang sekarang tidak memiliki aktivitas mulai merasa bosan dan berniat mebuat sebuah kedai minum. Kedai kopi saya rasa cocok. Cukup sepetak mungil dan hanya menyajikan kopi dan cemilan tradisional. Sementara kopinya bukan sekedar kopi lokal atau kawa daun saja. Akan lebih baik jika ada bermacam-macam kopi. Tentunya saya bisa jadi pemasok Kopi Aceh dan kopi Sidikalang dan berbagai jenis kopi lainnya yang gampang ditemukan di kota besar seperti Medan. 

Oke, kita tinggalkan dulu kopi-kopian ini sejenak dan melanjutkan pembicaraan ke topik sebenarnya haha.

Setelah tahu bahwa ia suka membaca karya Dee, saya memutuskan untuk membelikannya kumcer Dee yang lain, Madre. Sesuai dugaan, adik saya tetap menyukainya dan ide tentang toko roti pun memasuki kepalanya. Kemudian 2 minggu yang lalu saat sedang telponan dengan Bapak yang menagih janji saya mengiriminya buku biografi Karni Ilyas , adik saya nimbrung dan request karya Dee lainnya. "Ni, beliin Perahu Kertas juga ya!"

"Perahu kertas tebal lho, bukannya kamu nggak suka buku-buku tebal njelimet? Trus ini novel bukan kumpulan cerpen kayak kemaren-kemaren, " ujar saya mengingatkannya. Saya terpikir untuk membelikannya Recto Verso sebenarnya (kebetulan saya belum punya). 

"Nggak apa-apa," ujarnya optimis.

Jadi saya akhirnya membelikannya Perahu Kertas dan menitipkannya kepada rekan Bapak saya yang sedang dinas ke Medan berikut buku biografi Karni Ilyas permintaan Bapak. Saya berencana menagih sebuah review darinya mengenai buku itu saat pulang ke Batusangkar nanti. Sudah saatnya ia tidak hanya membaca bukan? Saya juga jadi penasaran ide apa lagi yang muncul di kepalanya setelah membaca Perahu Kertas. Entah dia jadi bercita-cita menjadi pelukis seperti Keenan atau Penulis Dongeng seperti Kugi. Atau malah menjadi penulis seperti Dee, penulis kesukaannya.  

Senin, 29 Oktober 2012

Family Combo


Seperti yang saya sudah post sebelumnya, bahwasanya saya adalah anak ke 3 dari lima bersaudara di keluarga yang lumayan gokil *caelah bahasanya* di Sumatera Barat sana. Emak saya adalah perempuan Minang totok yang berkulit putih dan berhidung mungil *sedikit lebih baik dibanding pesek* Kalo melihat foto di masa muda Emak, masa di mana ia sempat mencicipi era ke-emasannya sebagai kembang desa Balai Tabuah, Emak lebih mirip Cici Chinese berdialek hokkien yang lazim saya temui di mall - mall besar Kota Medan, bedanya Emak nggak berstiletto , nggak ber hot pants dan nggak bervarises karena ia masih teramat muda.