Senin, 03 Desember 2012

Bagaimana Ciuman Pertama Kali Ditemukan?


pict source http://coldwaterstoathirstysoul.wordpress.com

“Cerita ini terjadi pada zaman dahulu kala di Yunani, tempat banyak hal indah terjadi. Sebelum itu orang-orang belum pernah mendengar tentang ciuman. Dan, peristiwa itu terjadi hanya dalam sekejap mata. Seorang pria menuliskannya dan semenjak itu, cerita itu pun menjadi abadi.

“Ada seorang gembala bernama Glaucon-seorang gembala muda yang tampan- yang tinggal di sebuah desa kecil bernama Thebes. Desa itu kelak menjadi kota yang sangat besar dan tersohor, tapi pada saat itu masih desa kecil yang sunyi dan sederhana. Terlampau sunyi untuk Glaucon. Ia menjadi bosan dan ingin pergi jauh dari rumah dan melihat dunia luar. Lalu, Ia pun mengambil ransel dan tongkat gembalanya, lalu pergi berkelana sampai ke Thessaly. Negeri ini adalah tempat bukit para dewa berada. Namanya Bukit Olympus. Tapi, bukit ini tidak ada kaitannya dengan cerita ini. Cerita ini terjadi di gunung yang lain, Gunung Pelion.

“Glaucon bekerja pada seorang pria kaya raya yang memiliki banyak binatang ternak. Setiap hari Glaucon harus menggiring ternaknya ke sebuah padang rumput di Gunung Pelion, dan mengawasi mereka makan. Tidak ada lagi yang harus dilakukan, dan ia merasa waktu berjalan begitu lambat jika ia tidak memainkan serulingnya. Oleh karena itu, ia sering memainkan serulingnya dengan indah, sambil duduk di bawah pohon dan memandangi lautan biru nun jauh di sana, serta berpikir tentang Aglaia.

“Aglaia adalah anak perempuan tuannya. Gadis itu sangat manis dan cantik sehingga Glaucon jatuh cinta kepadanya pada pandangan pertama. Saat ia sedang tidak meniup serulingnya di gunung, ia selalu memikirkan Aglaia dan berkhayal suatu saat ia akan memiliki kawanan ternak sendiri, serta sebuah rumah kecil di lembah tempat ia dan Aglaia tinggal.

“Aglaia juga jatuh cinta pada Glaucon seperti halnya pria itu terhadapnya. Tapi, ia tidak pernah membiarkan Glaucon tahu perasaannya, dan itu berlangsung dalam kurun waktu yang lama. Glaucon tidak tahu kalau Aglaia diam-diam sering  bersembunyi di balik bebatuan di dekat ternak  yang sedanng makan  di padang rumput, untuk mendengarkan Glaucon memainkan musik yang indah. Musik itu sangat indah karena setiap kali memainkannya, Glaucon selalu berpikir tentang Aglaia dan membayangkan gadis itu ada di dekatnya.

“Namun tak lama kemudian, Glaucon mengetahui bahwa Aglaia juga mencintainya, dan semua hal pun berlangsung indah. Pada zaman sekarang, kuarasa pria kaya seperti ayah Aglaia tidak akan mengizinkan anaknya menikahi seorang pekerja upahan. Tapi , itu adalah abad keemasan, ketika hal itu sama sekali bukan masalah.

“Setelah itu hampir setiap hari Aglaia pergi ke gunung dan duduk di samping Glaucon sambil mengawasi ternaknya dan memainkan serulingnya. Namun, Glaucon tidak lagi bermain seindah seperti sebelumnya, karena ia lebih suka berbincang dengan Aglaia. Pada malam itu mereka menggiring ternak bersama-sama.

“Pada suatu hari Aglaia pergi ke gunung melalui jalan yang lain dan ia tiba di sebuah sungai kecil. Ia melihat ada sesuatu yang berkilauan diantara batu kerikil di sungai. Aglaia mengambilnya dan  mendapatkan benda itu adalah sebuah batu kecil indah yang belum pernah ia lihat sebelumnya. Ukurannya hanya sebesar kacang polong, tapi batu itu berkilauan  dan memancarkan warna-warna pelangi saat ditimpa sinar matahari. Aglaia begitu gembira sehingga ia memutuskan untuk memberikan batu itu sebagai hadiah bagi Glaucon.

“Namun, tiba-tiba Aglaia mendengar suara langkah kaki berdebum di belakanganya, dan saat berbalik ia  menjadi ketakutan setengah mati. Di hadapannya, berdirilah Dewa Agung Pan. Dewa ini berbentuk makhluk yang sangat mengerikan dengan wujud yang lebih menyerupai kambing ketimbang manusia. Kalian tahu dewa tidak selamanya berwujud indah. Dan baik indah maupun  tidak, tidak ada yang pernah menginginkan berhadapan muka dengan mereka.

“’Berikan batu itu kepadaku,’ kata Pan seraya menjulurkan tangannya.

“Tapi, meskipun ketakutan, Aglaia tidak mau memberikan batu itu kepadanya.“’Aku mau memberikannya kepada Glaucon,’ jawabnya.

“’Aku mau memberikannya kepada peri hutanku,’ Pan berkata,’dan aku harus mendapatkannya.’

“Ia melangkah maju untuk mengancam Aglaia, tapi Aglaia berlari sekencang-kencangnya ke gunung. Jika ia bisa mencapai Glaucon, pria itu akan melindunginya. Pan mengejarnya, menggeram, dan berteriak marah dengan suara yang mengerikan, tapi beberapa menit kemudian Aglaia sudah menghambur ke pelukan Glaucon.

“Wujud Pan sangat mengerikan, belum lagi suaranya menggelegar, membuat ternak ketakutan dan berlari ke segala arah. Tapi, Glaucon sama sekali tidak takut karena Pan adalah dewa ternak yang punya klewajiban untuk mengabulkan doa para gembala yang baik. Ia selalu menjalankan kewajibannya seberat apa pun itu. Jika Glaucon bukan gembala yang baik, entah apa yang terjadi pada dirinya dan Aglaia. Namun, ketika Glaucon memohon kepada Pan untuk pergi meninggalkan mereka dan tidak pernah menggangyu Aglaia lagi, Pan terpaksa pergi meski sambil menggerutu dengan suara yang menyeramkan. Namun yang penting, Pan sudah meninggalkan mereka.

“’Nah sayangku, ada masalah apa sebenarnya?’ tanya Glaucon. Aglaia pun menceritakan kejadian yang dialaminya.

“’Tapi, dimana batu yang indah itu?’ tanya Glaucon, saat cerita Aglaia selesai. ‘Kau tidak menajtuhkannya saat berlari ketakutan tadi bukan?’

“Tidak, Aglaia sama sekali tidak menjatuhkannya. Saat ia mulai berlari, ia memasukkannya ke dalam mulutnyab dan benda itu  masih berada di sana dalam keadaan aman. Lalu, ia mengeluarkan batu itu disela bibir merahnya. Batu itu berkilauan ditimpa sinar matahari.

“’Ambillah,’ bisik Aglaia.

“Pertanyaannya adalah, bagaimana cara Glaucon mengambilnya? Kedua tangan Aglaia saat itu berada dalam dekapan Glaucon, dan jika Glaucon melepaskannya pria itu takut Aglaia akan jatuh karena tubuhnya begitu lemah dan gemetaran karena takut. Lalu, Glaucon menemukan gagasan yang cemerlang. Ia akan mengambil batu indah itu dari bibir Aglaia dengan bibirnya.

“Ia pun merunduk  hingga bibirnya menyentuh bibir Aglaia. Glaucon pun melupakan batu indah itu, begitu pula Aglaia. Ciuman pun ditemukan!”

Dikutip dari The Story Girl, versi terjemahan oleh Bentang Pustaka, Bab 18 halaman 184-188.

pict source : multiply.com

The Story Girl adalah sebuah novel yang ditulis oleh Lucy M. Montgomery. Ia adalah penulis yang juga merilis karya klasik legendaris Anne of Green Gables. Di bagian biografi pengarang yanga ada di novel ini juga dijelaskan bahwa novel ini adalah favorit dari Montgomery karena karakter Sara Stanley a.k.a The Story Girl adalah karakter yang memiliki kesamaan dengan pribadi Montgomery sendiri. Ditulis di tahun 1911, The Story Girl memiliki sekuel dengan judul The golden Road.

The Story Girl dituturkan melalui sudut pandang orang pertama tunggal, Beverly King, seorang anak laki-laki berusia 13 tahun. Ia dan adiknya yang gemuk, Felix King, harus melewatkan satu musim tinggal di rumah tua keluarga King di Carlisle,  Pulau Prince Edward, Kanada. Hal ini dikarenakan ayah mereka harus bekerja di Rio de Jenairo dan ibu mereka telah lama meninggal saat mereka bahkan belum mampu untuk mengingat wajahnya.

Di rumah tua keluarga King tinggal Paman mereka Alec, dan istrinya Janet. Mereka memiliki tiga orang anak. Yang sulung laki-laki bernama Donald King, sebaya dengan Beverly. Ia adalah anak laki-laki dengan karakteristik umum, bandel, keras kepala  namun memiliki pikiran yang sangat logis dan praktis.  Adiknya Felicity King, berusia 12 tahun, adalah gadis cantik yang sadar betul akan kecantikannya. Sedikit angkuh namun Felicity adalah koki yang paling hebat di antara mereka dan sangat menyukai pekerjaan rumah tangga. Terakhir si bungsu Cecile King, gadis 11 tahun yang pemalu dan religius. Ia rutin berdoa dan menabung jajannya untuk disumbang ke badan amal dan aktifitas gereja. Ia terlihat lemah namun di saat kritis sesungguhnya Cecile lah yang paling tegar dan dapat diandalkan.

Selain 3  bersaudara putra putri Alec dan Janet King, ada Peter. Pekerja  upahan yang membantu paman mereka, Roger King, untuk melakukan berbagai pekerjaan di rumah dan lahan pertanian. Ia pemuda 14 tahun yang  tampan dan berkharisma. Meskipun setiap hari ia harus bekerja membanting tulang di ladang dan mengenakan pakaian kumal dan celana bertambal serta berkeliaran tanpa alas kaki, Montgomery mendeskripsikan Peter sebagai anak laki-laki yang cerdas dan kritis. Ia adalah salah satu karakter yang saya sukai mengingat sifatnya yang terkadang kritis tapi dalam sekejap ia bisa menjadi seseorang yang mistis dan mempercayai eksistensi sihir. Peter adalah anak laki-laki yang menghadapi pilihan dilematis dalam hidupnya. Dalam The Story Girl diceritakan bahwa  Peter bingung harus menganut aliran Kristen apa, presbiterian datau metodist, sampai akhirnya ia keceplosan  berkata bahwa ia memilih presbiterian agar bida masuk surga yang sama dengan teman-temannya sehari sebelum isu kiamat terjadi.

Another character adalah Sara Ray. Gadis ini merupakan alasan mengapa ada nama julukan The Story Girl untuk Sara Stanley. Sara Ray adalah gadis 11 tahun sahabat Cecile. Sama halnya dengan Cecile, Sara Ray adalah gadis pemalu dan religius. Namun ia sedikit paranoid dan cengeng. Hobinya adalah cemas dan menangis sehingga beberapa diantara King bersaudara sangat sebal jika Sara Ray sudah mulai menunjukkan tanda-tanda melankolis.

Terakhir, Adalaha Sara Stanley, The Story Girl. Julukan itu bermula dari adanya dua Sara dalam lingkungan anak-anak Carlisle. Sara Ray dan Sara Stanley. Agar tidak canggung dan menghindari salah panggil, Sara Stanley dipanggil dengan julukannya, The Story Girl. Ia menyukainya karena ia sendiri sepertinya tidak menyukai nama Sara Stanley. Gadis ini sangat unik dan mempesona. Ia gemar bercerita dan mendongeng dengan penghayatan luar biasa. Suaranya indah  dan membuat setiap orang yang mendengarkannya terhipnotis dengan jalinan cerita serta karakter yang muncul di dalamnya. Selagi mendongeng, The Story Girl bisa menjadi karakter apa pun dalam ceritanya,  hantu keluarga King, ular berbisa bahkan putri raja.  Kehebatan The Story Girl sudah terkenal di seantero Carlisle dan keluarga King dimana pun mereka berada.

Novel The Story Girl adalah kisah tentang anak-anak biasa dengan imajinasi luar biasa.  Meskipun buku ini adalah buku anak-anak, saya rasa anak belasan tahun tidak akan mudah mencerna ceritanya. Saya menemukan banyak humor cerdas di dalamnya. Baik itu melalui narasi Beverly, maupun dari kisah-kisah yang dituturkan Sara Stanley, The Story Girl. Kepolosan dan kenaifan anak-anak dalam memandang berbagai hal di dunia ini ditulis dengan jenaka dan cerdas oleh Montgomery. Saya gemas membaca pertanyaan-pertanyaan Peter mengenai  perbedaan Presbiterian dan Metodist, pandangan anak-anak ini mengenai surga dan apa yang terjadi di dalamnya, sistem kelas dalam masyarakat, seksualitas dan bagaimanakah rupanya kematian itu.  Melalui pola pikir kanak-kanak, topik ‘berat’ ini jadi terasa lucu dan menghibur. Bukan sesuatu yang mesti kita bahas secara ilmiah, tapi pandangan polos mereka membuat  kita tersentil dengan rumitnya dunia  yang kita tinggali ini.

Di Indonesia, novel ini diterbitkan oleh Bentang Pustaka dan Gramedia Pustaka. Novel yang saya miliki adalah versi Bentang Pustaka. Covernya kurang menarik sebenarnya, dan setelah membaca keseluruhan isi buku, saya jadi bertanya-tanya siapa pria kulit hitam yang ada di cover novel ini? Karena di dalam novelnya tidak ada memunculkan karakter kulit hitam, hahaha. Tapi terjemahannya lumayan enak dibaca, meski di beberapa paragraf saya menemukan kata-kata dan kalimat yang membuat saya mengernyitkan kening saat membaca.

Lucy Maud Montgomery, atau yang lebih dikenal sebagai LM Montgomery, pict source factfictionandeverything.blogspot.com

 Happy Reading ^^/

Tidak ada komentar:

Posting Komentar