Selasa, 15 Januari 2013

Best Spots To Shoot in West Sumatera (So Far)... Part 2

Objek wisata di Sumatera Barat kebanyakan belum terlalu dikenal banyak orang. Mungkin Mentawai dan Sikuai telah diakui memiliki pesona dan menjerat hati banyak wisatawan manca negara, Bukittinggi menjadi must visit place oleh pelancong dalam dan luar negeri. Tapi dari sedemikian banyaknya objek wisata bertebaran di setiap Kabupaten dan Kotamadya, belum berhasil mengangkat nama Sumatera Barat sebagai salah satu destinasi pariwisata favorit di Indonesia. Most people akan memilih mengunjungi Bali, Jogjakarta, Bandung, Jakarta, Lombok etc. Tapi coba tanya mereka objek wisata di Sumatera Barat? 

Teman-teman saya yang saya tawarkan untuk mengunjungi Sumatera Barat kebanyakan akan bertanya, "Apa yang mau kulihat disana?". Lalu akan saya jawab dan terangkan satu-persatu. Kemudian mereka akan mengakhirinya dengan kalimat, "kau bisa jamin nggak bakal bosan aku disana?". Bah, kalau ini saya nggak tahu musti jawab gimana. 

Beberapa orang berwisata dengan tujuan berbeda. Ada yang menikmati alam, kebudayaan, interaksi sosial dan hal-hal di luar shopping dan kongkow. Posting ini saya tulis dengan tujuan memperkenalkan daerah-daerah pariwisata Sumatera Barat yang sudah saya kunjungi. Menjawab pertanyaan terakhir para sahabat, kalau saya pastinya tidak akan bosan. Karena banyak objek wisata di Sumatera Barat bahkan di kampung halaman saya sendiri saya belum tahu. 

Kali ini saya akan menampilkan dua pantai paling famous di Padang sana. Bukan Pantai Padang bin Taplau (Tapi Lauik -Tepi Laut). karena disana sudah penuh dengan penjaja jagung bakar dan lama-kelamaan kok kayaknya pantainya makin tinggi dan dekat dengan daratan. Saya sudah tidak menemukan pantai berpasir di belakang rumah nenek saya di Ujung Pandan yang biasanya jadi tempat bermain saya dan sepupu-sepupu kalau liburan. Jadi pantai yang akan menjadi the next spots to shoot in West Sumatera adalah Pantai Carolina dan Pantai Air Manis.

Ikhwal saya bermain ke dua pantai yang lokasinya tidak terlalu berjauhan ini adalah saat berencana berplesir ke pulau Sikuai bersama teman saya, Lucya. rencana ke Sikuai ini sudah ada sejak bertahun-tahun saat kuliah. Sebenarnya kami ingin ke Mentawai. Hanya saja orang tua melarang keras. entah untuk alasan apa. 

Sialnya kami gagal menyeberang ke Sikuai karena tidak ada armada yang melayani rute tersebut dengan alasan macam-macam. Salah satunya karena Sikuai sedang tidak dibuka untuk umum alias sudah di booking. Alasan lainnya karena resort Sikuai lagi dalam sengketa. Ini terjadi Lebaran 2012 lalu.

Karena nggak mau perjalanan 3 jam dari Batusangkar sia-sia, kami memutuskan untuk mencari cara lain. Akhirnya kami mencari-cari cara lain untuk tetap bisa menyeberang ke Sikuai. Kami pun berkendara menyusuri pesisir mencari akses namun gagal. Kami terdampar di Pelabuhan UPT Bungus. Teman saya sudah bete maha dewa. Saya juga sebenarnya. Tapi apa mau dikata. Sambil menghabiskan kejengkelan saya ngajak teman berfoto-foto di dermaga tersebut. 


1

2

Setelah mood membaik, kami memutuskan untuk menuju Pantai Caroline, karena dari UPT Bungus jarak ke caroline sudah cukup dekat.

Terakhir kali saya ke Pantai Caroline adalah saat darmawisata kelulusan SMP tahun 2003 ! Dulu pengalaman ke pantai ini kurang menyenangkan. Jauh nian. Karena kami menuju Pantai Caroline setelah dari objek wisata apa namanya saya lupa di Solok sana. Udah gitu sampai disananya pantai semak oleh pengunjung (kebanyakan juga rombongan jalan-jalan kelulusan SMP dan SD). Saya jadi kurang menikmati suasana. Yang tidak saya duga adalah ternyata pantainya berpasir putih dan bersih. Disana-sini banyak pedagang makanan memang. tapi mereka cuku[ tertib dan menjaga kebersihan wilayah dagangan mereka masing-masing. Jadinya saya cukup excited buat foto-foto narsis disini.

Karena saat itu adalah dalam masa libur Lebaran, wajar kalau banyak pengunjung. jadi saya mengajak teman untuk menyeberang ke pulau kecil tak jauh dari pantai. Biaya sewa perahu menuju pulau kecil tersebut PP adalah Rp 50000 kalo nggak salah. Dan ternyata pilihan kami nggak salah, di pulau kecil yang namanya Pulau Kasiak Putiah (Pulau Pasir Putih) kalo nggak salah nih lebih adem dan alami. karena tidak terlalu banyak umat pelancong, kami jadi bebas berlarian dan bermain. Ada sih pedagang yang buka lapak tapi cuman 1 ato 2 gitu. Yang dijual ya pop mie dan minuman. Tapi nggak apa lah, mereka juga yang berjaga-jaga buat keselamatan pengunjung pulau kecil itu. 

1
2
3
Objek foto asyik disini adalah pantai dengan pasir putih merona cokelat ke-pink-an dengan latar belakang mercusuar. Seperti berada dimanaaaaaa gitu. Air lautnya pun jernih dan sejuk. Pokoknya masih asri deh, walau lokasi pantai ini nggak jauh-jauh amat dari pelabuhan dan puluhan kapal berbagai ukuran melintasinya setiap hari.

Puas di Pantai Caroline, kami memutuskan untuk menuju Pantai Air Manis. Ini sih obsesi saya yang belum pernah mengunjungi Pantai yang terkenal berkat legenda Malin Kundang ini. Dari Pantai caroline, perjalanan menuju Pantai Air Manis adalah lebih kurang 20 menit. Jalan yang dilalui cukup terjal dengan banyaknya tanjakan dan tikungan curam dimana bukit mengapit dan jurang menanti. tapi jangan tutup mata. Pemandangan selama perjalanan ini benar-benar fantastis. Pemandangan teluk-teluk dengan laut biru jernih dan pulau-pulau kecil benar-benar memanjakan mata. 

Menuju Pantai Air Manis, kita dihadapkan dengan jalan menanjak yang kadang cukup ekstrem.  Kiri kanan banyak pemuda setempat yang standby, khususnya di tikungan tajam, untuk memandu kendaraan-kendaraan yang lewat. Kalau  merasa terbantu, tidak ada salahnya memberi mereka selembar dua lembar ribuan lho. 

Lepas dari jalan ekstrem, kita memasuki dataran yang landai dan jalan berlobang. Beberapa menit kemudian kita akan disambut deretan pohon pinus tinggi. Owowo, ini pantai? Yap! selamat datang di Pantai Air Manis. The Place Where The Legend of Malin Kundang born.

Sanking landainya, kita bisa nyetir di pantai ini tanpa takut ban mobil terperosok pasir. My Friend Lucya di Pantai Air Manis, barisan pinus dibelakangnya.

Jembatan yang melintasi sebuah sungai kecil di pantai ini. Tak jauh dari jembatan ini adalah batu Malin Kundang. Hanya saja saat kami datang, batu tersebut lagi dikerubungi ratusan orang. Setelah melihat sekilas, kami putuskan untuk tidak berfoto disana. Kasihan di Malin udah jadi batu didudukin dan ditunggangi pegunjung pantai yang sering disebut-sebut Pantai Kuta-nya Padang.

Berbeda dengan pantai Caroline, pantai Air Manis sayangnya agak-agak jorok. pasirnya tiak putih, tapi hitam kecokelatan. Sampah masih sering ditemukan. Padahal pantai ini punya daya tarik sebagai tempat latihan surfing bagi pemula karena ombaknya kurang ganas. Selain Surfing, ada juga sih banana boat, tapi yang paling menarik adalah paralayang. 

lanskap Pantai Air Manis. Gambar saya comot dari situs www.pantai.org


Happy Hunting & Traveling ^^/


Minggu, 13 Januari 2013

Best Spots To Shoot In West Sumatera (So far ...) Part 1

Sebagai perantau yang budiman, saya baru menyadari kalo kampung halaman saya punya potensi wisata yang bagus justeru setelah saya tinggal di daerah lain. 

Ini terjadi setelah saya yang pulang kampung untuk pertama kalinya setelah merantau dan karena boring di rumah terus akhirnya memutuskan untuk menjelajah beberapa tempat di Sumatera Barat. Belum semua tempat eksotis yang saya jelajahi sih. Tapi lumayan lah untuk dibagi-bagi di blog ini. Khususnya buat kawan-kawan yang ada minat untuk berwisata ke Sumatera Barat.

Ok, kali ini saya mulai dengan lokasi yang dekat dengan rumah saya, Batusangkar.

1. Gedung Nasional
Ini adalah salah satu landmark kota Batusangkar. Dulu gedung ini bisa dibilang pusat segala event di kota kecil ini. Baru beberapa tahun yang lalu gedung ini mulai direnovasi, dan sekarang sudah jadi, menjadi lebih modern tanpa meninggalkan ciri khas Minangkabau. 

Pict source antarasumbar

Saya dan teman-teman mungkin ga hobby berfoto dengan latar segede ini, tapi kami suka duduk-duduk di gedung yang kalo g dipake sangat senyap ini sambil foto-foto narsis.

1
2
enaknya duduk-duduk sore disini adalah selain udara yang enak, plus nggak bising, bisa sambil menikmati burung bangau yang entah berapa ratus ekor menghuni pohon beringin tua yang tak jauh dari gedung ini. Ibaratnya macem di kolam burung Cemara Asri kalo di Medan. Tapi ini pohon Burung, hehe. Sayang lensa kamera nggak memadai. Walau udah beberapa kali mencoba, saya gagal mendapat gambar bangau bermanuver di atas pohon beringin tua tersebut.

2. Gedung Indo Jolito dan Lapangan Cindua Mato
Gedung Indo Jolito adalah gedung bekas peninggalan kolonial Belanda pada jaman perang Paderi. Dulunya gedung ini adalah rumah tinggal Van Der Capellen, petinggi Belanda di masa itu. Lokasinya tidak jauh dari Benteng yang dinamai Fort Van Der Capellen.  Bentengnya sendiri dulu difungsikan sebagai markas kepolisian, tapi sekarang bangunan tersebut difungsikan sebagai bangunan pusat informasi pariwisata Kabupaten Tanah Datar. 
Gedung Indo Jolito sekarang berfungsi sebagai rumah dinas Bupati Kabupaten Tanah Datar. Jadi ini bukan sembarangan area yang bisa dimasuki wisatawan, baik itu lokal sekalipun (seperti saya haha). Setelah puas foto-foto di Gedung Nasional, saya dan teman saya melanjutkan foto-foto di sekitar lapangan Cindua Mato. Setelah agak beranjak gelap, kami mampir ke Gedung Indo Jolito.

Lapangan Cindua Mato kala senja ^^
Ini kalo siang...
Ini kalo malam haha. Nah, jika kamu jeli maka di belakang gadis di foto ini tampak pohon besar dengan bintil putih. Itu bukan bunga, tapi gerombolan Bangau putih yang emang bersarang disana. Pohon tersebut adalah pohon beringin tua yang menurut saya salah satu icon kota ini. ^^

My Friend, Honesty (akhirnya saya perkenalkan ), di depan Gedung Indo Jolito.

Gedung Indo Jolito. Gambar ini saya ambil sekitar pukul 18.30-an karena emang sayup-sayup adzan Magrib udah terdengar. Terlihat cantik dari pada biasanya saya lihat hampir seperempat abad hidup :p

3. Istano Basa Pagaruyuang 
Nah, ini adalah objek wisata sejuta umat yang berkunjung ke Kabupaten Tanah Datar dan Sumatera Barat. Setelah sempat 3 kali terbakar habis ( kali pertama karena kerusuhan di tahun 1804, lalu dibangun lagi dan kembali terbakar di tahun 1966, dibangun lagi, dan kebakaran lagi deh tahun 2007 dan dibangun ulang dengan tata cara yang sama dengan pembangunan istano sebelumnya).

My Friend, Lucya, di depan Istano Pagaruyuang. 

Ini mungkin tiodak terlihat di istano, tapi ini masih di kawasan Istano ^^. Komplek Istano cukup luas. Selain terdiri memiliki bangunan tambahan berupa rangkiang, dapua, surau dll, di belakang istano terdapat kolam dan lapangan yang cukup luas. Lokasi Istano sendiri pas di depan perbukitan. Jadi kalau habis hujan pemandangan bukit berkabut sangat cakep buat jadi background foto hehe.
Foto ini masih saya ambil di belakang Istano. Sebagai orang lokal yang dari kecil sudah melihat bangunan tersebut, saya tidak begitu excited kalau musti berkunjung kesana sering-sering. Spot favorit saya bukan di depan bangunan utama yang kadang semak oleh penjual makanan dan snack. Saya lebih sering membawa teman-teman ke lapangan di belakangnya untuk bersantai dan melihat pemandangan perbukitan dan Istano di depan kami.

Di Istano ini juga disewakan pakaian tradisional Minangkabau. Dengan Rp 30000 kamu bisa foto-foto suka hati pake kamera sendiri. Tapi kalo kamera kamu nggak memadai kamu bisa minta difotoin dengan biaya tambahan tentunya. Biasanya dengan Rp 50000 dapat foto 1 biji buat dicetak. Foto di atas adalah my friend Friska Sagala. Dia adalah kawan di Medan nomer 3 yang berhasil saya bujuk buat berwisata ke kampung halaman saya ^^.

FYI, angkutan umum ke lokasi ini sangat jarang. Ada sih angkot putih Indomo, hanya saja jam operasinya sulit dipastikan. Cara cepat menuju Istano adalah dengan Ojek dari Pasar Batusangkar dengan tarif sekali jalan Rp 4000-5000. Kalo kamu rame-rame sama teman, mending carter Bendi bin kereta kuda, delman, andong etc. Sekali jalan tarifnya Rp 50000-Rp 40000. Namun kalo dicarter pulang-pergi bisa dapat harga Rp 60000 atau Rp 70000. Pinter-pinter nawar deh. Namun, kalo nggak bawa kendaraan pribadi, usahakan jam berwisata kamu selesai sebelum pukul 18.00 karena nantinya tidak ada ojek dan bendi beroperasi sama sekali. (saya sudah sering mengalami yang begini, sampe-sampe pulangnya diantar sama pemuda setempat yang nongkrong di depan Istano =) )

My lil bro dan salah satu sepupu kecil saya di depan Istano yang belum sepenuhnya selesai renovasinya. gambar ini diambil tahun lalu kayaknya deh...


4. Rumah Tuo Balimbiang
Saya kurang tau sejarah bangunan ini. tapi dari info yang saya dapat ini adalah bangunan paling tua di Tanah Datar yang masih berdiri kokoh. Konon usianya lebih dari 300 tahun dan dibangun tanpa menggunakan paku sama sekali. Memasuki rumah tua ini tidak dipungut biaya sama sekali (entah kalo hari libur besar seperti saat Idul Fitri ya). Namun yang pasti memasuki bangunan ini wajib hati-hati berhubung ini adalah bangunan tua.
Pertama kali saya mendatangi bangunan ini adalah karena diminta untuk bikin foto post-wedding sahabat abang saya. Dengan skill seadanya saya memotret mereka di bangunan tua ini.
1
2
3

berhubung saya dari sononya ga hobby foto landscape, image full rumah gadang tua bersejarah ini pun saya comot dari situs griyawisata


5. Puncak Pass & Danau Singkarak
Bagian terakhir dari post untuk kali ini adalah Danau Singkarak yang dinikmati dari ketinggian, yaitu dari Puncak Pass. Danau Singkarak mulai makin terkenal namanya setelah adanya event akbar tahunan, Tour De Singkarak. Event ini sukses menyedot wisatawan lokal dan mancanegara mengunjungi wilayah-wilayah eksotis di Sumatera Barat, khususnya Danau Singkarak. 
Puncak Pass berada di Nagari Padang Luar (lebih kurang 15 KM dari kota Batusangkar dan lagi-lagi nggak ada angkutan umum kesini). Jalan menuju lokasi ini bisa dibilang berliku-liku dan mananjak (kadang curam). 
Jika saya pulang kampung, Puncak Pass selalu ada dalam rute jalan-jalan lenje saya. Nggak pernah bosan deh kongkow disini. 

Jika ke Puncak Pass, jangan cuman nongkrong di pinggir jalannya. Spot berfoto asyik justru ada di lereng perbukitan puncak pass ini. Rumput-rumput liar setinggi nyaris setengah badan orang dewasa, pohon-pohonnya bikin adem dan eksotis. 

rumput liar, sahabat banci foto nan romantis kekeke

Me in puncak Pass... =)

And again, jeleknya kebiasaan sayah adalah jarang ambil foto landscape. Karena memang lebih doyan foto narsis. 

Setidaknya gambar ini sedikit mewakili pemandangan Singkarak dari atas Puncak Pass =)

Me with my Lil Sis dan kakak Sepupu =)

Puas foto-foto di Puncak Pass ayo turun ke danau buat ningkrong di rel kereta api (gyagaggagga) di dekat jembatan Ombilin, atau..

ke Tanjung Mutiara. Salah satu areal wisata di pinggiran Danau Singkarak.

Habis foto-foto ayo belanja oleh-oleh khas Danau Singkarak, ikan bilih =)


Happy Hunting and Traveling ^^/



























Sabtu, 12 Januari 2013

Meet My Cosplayer Friend; Michitsuna Hime

Sebagai mahasiswi Departemen Sastra Jepang, saya tentunya akrab dengan kultur pop Jepang. Baik itu melalui apa yang saya baca di buku, majalah dan artikel internet mau pun yang saya alami sendiri sehari-hari seperti Cosplay, Manga, Anime dan Harajuku-style yang macem-macem jenisnya.

Michitsuna is my junior. Tapi secara umur kami tidak terpaut jauh. Karena sebenarnya Michitsuna pun lulusan SMA tahun 2006 sama seperti saya. 

Kami pertama kali akrab saat sama-sama menjadi panitia Bunkasai USU 2008. Dalam rangka memperingati persahabatan Indonesia-Jepang yang ke 50 tahun, maka diadakanlah Bunkasai pertama di Medan yang meriah selama 3 hari (entah meriah atau tidak, penilaian pengunjung berbeda hehe). Saya merekrutnya sebagai anggota tim dekorasi. Karena dia pintar menggambar dan sepertinya doyan craft. Hanya saja tampangnya sebagai mahasiswi baru boleh dibilang sangar dan tidak bersahabat. Setiap kali ketemu mukanya masam dengan gaya yang rada-rada boyish. Saya sampe minta bantuan another kouhai buat menyampaikan niat hati.

Tapi rupanya lain di muka lain di tindakan. Setelah kenal dan mulai membaur dalam kegiatan orangnya ternyata friendly dan baek bin murah hati sangat. 

Michitsuna adalah salah satu cosplayer sepuh di Medan saya rasa. Mungkin sebelumnya sudah ada cosplayer, tapi saya jarang melihat cosplayer seperti Michitsuna yang mengerjakan sebagian besar propertinya sendiri. Mulai dari weapons, costumes dan aksesoris. Saya banyak belajar dari teman yang satu ini mengenai crafts dan sewing (belum termasuk menggunakan mesin jahit -___-). 

So, let me Introduce you to Michitsuna =)

Photo by Hunn, editied by Me =)

A session on her rooftop , Photo and edited by Me

An old event... She played as Ciel from 'Kuroshitsuji' 

With other Cosplayer friend.. Kana & Cypher Kyuuto 






How Are You, Yudith & Noni ?

Yudith X Noni 3

Sudah memasuki 2013. Sudah mendekati deadline yang seharusnya. Apa kabar ya duo Yudith dan Noni di tangan Miss Sari Hati? Sepertinya saya harus nyamperin kos-nya dan menagih tulisan yang tertunda padanya dan pada diri saya sendiri (hahaha).

Sudah lama ga nyentuh kertas dan pinsil. Sudah lama nggak make photoshop buat edit gambar. Gambar di atas dibikin akhir tahun lalu, tapi baru awal tahun ini disentuh lagi. Sepertinya saya harus mengurangi nonton pelem dan nonton TV. Kembali ke kertas dan pinsil dan pena. 

Sabtu, 05 Januari 2013

1986: YOUNGBLOOD

movie poster yang menampilkan dua aktor utamanya, Rob Lowe dan Patrick Swayze. Pict source allmovie.com

Coming of age adalah salah satu genre dalam karya sastra dan movie yang berarti tema mengenai transisi dari anak-anak ke dewasa. Genre ini banyak ditemukan di berbagai novel dan movie popular. Tidak pernah lekang dimakan waktu, karena tema seperti ini bahkan secara tidak sadar banyak dijadikan pondasi cerita oleh penulis muda. Masa transisi dari seorang anak-anak menjadi seorang dewasa tentunya menimbulkan berbagai problematika. Tidak ketinggalan intrik-intrik yang melingkupi lingkungan pergaulan dengan sahabat, kekasih dan keluarga.

Youngblood adalah film dengan tema sport and coming of age yang dirilis di tahun 1986. Tahun dimana saya saja belum lahir. Tapi sebagai generasi 80-an saya merasa terhubung karena musisi favorit saya waktu SMP adalah Bon Jovi dan lagu-lagu Bon Jovi yang saya suka rata-rata dirilis di tahun 1980-an. Oh ya, album yang membuat nama Bon Jovi melambung di seluruh dunia juga dirilis tahun 1986, Slippery When Wet. Ok, kembali ke Youngblood.

Dalam beberapa bulan belakangan saya sedikit katakanlah terobsesi dengan film jadul. Saya mencoba membeli DVD bajakan (yaaa, saya tau itu salah haha) Ghost yang fenomenal tapi gagal bermain di DVD player laptop sahabat yang saya pinjam. Kali berikut saya membeli Breakfast at Tiffany dan juga gagal beroperasi. Saya juga tergila-gila pada lagu yang mengiringi dance Patrick Swayze dengan Jennifer Grey dalam film Dirty Dancing. Sampai sekarang that song sticks to my eternal playlist just like Across the Universe. Banyak daftar film jadul yang ingin saya tonton, tapi benar-benar sukar menemukan akses menonton murah meriah Risky Business, Flashdance, etc. 
Liburan tahun baru di kampung halaman adalah liburan dalam arti sebenarnya. Benar-benar meliburkan diri dari aktivitas manusia beradab. Makan sesuka hati, bangun tidur tidak pernah pagi, tidur selalu lewat pukul 00.00 WIB dini hari dan kerjaan paling saya sukai adalah nonton TV. Fasilitas bermalas-malasan di rumah sangat lengkap. Akses internet gratis 24 jam dan TV berlangganan, walau bukan paket premium. Di sela-sela ke-lenjean saya sehabis pulang menghadiri resepsi pernikahan seorang kawan SMP saya tidak sengaja memencet channel MGM. Saluran MGM adalah saluran milik rumah produksi legendaris yang Metro Goldwyn Meyer. Dan saluran ini all the time memutar film-film jadul keluaran studio ini. Kebanyakan adalah film-film tahun 80-an. Dan saya beruntung menemukan film yang cukup meanrik karena ada Patrick Swayze di dalamnya, YOUNGBLOOD. 
Official poster. Khas tahun 80-an. Mengingatkan saya akan ilustrasi cerpen di majalah Anita dan Aneka Yess tahun 90-an. Pictsource http://movieart.net/

Kisah di film ini klise dan yeah plot pasaran. Banyak beredar di mana-mana. Kisah masa muda yang berapi-api dan pencarian jati diri dibalut dengan olah raga hockey yang full kekerasan. Judul film ini, Youngblood, diambil dari nama karakter utama Dean Youngblood. Film ini mengikuti perjalanan Youngblood meninggalkan tanah pertanian keluarganya untuk mengejar mimpinya menjadi pemain hockey profesional. Ia kemudian bergabung dengan Hamilton Mustangs setelah lolos try out. 

Menjadi seorang pemain hockey pro di usia muda, 17 tahun, adalah tantangan terbesar bagi Youngblood. Ia kerap menjadi korban lelucon teman satu tim dan tindak kekerasan di lapangan.Upayanya untuk bertahan di dalam tim dan berusaha mendapat posisi di tiap game bisa dibilang cukup alot. Walau dinilai gesit dan cakap, tapi ia lemah dalam hal pertahanan fisik. Hockey bukan olahraga gentlemen dimana para pemain saling menghormati dan bericara sopan. Yang ada hanya saling sikut, saling menjatuhkan dan bagaimana caranya agar lawan cidera dan dikeluarkan dari lapangan, kalau perlu untuk selamanya.

Youngblood juga jatuh cinta pada putri satu-satunya sang pelatih, Jessie. Namun sepertinya si pelatih kurang menyukai hal ini sehingga Youngblood merasa si pelatih jadi punya sentimen pribadi terhadapnya.

Cynthia Gibb, pemeran Jessie Chadwick. Dia terlihat sangat mirip dengan Emma Watson di poster ini.  Pictsource movielad-subdirectory.blogspot.com

Keadaan mulai terasa sedikit menyenangkan saat Youngblood sudah diterima oleh anggota tim lain dan mendapat simpati sang kapten tim, Derek Sutton. Sutton dimainkan oleh Patrick Swayze. Karakter dari pria ini adalah seorang pemimpim yang dihormati dan dikagumi anggota timnya. Tapi ia juga pemimpim yang baik dalam gerakan jahiliyah terhadap Youngblood saat pertama kali resmi bergabung dalam tim.


 He looks like Orlando Bloom in this pict . Source cineplex.com

Dan yang benar-benar menjadi kejutan saat saya menonton fiilm ini adalah KEANU REEVES! Ya, dia bermain sebagai salah satu pemain hockey Hamilton Mustangs. Walau kurang menonjol tapi wajahnya yang familiar langsung membuat saya "WOhoooo, siapa bocah lugu itu?".

Wajah khas Keanu, east meets west. Di usia semuda ini dia terlihat lebih oriental. sedikit mengingatkan saya pada aktor korea Rain yang bermain di Ninja Assasin, tapi versi lugu dan bodoh di drama Full House. Pictsource my.opera.com

Apalagi yang ini... ^^ pictsource listal.com

Walaupun cukup menyenangkan untuk ditonton, tapi Youngblood jelas tidak menjadi film coming of age yang istimewa. Muatan kekerasan lebih ditonjolkan di film ini. Apalagi film ini juga secara terang-terangan menyarankan penyelesaian masalah lewat jalan kekerasan. Padahal ini adalah film yang bersettingkan olahraga hockey dimana seharusnya sportifitas lebih diutamakan.

Plot standar mengenai pejuang pria yang dikalahkan pertama kali, kemudian mencari ilmu dengan meninggalkan zona amannya. Mendapat petuah dan jurus baru. Lalu kembali menantang musuh. Diakhiri dengan kemenangan dimana ia mendapat trofi berupa Piala turnamen dan kekasih yang cantik. Adegan dimana setelah Youngblood berhasil membawa Mustangs memperoleh kemenangan, Youngblood menantang berkelahi one-on-one musuh bebuyutannya, Racki, menjadi cacat dari film ini. Tidak cukupkah Youngblood mempermalukan Racki dengan memenangkan pertandingan? Mengapa harus melanjutkannya dengan pertarungan fisik ditengah lapangan hockey dengan ditonton banyak orang?

Singkat cerita film ini jelek dari kualitas cerita, tapi cukup yummy untuk para perempuan karena eye candy bin fan service bertebaran dimana-mana. Mereka mungkin sudah menjadi aktor gaek, tapi di film inii mereka masih sangat muda dan gagah, haha. Selain itu buat yang menyukai segala sesuatu berbau era 80-an mungkin akan menyenangkan untuk reuni-an dengan musik dan style yang ada di film ini.

Pictsource www.listal.com

Rob Lowe (pemeran Dean Youngblood) mungkin adalah bintang di film ini. Tapi setelah itu justru sepertinya karir Patrick Swayze dan Keanu Reeves yang lebih melejit. Patrick Swayze menjadi idola setelah perannya sebagai instruktur tari dalam Dirty Dancing dan sedihnya meninggal karena kanker pankreas di tahun 2009. Keanu Reeves konsisten berakting hingga sekarang.

So, What are you waiting for. Come on pretty Boy ! ^^






Kamis, 03 Januari 2013

Montase, A New Novel By Windry Ramadhina



First Post for 2013 !




Dalam blognya, Windry Ramadhina menuliskan bahwa ia akan segera menerbitkan novel terbaru setelah Memori dengan judul Sakura Haru. Reaksi saya ketika pertama kali membaca hal itu adalah, “Oke, saya tidak perlu menunggu selama saya menunggu Memori diterbitkan  selang 4 tahun setelah Orange.” Sangat menyenangkan mengetahui ahwa penulis favorit anda lagi produktif.  Hal ini berarti anda memilki list must buy books. Tentunya tidak akan kebingungan saat ke toko tidak menemukan buku yang menggugah selera membaca anda. ^^

Akhirnya, seminggu yang lalu saya menemukan noovel tersebut. Hanya saja judulnya bukan lagi Sakura Haru. Dalam blognya Windry menginformasikan bahwa novel tersebut telah selesai proses editing dan judulnya berubah menjadi Montase. Sebuah keputusan tepat menurut saya karena menempatkan Montase sebagai judul sesuai dengan kebiasaan Windry menamai novelnya dengan satu kata saja, Orange, Metropolis dan Memori and then Montase. Montase berasal dari kata Montage. Sebuah istilah di dunia perfilman yang berarti  sebagai berikut menurut Wikipedia =)


Montage pron.: /mɒnˈtɑːʒ/ is a technique in film editing in which a series of short shots are edited into a sequence to condense space, time, and information.


Terjemahan bebasnya, montage atau dalam istilah Indonesianya montase, adalah salah satu teknik editing film dimana beberapa  adegan/klip /gambar pendek yang disatukan untuk mempersingkat ruang, waktu dan informasi. Kalau saya menerjemahkannya mungkin seperti kebanyakan adegan pembukaan disebuah film (mungkin seperti adegan pembuka (500) Days of Summer ) dimana seringkali kita dibawa melihat-lihat latar ruang dan waktu cerita agar mendapat informasi sebelum masuk ke cerita utama dan aktor dan aktrisnya mulai ber-drama ria.


Latar dari kisah yang dibangun Windry kali ini adalah dunia mahasiswa perfilman  Institut Kesenian Jakarta.  Two thums up untuk Windry yang berhasil menyajikan detail kehidupan mahasiswa seni yang eksentrik dan idealis . Jika sebelumnya tokoh utama dalam kisah Windry adalah perempuan , a  photographer in Orange and  An Architect in Memori, kali ini Windry bercerita melalui sudut pandang seorang cowok galau bernama Rayyi. 


Rayyi adalah mahasiswa  jurusan perfilman yang dipaksa ayahnya mengambil peminatan Produksi ketimbang dokumenter yang menjadi  passionnya. Ayahnya adalah seorang produser yang bertanggung jawab akan wajah perfilman Indonesia dengan merilis film-film cheesy yang laku keras di pasaran. Berbeda dengan ayahnya, Rayyi cinta mati dokumenter setelah diperlihatkan sebuah dokumenter  karya sineas Rusia Dziga Vertov yang berjudul The Man With A Movie Camera oleh Ibunya yang  telah meninggal dunia.


Perkenalannya dengan sosok gadis bernama Haru Enomoto (yes, she’s a Japanese) dan dosen tamu di mata kuliah dokumenter yang disusupinya, Samuel Hardi. Haru dan Samuel adalah dua sosok yang percaya dan meyakinkan Rayyi akan bakatnya di pembuatan film dokumenter.


Berbeda dengan kisah-kisah romansa Windry sebelumnya, Montase menurut saya lebih sederhana. Membacanya mengingatkan saya akan  kisah-kisah cinta, persahabatan dan cita-cita dalam komik serial cantik keluaran Elex Media di tahun 90-an. Kisahnya sangat pure dan manis. Hal ini direpresentasikan oleh sosok Haru Enomoto yang seperti tokoh utama komik shoujo. Kecil namun memiliki banyak kejutan.  Apalagi ditengah gempuran novel berbasis fanfiction drama Korea yang marak dan merajalela di rak-rak toko buku, entah itu diterbitkan oleh penerbit  besar atau penerit yang come out from nowhere.


Ceritanya memang mudah ditebak walau sebenarnya saya menolak menduga. Windry lagi-lagi menyelamatkan novelnya dengan  gaya penulisannya yang peka akan detail. Hal yang paling saya suka darinya, dimana cerita roman dengan tema pasaran menjadi sangat menarik. Hanya saja  ini bukan karya Windry favorit saya . Orange menjadi pemuncak dan Memori dibawahnya (hope someday saya akan menemukan Metropolis). Kisah ini seharusnya menjadi inspiratif dan menggugah, hanya saja bagi saya belum sampai kesana. Ini masih menjadi sebuah kisah romansa anak muda.

Portrait of Dziga Vertov , source en.wikipedia.org 

Saya membaca novel ini dalam perjalanan darat dengan Bus ALS menuju kampung halaman saya Batusangkar dari Medan dalam rangka liburan tahun baru. Bus yang saya tumpangi terjebak macet selama hampir 6 jam plus siksaan jalan rusak parah membuat perjalanan yang seharusnya hanya 20 - 22  jam bertambah 10 jam lebih lama menjadi 32 jam! Novel ini menyelamatkan saya dari kegelisahan akibat perut lapar dan disertai senggugut rutin plus masuk angin haha. Sayangnya hanya butuh lebih kurang 2 jam. Dan saya kembali ke neraka perjalanan darat lintas Sumatera Utara-Sumatera Barat.

Selasa, 25 Desember 2012

Busy Days Before Year End

Kangen sama blog satu ini. Udah beberapa hari nggak ditengok. 

Karena koneksi internet yang di SALE habis-habisan akhir tahun sepertinya bermasalah. Jadi saya tidak bisa menulis hal-hal baru bahkan sekedar untuk nge-cek lowongan kerja baru. But It's OK. I have jobs which made me very busy this weekend!

Akhir pekan ini saya menghabiskan  waktu di perkemahan Pramuka Sibolangit. No, I'm not a scout girl *but i wish  i am one of those funny boy scouts in Moonrise Kingdom*, saya datang kesana dalam misi lain. Menjadi seorang pembicara untuk sebuah acara Latihan Dasar Kepemimpinan. This event called LDK held by Ikatan Mahasiswa Imam Bonjol (IMIB) - Universitas Sumatera Utara. Terima kasih kepada panitia yang beratruh atas nama saya, haha, karena ini pertama kalinya saya jadi pembicara mengenai public speaking. So, saya adalah orang yang tisur di sebuah villa berlantai semen dengan alas selembar karpet tipis dan nyaris mati kedinginan karena betapa bodohnya saya unpacked  selimut di saat-saat terakhir, hiks.

Ok, saya berlebihan. Udara disana memang dingin dan kami tidak tinggal di villa berfasilitas full furniture termasuk TV kabel. 

Pengalaman pertama berdiri di depan dua puluh orang fresh man of college membuat saya cukup excited sebenarnya. Sebelumnya saya tidak pernah tampil seformal itu *kecuali saat mendadak menjadi MC untuk acara pembukaan Bunkasai USU 2011 dimana para petinggi Akademik dan Konsulat Jenderal Jepang di Medan turut hadir*, jadi saya beberapa kali merasa mulas di perut. Jujur, saya tidak punya basic ilmu komunikasi. Yang saya punya adalah kepercayaan diri super tinggi dan saya suka bicara. Saya belakangan selalu memperingatkan para sahabat untuk memaklumi pembicaraan saya setelah saya kekenyangan karena makan. Having foods make keep talking until the next meal. Bermodal perut kenyang, cuaca cerah, materi dan beberapa point menarik dari internet serta pilek reda saya tampil perdana berbicara ilmu berbicara.

Semuanya berjalan cukup lancar, hanya saja ada peserta yang BBM-an selagi saya berbicara didepannya dan saya hanya mendapat dua pertanyaan dan setelah itu kami memainkan games menyenangkan. Bagi saya its OK. Berbicara itu masalah kemauan. =D . Ngomong-ngomong soal games, saya mengkreasikan games menyambungkata a la Jepang Shiritori menjadi game yang memaksa para peserta berpikir ekstra cepat dan bebricara dengan sebuah topik di depan umum. Inti gamenya sederhana, para peserta sambung menyambung kata dengan menggunakan suku kata terakhir dari peserta sebelumnya seperti ini: advokaSI  ---> SIneMA ---> MAtahaRI ---> RIsaU ---> UtaRA ---> RAsiO ---> and so on. Jika ada peserta tidak dapat menyambung kata berikutnya, maka ia akan mendapat hukuman. Hukumannya adalah mereka harus maju ke depan untuk berbicara selama 30 detik dengan tema kata yang diucapkan  oleh peserta sebelumnya. Contoh, jika peserta selanjutnya tidak dapat melanjutkan 'RASIO' maka ia harus berbicara mengenai apa itu rasio di hadapan peserta lainnya. Game ini cukup menyenangkan dan menghidupkan suasana. Dan saya curiga ini bagian terbaik dari keseluruhan presentasi saya hari itu. Hahaha.

berbicara soal penampilan di depan orang banyak, sebenarnya beberapa hari sebelumnya juga saya harus berbicara di hadapan sekitar 40 orang anak SMA dalam rangka pemotretan untuk buku tahunan mereka. Seperti tahun sebelumnya, tahun ini pun kami mendapat klien dari siswa dan siswi SMA St Thomas. Dan masih sama seperti tahun sebelumnya, mereka juga anak-anak yang ramah dan ribut ! hahaha. But I like them so much and enjoyed the time. 

Mengarahkan 40 remaja yang masih ABG banget dan berumur 7 tahun lebih muda dari pada saya sungguh challenging. Selain balita, remaja adalah tipikal anggota masyarakat yang tidak mempedulikan norma hening dalam kehidupan sehari-hari. Mereka akan berbicara dan tertawa selagi mereka tidak lapar. Mereka juga tidak akan mudah dikumpulkan untuk berbaris dalam 5 detik. Masing-masing punya urusan maha urgent untuk membentuk poni atau memulas eye shadow. =)

Tapi pemotretan pasti tetap berjalan. Dan harus ada yang menjadi kORLAP ! its ME! Ya Hear What I Say to Ya ... 


Pemotretan berlangsung selama dua hari. Satu hari di arena perkemahan pramuka (lagi) tapi di Djohor dan satu lagi di Villa Berastagi Indah. Tiak butuh waktu lama untuk keduanya selesai tepat waktu, mereka sangat kooperatif. Hari pertama saya pulang agak lapar dan hari kedua saya demam (Bagaimana nggak demam kalau hujan nggak berhenti mengguyur Areal Berastagi?).

By the way, walo MUI bilang saying Merry Christmas haram, saya akan tetap mengatakannya. Karena saya berbisnis jasa Pre-Wedding yang di fatwa haram juga. Terlanjur kecebur, ya sekalian deh kekeke *Kidding* 

Kurisumasu Omedetou Gozaimasu dan Happy New Year untuk yang merayakan ^^/ *I spend whole Cristmas nite sleep tight and for the new year i think i will  do the same thing, SLEEPING*

Me With one of the St Thomas  student ^^/