Minggu, 09 Desember 2012

The Best Spot to Shoot in Medan #2 Pantai Mutiara

Oke, ini mungkin bukan di Medan. Tapi jarak tempuh lokasi ini dari medan +/- 1 jam dan aksesnya cukup mudah dan murah. Jika berkendara dari Medan anda dapat menggunakan fasilitas Angkutan Umum Radjawali yang merupakan angkot tercepat untuk mencapai daerah ini, Perbaungan. Turun lah di simpang 3 dekat rumah makan simpang 3 (haha) dan dari sini anda harus meneruskan perjalanan dengan menggunakan becak motor atau betor. 

Berhubung tidak ada angkutan umum yang mondar mandir di daerah pantai ini, maka ada baiknya jika anda tidak menggunakan kendaraan pribadi, sewa saja betornya atau minta ia untuk kembali menjemput anda di waktu yang sudah ditentukan. Tarif betor di daerah ini cukup murah. Sewa betor dari simpang 3 ke Pantai Mutiara berkisar antara Rp 10000 - Rp 20000, pintar-pintar saja bersilat lidah dan menawarnya. fyi lokasinya cukup jauh lho dari titik ini, sekitar 20-30 menit perjalanan.

Pantai Mutiara paling sering dijadikan lokasi foto pre-wedding oleh fotografer-fotografer Medan, baik yang freelancer mau pun dari studio besar.  Tarif masuk ke lokasi ini adalah Rp 5000/ orang. Tapi di hari-hari biasa alias bukan hari libur, pantai ini terkadang malah tidak dijaga sama sekali jadi anda tidak mesti mengeluarkan uang untuk bayar retribusi.

Waktu terbaik untuk datang ke Pantai ini adalah di awal bulan, karena biasanya (kalau nggak salah sistem penanggalan, hehe) air laut sedang surut. beberapa pulau-pulau pasir muncul ke permukaan dan menjadi spot berfoto yang amazing.

Di hari libur, pantai ini sedikit jorok karena banyaknya umat yang berdatangan, tapi di hari biasa, pantai ini bisa dikatakan lumayan bersih dan terawat. 


Nice weather to shoot, lets do it! 1, 2, 3, cheese ...

1

2

3

4

Setelah klien difoto, giliran asisten sang fotografer yang difoto hehe...

Kali ini ga bisa narsis sendiri, barengan deh  mejeng sama klien dan saudaranya yang turut serta ^^





Levitate Love by TROTOA

Levitasi adalah sebuah teknik fotografi yang makin populer dan mewabah belakangan ini. Konon dari beberapa sumber yang saya baca, teknik ini populer berkat seorang fotografer perempuan asal Jepang yang bernama Natsumi Hayashi yang rajin memposting berbagai foto melawan gravitasinya di websitenya http://yowayowacamera.com/ .^^.

ini adalah contoh karya Natsumi Hayashi yang saya ambil dari websitenya ,



Nah, saat menggarap salah satu klien yang berkeinginan kuat mencoba sesuatu yang beda dari foto pre-wedding pada umumnya (gown and glamour, some romantic scenes in a great buildingv or landscape) kami mengusulkan untuk mencoba gaya levitasi. Awalnya klien kami nggak ngeh apa itu levitasi, tapi setelah dijelaskan mereka paham dan tentunya cukup excited.

Nah, masalahnya , dalam menghasilkan sebuah foto levitasi yang bagus, butuh banyak percobaan dan it means butuh banyak wajtu dan ya banyak tenaga. Karena untuk mendapatkan posisi tubuh mengambang tersebut objek foto harus rela mengulang melompat dan melempar diri ke arah yang benar agar posenya  pas . 

Tapi tentunya ada trik-trik khusus yang bisa dipake untuk menghemat waktu dan tenaga, dan ini tentunya mengandalkan photoshop sebagai penyempurnanya. Saya mencari-cari tipsnya di internet dan menemukan salah satu yang cukup berguna di link ini http://www.tnol.co.id/tips-trik/13067-levitasi-inilah-tips-memotret-manusia-melayang.html .Okeh, setelah mempersiapkan berbagai properti lets do it!

Dan ini hasilnya, 

1

2

3

Tips yang paling berguna adalah penggunaan low angle dan continuous shoot. Low angle tentunya memberi efek tinggi yang instan dan continuous shooting mempermudah kerja kamu dengan sekali tekan shutter kamu bisa menghasilkan beberapa jepretan, selanjutnya tinggal pilih mana yang terlihat paling alami melayangnya. Dan yang terakhir pastikan lokasinya aman untuk di jadikan tempat melompat-lompat ^^.





Ten Years Promises

Dahulu sekali, 8 tahun yang lalu, empat sekawan yang duduk di 2 meja deretan terakhir dekat pintu masuk di kelas 2-3 sebuah SMA Negeri di sebuah kota kecil di Sumatera barat pernah membuat sebuah janji konyol. Selang 10 hari setelah ulang tahun salah seorang sahabat, mereka tiba-tiba dihantui masa depan. Di masa SMA ketika memiliki mimpi bagaikan memiliki sepeti harta karun, 4 sahabat itu memutuskan untuk memancangkan perjanjian untuk saling berbagi mimpi itu sepuluh tahun kemudian. 30 November 2004, mereka mulai menghitung mundur.

Lucy, si bungsu, selalu memiliki ambisi paling tinggi di antara lainnya. Baginya status dan materi adalah simbol kesuksesan. Reallitas di matanya adalah angka dan sertifikat. Ia berusaha berkali lipat dari orang lain untuk lebih unggul. Dan tidak mengenal kekalahan dalam kehidupan, entah itu merupakan kompetisi atau pun sosialisasi.

Aster, lebih tua 6  bulan dari Lucy, tipikal gadis desa yang  berpendidikan. Baginya yang dididik oleh orang tua yang berprofesi sebagai guru, kejujuran adalah kunci keberhasilan. Ia gadis lurus yang penuh perhitungan. Tidak pernah dalam tindakannya mengandalkan intuisi. Pertimbangan yang matang selalu menjadi kata kunci gadis cantik ini dalam bertindak. Ia gadis cerdas yang penuh pesona, pria menyukainya dan perempuan membencinya.

Tirta, lebih tua 1 bulan dari Aster, laki-laki melankolis yang menggubah kisahnya lewat puisi. Keheningan menjadi temannya dan musik serta sastra menghiasi sudut-sudut memorinya. Baginya hidup adalah pertarungan. Pertarungan yang memiliki aturan, baik itu tersurat maupun tersirat. Cinta adalah sumber energinya dan ketika cinta beranjak pergi Tirta akan larut dalam sepinya, meninggalkan bumi yang butuh hadirnya.

Prima, gadis yang selalu dituakan oleh  sahabatnya. Memiliki lebih banyak mimpi dari pada yang mampu direalisasikannya. Tapi ia tidak peduli, baginya bermimpi seperti mendapat hadiah, kau tidak perlu membayar apa-apa. Dan ketika satu-persatu mimpi prematur itu gugur sebelum berkembang, ia mulai mengais memori masa kecilnya yang merindu ketentraman dan kehangatan rumah.

Tidak sampai setahun setelah perjanjian di tetapkan, banyak yang berubah. Mereka masih tinggal di kota yang sama dan masih saling bertegur sapa. Tapi waktu perlahan mengubah segalanya. Semakin waktu berlalu, ia menambah jarak membentangi Lucy, Aster, Tirta dan Prima, menambah sesak kerinduan untuk saling berbagi dan mencurahkkan isi hati. Masing-masing berusaha menaklukkan jarak, tapi kau tidak akan pernah  tahu apa yang terjadi di raga dan batin sahabatmu tanpa kau menemuinya sesering mungkin. Dan semakin kau terpisah, semakin kau tidak mampu meraihnya. Kau perlahan marah dan menjauh, tidak tahu menahu bagaimana sahabatmu melewati ahri-hari pedihnya, derita yang ditanggungnya, dan rindu yang tidak diungkapkannya. 


(Masih) Menghitung mundur menuju 30 November 2014... 

Rabu, 05 Desember 2012

There’s No Place Like Home : The Golden Road

pict source: storynina.blogspot.com

Melanjutkan posting sebelumnya,  kali ini saya mau menulis tentang sekuel dari The Story Girl.
Masih menampilkan karakter-karakter yang ada di buku pertama, Bev dan adiknya yang masih gendut, Felix, masih melewati hari-hari mereka di Carlisle bersama sepupu mereka Dan, Felicity, Cecily dan ‘The Story Girl’ Sara Stanley. Tidak ketinggalan anak laki-laki yang bekerja pada Paman Roger mereka, Peter Craig dan tetangga mereka yang cengeng Sara Ray.

Hari-hari Bev tetap diisi dengan menjelajahi kebun keluarga King, memetik apel, mendengarkan cerita baru dari The Story Girl dan mulai menyadari bahwa ia memiliki perasaan khusus terhadap gadis yang memenuhi imajinasinya dan sahabat-sahabatnya dengan kisah-kisah hebat. Ya, di Golden Road para anak-anak di kisah sebelumnya telah berkembang menjadi remaja. Karakter-karakter dalam novel ini mulai mengalami perkembangan emosi dan cara berpikir mereka. Selain Bev yang sedang jatuh cinta pada Sara Stanley, ada Cecily yang dikejar-kejar teman sekelasnya dengan sangat fanatik Cyrus Brisk, dan Felicity yang mulai melunak dan menerima uluran tangan Peter Craig yang tergila-gila padanya. Bayangkan, seorang gadis angkuh dan sadar status seperti felicity yang di buku pertama berkoar-koar soal ia tidak akan  mau merendahkan dirinya dengan berjalan atau pun duduk di dalam gereja berdekatan dengan seorang pekerja upahan seperti Peter Craig, di buku kedua mulai menikmati momen-momen romantis berdua dengan bocah itu.

Di buku kedua ini juga banyak peristiwa penting yang mengubah jalan hidup masing-masing karakter. Kepulangan Ayah Bev dan Felix dari Rio De Jenairo dan kepulangan Ayah Sara Stanley yang eksentrik dari daratan Eropa nun jauh. Namun meski banayk peristiwa yang cukup membuat mereka pusing tujuh keliling, the Kings dan kawan-kawan tidak lupa untuk bersenang-senang. Kali ini mereka menerbitkan majalah kreasi mereka sendiri yang bernama Our Magazine. Awalnya ini adalah ide dari Sara Stanley sang gadis dongeng, tapi berhubung ia cemas Felicity akan menolaknya dan ini akan di ikuti oleh Peter Craig yang selalu memujanya, plus Dan yang tentunya tidak suka sesuatu yang membuatnya kerepotan maka Sara Stanley memaksa Bev untuk mengungkapkan ide tersebut sebagai idenya. Dengan tak tik cerdas, Sara Stanley pura-pura menentang ide tersebut di awalnya, Felicity menjadi excited dan tentu saja dengan sikap bossynya dia akan diikuti oleh dua saudaranya Dan dan Cecily. Peter sang pemuja tidak perlu disinggung lagi deh.  

Majalah mereka akhirnya terbit dengan Bev sebagai editor, Felix sebagai penanggung jawab kolom humor dan informasi, Felicity membawahi kolom rumah tangga, Dan yang serampangan mengurus kolom etiket, Cecily yang pemalu menjadi penulis fashion, Peter menjadi penanggung jawab Fiksi dan Sara Ray yang dilibatkan belakangan karena tidak ikut dalam pertemuan pembentukan tim Our Magazine menjadi manejer iklan. Oh ya, Si Gadis Dongeng menajadi penanggung jawab kolom rupa-rupa.

Selain mengurusi majalah baru mereka, Bev cs juga mengalami petualangan yang mencekam saat terjebak di badai salju dan terpaksa bermalam di rumah Peg Bowen yang sinting. Mereka harus melewati malam mencekam dengan pura-pura menikmati hidangan makan malam dari Peg yang tidak enak sambil dipandangi kucing-kucing kuma peliharaannya dan pajangan tengkorak manusia di dindingnya.

Bagian yang saya sukai di buku ini adalah petualangan Sara Stanley dan Bev beserta ayah si gadis dongeng menjelajah hutan-hutan Carlisle. Saya menyukai bagaimana Bev dan Sara Stanley menikmati masa-masa kebersamaan mereka menikmati kenangan-kenangan lingkungan tua yang penuh nilai historis dari keluarga King turun temurun. Walau tidak dijelaskan bagaimana akhir kisah mereka berdua, tapi saya cukup puas bahwa felicity ternyata akan menikah dengan Peter, sesuai dengan yang diramalkan Sara Stanley.

Sudut pandang penceritaan novel ini masih dipegang oleh Bev. Tapi Bev yang bercerita di Golden Road adalah Bev yang menceritakan kisah kanak-kanaknya di pulau Prince Edward. Jadi tidak heran akan ada beberapa kisah yang dikonfirmasi kelanjutannya di masa depan oleh Bev dewasa, salah satunya adalah kisah cinta Si Pemuda Canggung dan guru musik cantik yang baru pindah ke Carlisle, Miss Alice Reade.

Akhir dari buku ini menurut saya indah dan mengharukan. Walau tidak atau kurang secerdas dan menggigit seperti di buku pertama, saya puas membaca kelanjutan kisah keturunan King dari pulau Prince Edward ini. Karakter favorit saya, Peter, tetap menjadi sosok yang eksentrik dan lugas sekaligus lucu. Senang mengetahui bahwa ia akhirnya berhenti menjadi pekerja upahan dan Ayahnya telah bertobat kembali ke rumah untuk bertanggung jawab terhadap keluarga. Dan di masa depan ia akhirnya memiliki profesi yang sepertinya sangat cocok dengan pribadinya yang lurus dan lugas (walau tetap saja mistis).

Oh ya, walau belum mebaca karya-karya LM Montgomery yang lain, saya jadi penasaran dengan award winning Canada TV series, Road to Avonlea. Dari informasi yang saya dapatkan dari internet, cerita ini diinspirasi dari karakter-karakter dalam novel Montgomery, khususnya The Story Girl dimana Sara Stanley menjadi karakter sentral disini. Nama Felix, Felicity, bibi Janet dan Paman Alec juga muncul. Begitu juga Bibi Olivia dan Paman Roger. Apakah Road to Avonlea pernah ditayangkan di TV Indonesia? Saya jadi penasaran, dimana saya bisa mendapatkan akses murah meriah untuk menontonnya secara lengkap, hehhehe


Senin, 03 Desember 2012

Bagaimana Ciuman Pertama Kali Ditemukan?


pict source http://coldwaterstoathirstysoul.wordpress.com

“Cerita ini terjadi pada zaman dahulu kala di Yunani, tempat banyak hal indah terjadi. Sebelum itu orang-orang belum pernah mendengar tentang ciuman. Dan, peristiwa itu terjadi hanya dalam sekejap mata. Seorang pria menuliskannya dan semenjak itu, cerita itu pun menjadi abadi.

“Ada seorang gembala bernama Glaucon-seorang gembala muda yang tampan- yang tinggal di sebuah desa kecil bernama Thebes. Desa itu kelak menjadi kota yang sangat besar dan tersohor, tapi pada saat itu masih desa kecil yang sunyi dan sederhana. Terlampau sunyi untuk Glaucon. Ia menjadi bosan dan ingin pergi jauh dari rumah dan melihat dunia luar. Lalu, Ia pun mengambil ransel dan tongkat gembalanya, lalu pergi berkelana sampai ke Thessaly. Negeri ini adalah tempat bukit para dewa berada. Namanya Bukit Olympus. Tapi, bukit ini tidak ada kaitannya dengan cerita ini. Cerita ini terjadi di gunung yang lain, Gunung Pelion.

“Glaucon bekerja pada seorang pria kaya raya yang memiliki banyak binatang ternak. Setiap hari Glaucon harus menggiring ternaknya ke sebuah padang rumput di Gunung Pelion, dan mengawasi mereka makan. Tidak ada lagi yang harus dilakukan, dan ia merasa waktu berjalan begitu lambat jika ia tidak memainkan serulingnya. Oleh karena itu, ia sering memainkan serulingnya dengan indah, sambil duduk di bawah pohon dan memandangi lautan biru nun jauh di sana, serta berpikir tentang Aglaia.

“Aglaia adalah anak perempuan tuannya. Gadis itu sangat manis dan cantik sehingga Glaucon jatuh cinta kepadanya pada pandangan pertama. Saat ia sedang tidak meniup serulingnya di gunung, ia selalu memikirkan Aglaia dan berkhayal suatu saat ia akan memiliki kawanan ternak sendiri, serta sebuah rumah kecil di lembah tempat ia dan Aglaia tinggal.

“Aglaia juga jatuh cinta pada Glaucon seperti halnya pria itu terhadapnya. Tapi, ia tidak pernah membiarkan Glaucon tahu perasaannya, dan itu berlangsung dalam kurun waktu yang lama. Glaucon tidak tahu kalau Aglaia diam-diam sering  bersembunyi di balik bebatuan di dekat ternak  yang sedanng makan  di padang rumput, untuk mendengarkan Glaucon memainkan musik yang indah. Musik itu sangat indah karena setiap kali memainkannya, Glaucon selalu berpikir tentang Aglaia dan membayangkan gadis itu ada di dekatnya.

“Namun tak lama kemudian, Glaucon mengetahui bahwa Aglaia juga mencintainya, dan semua hal pun berlangsung indah. Pada zaman sekarang, kuarasa pria kaya seperti ayah Aglaia tidak akan mengizinkan anaknya menikahi seorang pekerja upahan. Tapi , itu adalah abad keemasan, ketika hal itu sama sekali bukan masalah.

“Setelah itu hampir setiap hari Aglaia pergi ke gunung dan duduk di samping Glaucon sambil mengawasi ternaknya dan memainkan serulingnya. Namun, Glaucon tidak lagi bermain seindah seperti sebelumnya, karena ia lebih suka berbincang dengan Aglaia. Pada malam itu mereka menggiring ternak bersama-sama.

“Pada suatu hari Aglaia pergi ke gunung melalui jalan yang lain dan ia tiba di sebuah sungai kecil. Ia melihat ada sesuatu yang berkilauan diantara batu kerikil di sungai. Aglaia mengambilnya dan  mendapatkan benda itu adalah sebuah batu kecil indah yang belum pernah ia lihat sebelumnya. Ukurannya hanya sebesar kacang polong, tapi batu itu berkilauan  dan memancarkan warna-warna pelangi saat ditimpa sinar matahari. Aglaia begitu gembira sehingga ia memutuskan untuk memberikan batu itu sebagai hadiah bagi Glaucon.

“Namun, tiba-tiba Aglaia mendengar suara langkah kaki berdebum di belakanganya, dan saat berbalik ia  menjadi ketakutan setengah mati. Di hadapannya, berdirilah Dewa Agung Pan. Dewa ini berbentuk makhluk yang sangat mengerikan dengan wujud yang lebih menyerupai kambing ketimbang manusia. Kalian tahu dewa tidak selamanya berwujud indah. Dan baik indah maupun  tidak, tidak ada yang pernah menginginkan berhadapan muka dengan mereka.

“’Berikan batu itu kepadaku,’ kata Pan seraya menjulurkan tangannya.

“Tapi, meskipun ketakutan, Aglaia tidak mau memberikan batu itu kepadanya.“’Aku mau memberikannya kepada Glaucon,’ jawabnya.

“’Aku mau memberikannya kepada peri hutanku,’ Pan berkata,’dan aku harus mendapatkannya.’

“Ia melangkah maju untuk mengancam Aglaia, tapi Aglaia berlari sekencang-kencangnya ke gunung. Jika ia bisa mencapai Glaucon, pria itu akan melindunginya. Pan mengejarnya, menggeram, dan berteriak marah dengan suara yang mengerikan, tapi beberapa menit kemudian Aglaia sudah menghambur ke pelukan Glaucon.

“Wujud Pan sangat mengerikan, belum lagi suaranya menggelegar, membuat ternak ketakutan dan berlari ke segala arah. Tapi, Glaucon sama sekali tidak takut karena Pan adalah dewa ternak yang punya klewajiban untuk mengabulkan doa para gembala yang baik. Ia selalu menjalankan kewajibannya seberat apa pun itu. Jika Glaucon bukan gembala yang baik, entah apa yang terjadi pada dirinya dan Aglaia. Namun, ketika Glaucon memohon kepada Pan untuk pergi meninggalkan mereka dan tidak pernah menggangyu Aglaia lagi, Pan terpaksa pergi meski sambil menggerutu dengan suara yang menyeramkan. Namun yang penting, Pan sudah meninggalkan mereka.

“’Nah sayangku, ada masalah apa sebenarnya?’ tanya Glaucon. Aglaia pun menceritakan kejadian yang dialaminya.

“’Tapi, dimana batu yang indah itu?’ tanya Glaucon, saat cerita Aglaia selesai. ‘Kau tidak menajtuhkannya saat berlari ketakutan tadi bukan?’

“Tidak, Aglaia sama sekali tidak menjatuhkannya. Saat ia mulai berlari, ia memasukkannya ke dalam mulutnyab dan benda itu  masih berada di sana dalam keadaan aman. Lalu, ia mengeluarkan batu itu disela bibir merahnya. Batu itu berkilauan ditimpa sinar matahari.

“’Ambillah,’ bisik Aglaia.

“Pertanyaannya adalah, bagaimana cara Glaucon mengambilnya? Kedua tangan Aglaia saat itu berada dalam dekapan Glaucon, dan jika Glaucon melepaskannya pria itu takut Aglaia akan jatuh karena tubuhnya begitu lemah dan gemetaran karena takut. Lalu, Glaucon menemukan gagasan yang cemerlang. Ia akan mengambil batu indah itu dari bibir Aglaia dengan bibirnya.

“Ia pun merunduk  hingga bibirnya menyentuh bibir Aglaia. Glaucon pun melupakan batu indah itu, begitu pula Aglaia. Ciuman pun ditemukan!”

Dikutip dari The Story Girl, versi terjemahan oleh Bentang Pustaka, Bab 18 halaman 184-188.

pict source : multiply.com

The Story Girl adalah sebuah novel yang ditulis oleh Lucy M. Montgomery. Ia adalah penulis yang juga merilis karya klasik legendaris Anne of Green Gables. Di bagian biografi pengarang yanga ada di novel ini juga dijelaskan bahwa novel ini adalah favorit dari Montgomery karena karakter Sara Stanley a.k.a The Story Girl adalah karakter yang memiliki kesamaan dengan pribadi Montgomery sendiri. Ditulis di tahun 1911, The Story Girl memiliki sekuel dengan judul The golden Road.

The Story Girl dituturkan melalui sudut pandang orang pertama tunggal, Beverly King, seorang anak laki-laki berusia 13 tahun. Ia dan adiknya yang gemuk, Felix King, harus melewatkan satu musim tinggal di rumah tua keluarga King di Carlisle,  Pulau Prince Edward, Kanada. Hal ini dikarenakan ayah mereka harus bekerja di Rio de Jenairo dan ibu mereka telah lama meninggal saat mereka bahkan belum mampu untuk mengingat wajahnya.

Di rumah tua keluarga King tinggal Paman mereka Alec, dan istrinya Janet. Mereka memiliki tiga orang anak. Yang sulung laki-laki bernama Donald King, sebaya dengan Beverly. Ia adalah anak laki-laki dengan karakteristik umum, bandel, keras kepala  namun memiliki pikiran yang sangat logis dan praktis.  Adiknya Felicity King, berusia 12 tahun, adalah gadis cantik yang sadar betul akan kecantikannya. Sedikit angkuh namun Felicity adalah koki yang paling hebat di antara mereka dan sangat menyukai pekerjaan rumah tangga. Terakhir si bungsu Cecile King, gadis 11 tahun yang pemalu dan religius. Ia rutin berdoa dan menabung jajannya untuk disumbang ke badan amal dan aktifitas gereja. Ia terlihat lemah namun di saat kritis sesungguhnya Cecile lah yang paling tegar dan dapat diandalkan.

Selain 3  bersaudara putra putri Alec dan Janet King, ada Peter. Pekerja  upahan yang membantu paman mereka, Roger King, untuk melakukan berbagai pekerjaan di rumah dan lahan pertanian. Ia pemuda 14 tahun yang  tampan dan berkharisma. Meskipun setiap hari ia harus bekerja membanting tulang di ladang dan mengenakan pakaian kumal dan celana bertambal serta berkeliaran tanpa alas kaki, Montgomery mendeskripsikan Peter sebagai anak laki-laki yang cerdas dan kritis. Ia adalah salah satu karakter yang saya sukai mengingat sifatnya yang terkadang kritis tapi dalam sekejap ia bisa menjadi seseorang yang mistis dan mempercayai eksistensi sihir. Peter adalah anak laki-laki yang menghadapi pilihan dilematis dalam hidupnya. Dalam The Story Girl diceritakan bahwa  Peter bingung harus menganut aliran Kristen apa, presbiterian datau metodist, sampai akhirnya ia keceplosan  berkata bahwa ia memilih presbiterian agar bida masuk surga yang sama dengan teman-temannya sehari sebelum isu kiamat terjadi.

Another character adalah Sara Ray. Gadis ini merupakan alasan mengapa ada nama julukan The Story Girl untuk Sara Stanley. Sara Ray adalah gadis 11 tahun sahabat Cecile. Sama halnya dengan Cecile, Sara Ray adalah gadis pemalu dan religius. Namun ia sedikit paranoid dan cengeng. Hobinya adalah cemas dan menangis sehingga beberapa diantara King bersaudara sangat sebal jika Sara Ray sudah mulai menunjukkan tanda-tanda melankolis.

Terakhir, Adalaha Sara Stanley, The Story Girl. Julukan itu bermula dari adanya dua Sara dalam lingkungan anak-anak Carlisle. Sara Ray dan Sara Stanley. Agar tidak canggung dan menghindari salah panggil, Sara Stanley dipanggil dengan julukannya, The Story Girl. Ia menyukainya karena ia sendiri sepertinya tidak menyukai nama Sara Stanley. Gadis ini sangat unik dan mempesona. Ia gemar bercerita dan mendongeng dengan penghayatan luar biasa. Suaranya indah  dan membuat setiap orang yang mendengarkannya terhipnotis dengan jalinan cerita serta karakter yang muncul di dalamnya. Selagi mendongeng, The Story Girl bisa menjadi karakter apa pun dalam ceritanya,  hantu keluarga King, ular berbisa bahkan putri raja.  Kehebatan The Story Girl sudah terkenal di seantero Carlisle dan keluarga King dimana pun mereka berada.

Novel The Story Girl adalah kisah tentang anak-anak biasa dengan imajinasi luar biasa.  Meskipun buku ini adalah buku anak-anak, saya rasa anak belasan tahun tidak akan mudah mencerna ceritanya. Saya menemukan banyak humor cerdas di dalamnya. Baik itu melalui narasi Beverly, maupun dari kisah-kisah yang dituturkan Sara Stanley, The Story Girl. Kepolosan dan kenaifan anak-anak dalam memandang berbagai hal di dunia ini ditulis dengan jenaka dan cerdas oleh Montgomery. Saya gemas membaca pertanyaan-pertanyaan Peter mengenai  perbedaan Presbiterian dan Metodist, pandangan anak-anak ini mengenai surga dan apa yang terjadi di dalamnya, sistem kelas dalam masyarakat, seksualitas dan bagaimanakah rupanya kematian itu.  Melalui pola pikir kanak-kanak, topik ‘berat’ ini jadi terasa lucu dan menghibur. Bukan sesuatu yang mesti kita bahas secara ilmiah, tapi pandangan polos mereka membuat  kita tersentil dengan rumitnya dunia  yang kita tinggali ini.

Di Indonesia, novel ini diterbitkan oleh Bentang Pustaka dan Gramedia Pustaka. Novel yang saya miliki adalah versi Bentang Pustaka. Covernya kurang menarik sebenarnya, dan setelah membaca keseluruhan isi buku, saya jadi bertanya-tanya siapa pria kulit hitam yang ada di cover novel ini? Karena di dalam novelnya tidak ada memunculkan karakter kulit hitam, hahaha. Tapi terjemahannya lumayan enak dibaca, meski di beberapa paragraf saya menemukan kata-kata dan kalimat yang membuat saya mengernyitkan kening saat membaca.

Lucy Maud Montgomery, atau yang lebih dikenal sebagai LM Montgomery, pict source factfictionandeverything.blogspot.com

 Happy Reading ^^/

Sabtu, 01 Desember 2012

Best Spot To Shoot In Medan #1 Vihara Gunung Timur

Sejak sering terlibat di dunia fotografi freelance bersama sahabat saya, saya jadi tahu bahwa banyak spot-spot eksotis di kota Medan dan bagaimana cara mendapatkan aksesnya. Rata-rata lokasinya nggak jauh-jauh amat. Bahkan terkadang di dalam kota dan sometimes free of charge alias gretongan.

Menggunakan public space memiliki risiko yang harus siap di pikul rame-rame. Baik itu oleh crew mau pun model. Kalau yang sudah pro biasanya selo macem di pulo tapi bagi yang masih amatir dan pehobi pemula memotret dan di potret di ruang terbuka menjadi tekanan tersendiri. Umat manusia yang lalu lalang secara bebas biasanya juga suka usil dengan nyuitin, memanggil-manggil dan berusaha memecah konsentrasi. 

Kuncinya adalah fokus. Gangguan umum seperti itu memang nggak bisa dihindari dan itu sudah sifat manusia untuk jadi kepo, curious dan mencemooh. Jika di kata-katai cuekin, tapi kalo kuping panas balas aja dengan candaan yang nyinyir dan menghujam jantungnya. Seperti ini nih,

Kepo Man : 'Aish, cantik kali lah adek ni. Nggak takut item dek di foto panas-panas gitu?  mending sama abang aja yuk naek mobil ber AC'
Model Girl  : ' Yakin itu mobil abang ada AC nya bang? Abang aja yang naek mobil ber AC keling kali kuliat, ragu aku lah..."

Nah, untuk Best Spot To Shoot In Medan #1 adalah Vihara Gunung Timur. Menurut wikipedia, Vihara Gunung Timur adalah kelenteng Tionghoa (Taoisme) yang terbesar di Kota Medan, bahkan mungkin juga sepulau Sumatera dan Indonesia. Lokasinya adalah di Jalan Hang Tuah No 16 Medan. Kalo naek angkot dari arah Padang Bulan pilih angkot mini wampu tujuan Sambu/Sentral. Setelah melewati jembatan Sudirman yang melintasi sungai Babura (dari Jembatan ini kita sudah dapat melihat vihara ini berdiri megah) dan taman Beringin ato taman Sudirman, berhenti tepat di simpang sebelum restoran franchise ayam goreng yang saya lupa namanya, UFO chicken ya? -__-". Nah ikuti jalan kecil ke dalamnya, kira-kira 20 meter-an lah, ketemu deh tempatnya.

Foto ini saya ambil saat membawa sahabat saya berkeliling Medan pertengahan 2011 =)

Berhubung ini adalah rumah ibadah, penting sekali untuk menjaga sikap dan busana selama berada di dalam area. Sebelum  masuk, minta izin dulu sama petugas keamanan yang ber-pos di pintu masuk. Sebaiknya juga tanyakan apakah dapat memotret di areal tersebut di hari tersebut. Karena dari info yang saya denger-denger ada dua hari setiap bulannya menjadi hari dimana banyak warga penganut taoisme yang beribadah. Pastinya anda tidak ingin menjadi pengganggu dalam kekhusyukan mereka bukan?

Jika sinyalnya positif, mari berfoto ... 1,2,3 cheers!

Before the bride & groom session =)

My friend, Syarli yang baru beberapa bulan menetap di Medan

My junior high friend, Debby. Saya membawanya jalan kaki dari Lapangan merdeka menuju vihara ini hahaha

Post-wed session of Ekky & Leigh By Richard BerryG

This one also...


^^/ Happy Hunting ...











Kamis, 29 November 2012

WARNING : Before you choose Japanese Lit in College


Suka baca komik, suka nonton anime, suka harajuku style, dan koleksi elektronik rumah tangga bermerek So*y, T*shiba, Mi*ako, etc menjadi alasan mengapa seorang lulusann SMU memilih jurusan Sastra Jepang saat kuliah. Alasan lainnya yang lazim saya dengar adalah karena mereka melihat banyaknya PMA dari Jepang di Indonesia, sehingga ia melihat itu sebagai peluang yang bagus. Alasan ini adalah alasan yang sangat berwibawa  dan tepat guna. Karena dari apa yang saya lihat, sebagian besar yang beralasan di awal saya sebutkan tadi (suka anime, manga, Japan Pop culture) rata-rata berakhir sebagai lulusan Sastra Jepang yang tidak tahu bahasa jepang,  ironi yang nyaris menyamai “Nihonjin No Shiranai No Nihongo”.

Saya adalah salah satu di antara golongan pertama yang masuk sastra Jepang. Sebagai penyuka anime, manga dan pop culture Jepang saya sempat kebingungan saat memilih jurusan kuliah. Masuk Ilmu Politik tidak direstui. Masuk Hubungan Internasional, otak saya pas-pasan. Masuk kedokteran sangatlah tidak mungkin. Masuk DKV biayanya luar biasa besar. Akhirnya saya survey berbagai jurusan kuliah yang terlihat bakal menyenangkan ketika dijalani dan sesuai dengan hobi (?). Pilihan saya jatuh pada sastra Jepang, simply because i love its pop culture.

Bayangan saya ketika memasuki sastra Jepang adalah acara Bunkasai yang akan digelar setiap tahunnya, seperti yang saya baca liputannya di Animonster. Euforia saya memasuki sastra Jepang bukan karena segi akademik, lebih kepada selebrasi. Seperti warga Jepang yang merayakan Natal setiap tanggal 25 Desember, dan berdoa di kuil pada tanggal 1 januari. Saya benar-benar berpikir untuk bersenang-senang semata. Bayangan saya kuliah di sastra Jepang akan mempertemukan saya dengan sesama otaku manga dan anime, penyuka fashion harajuku dan penggemar Utada Hikaru. Saya tidak membayangkan akan menghapal ratusan hingga ribuan kanji, mempelajari 3 jenis huruf, memahami keigo, dan menggali sejarah kelam bangsa Jepang. Have no idea.

Minggu pertama sebagai mahasiswi Sastra Jepang disebut sebagai junbishuukan (準備週間). Dimana khusus satu minggu awal semua mahasiswa difokuskan untuk mengahapal mati huruf-huruf hiragana dan katakana. Hal ini dikarenakan buku teks pelajaran yang digunakan menggunakan kedua huruf tersebut dan juga kanji. Mengapa kanji tidak dimasukkan ke dalam junbishuukan juga? Adalah karena tidak mungkin menghapal karakter kanji Jepang yang berjumlah ribuan itu dalam satu minggu. Wong pelajar Jepang aja punya mata pelajaran Kanji di sekolahnya kok. Jadi kami para mahasiswa pun memiliki mata kuliah kanji di setiap semesternya.

Kelar junbishuukan, kami memasuki babak pelajaran sastra Jepang yang sebenarnya. Buku yang kami gunakan adalah buku Minna No Nihongo I, seperti yang dibawah ini nih..


Buku ini adalah buku pelajaran bahasa Jepang standar yang digunakan di berbagai belahan dunia. Bagi mahasiswa yang sudah mampu membaca katakana dan hiragana pelajaran awal menjadi sangat mudah. Begitu juga bagi saya. Semester 1 saya lalui dengan sangat santai dan mulus. Saya berhasil memasuki semester II dengan IP 3,5. Saat saya pikir saya bisa menghandle semester II dengan lebih baik, saya dan beberapa teman yang terlanjur songong mengambil mata kuliah senioran, Huruf Jepang 4 yang seharusnya di ambil di semester 4. Hasilnya, saya dan teman-teman gagal berjamaah dengan nilai E menganga di KHS kami semester 2. Artinya kami harus mengambil mata kuliah huruf Jepang 4 lagi di semester 4.

Pelajaran bahasa Jepang dari satu semester ke semester berikutnya semakin menggila. Berhubung mata kuliahnya adalah mata kuliah kontiniu, dimana setiap semester mengalami peningkatan level kesulitan maka sekali kamu gagal di satu level akan berimbas ke level-level berikutnya. Dan huruf jepang alias Kanji menjadi mimpi buruk saya. Akibat kesombongan mengambil mata kuliah kanji dobel di semester 2, kanji saya kacau balau dan gagal. IP saya jatoh ke angka 2,7. Belum lagi saya memiliki aktifitas baru sebagai anak pers kampus. Kuliah bahasa yang sama sekali awam di kuping orang Indonesia (kecuali berbagai merek elektronik yang marak) sangatlah berat.

Saya gagal! Gagal jadi lulusan sastra Jepang yang mahir bahasa Jepang. Jujur saya sering tersandung di mata kuliah linguistik yang sungguh sangat bikin trauma. Apalagi saya sepertinya memiliki hubungan sangat dekat dengan dosen yang memberi saya nilai kalo nggak E paling baek D di 3 mata kuliah linguistik. Mental saya lemah memang ya, gara-gara batu sandungan seupil itu konsentrasi belajar saya pecah.

Perkuliahan berlanjut dan mata kuliah semakinberagam dan semakin menggila. Sejarah Jepang, Kebudayaan Jepang, Puisi Jepang, drama Jepang, kami mempelajari tidak hanya linguistik dan bahasa. Dalam mempelajari mata kuliah kebudayaanpun kami terkadang menggunakan buku teks berbahasa Jepang, kalau nggak Inggris. Maklum, buku-buku kebudayaan dan Sastra Jepang belum banyak yang dialih bahasakan. Saya paling stress kalau belajar sejarah Jepang dengan menggunakan buku teks berbahasa Jepang. Tidak hanya isi (kontennya) yang purbakala, huruf kanjinya juga sama sekali tidak ada yang bisa terdeteksi apa artinya. Membuat kami selalu membolak balik kamus kalau sang dosen nggak menjelaskan bacaannya apa dan artinya apa. Belum lagi mata kuliah ekspresi bahasa Jepang. Mengingat sejarah bahwa masyarakat Jepang adalah masyarakat homogen yang kompleks. Kebudayaan mereka yang ketat memuncukan beragam ekspresi dalam berbahasa. Tidak heran jika untuk mengungkapkan sesuatu bisa berbeda beda. Seperti penggunaan keigo. Jika dalam percakapan sehari-hari dengan sahabat dan rekan kita untuk kata makan  menggunakan taberu  maka jika berhadapan dengan atasan, orang yang dihormati maka kata yang digunakan adalah meshi agarimasu.

Waktu berlalu dan saya berhasil lulus juga dengan menyandang gelar SS alias Sarjana Sastra. Beban yang sangat berat mengingat jika ditanya bahasa Jepang yang masih saya ingat hanya bagian perkenalan dan nama-nama musim. Soal kanji jangan diungkit. Saya hanya ingat kanji watashi, yama dan Ai (ini pun saya masih sering salah tulis). Oh iya, saya juga masih ingat kanji Ue dan Shita kekekeke. Jadi jika anda bertanya-tanya mengapa nama blog saya aneh, itu sebetulnya obsesi awal saya yang ingin  nge-blog kejepang-jepangan. Sayangnya saya tidak pernah benar-benar posting hal-hal berbau bahasa Jepang kecuali hobby menggambar a la manga saya. Blog saya sendiri Aoisoranoshitade.blogspot.com, aoi sora no shita de berarti Under the blue sky. Nama blog ini terinspirasi dari lagu Jepang yang kami nyanyikan saat saya mengikuti Gasshuku (semacam PMB jurusan) di awal kuliah, lagunya kira kira berbunyi seperti ini... Sora no shita de ookikunatte, Sora no shita de ookikunatte,  anata to watashi, nakayoku asobimashou...

Saat-saat menyeramkan setelah jadi Sarjana dan mencari kerja adalah saat interview kamu ditanya macam-macam soal bahasa Jepang, dan kebetulan yang interview ngerti bahasa Jepang padahal kamu pikir dia tidak mengerti dan kamu berlagak pintar membodohinya dengan asal jawab sekenanya. Pfuiiiiihhh . Cape deh. Saya pernah mengalamainya. Harus saya akui itu adalah hal paling memalukan dalam hidup saya. Wawancara kerja resmi pertama saya ibarat terkena tsunami setelah gempa 10 SR. Harga diri saya runtuh dan sama rata dengan tanah. Saya juga mempermalukan almamater saya. Trik saya setelah ketahuan? Ngeles...

Dan malam ini saya bertemu dengan beberapa kawan semasa kuliah di sastra Jepang USU. Dan guess what, tidak satu pun diantara mereka yang bekerja sesuai dengan jurusan kuliah. Teman saya yang pertama adalah mantan bankir yang sekarang bekerja sebagai promotion spv , teman yang kedua bekerja di perusahaan forwarding, dan yang ketiga adalah Admin sebuah kursus bahasa Inggris. Mereka sama sekali tidak menggunakan bahasa Jepang yang dipelajari semasa kuliah. Dan guess what, mereka juga mengalami masa-masa dimana lulusan Sastra Jepang seperti kami dianggap maha fasih menulis dan membaca kanji serta tahu arti lagu-lagu L’arc en ciel.

Seperti cerita teman saya yang pertama...
“Saat kami loading barang baru berupa keyboard merek Kawai seorang teman dengan entengnya  meminta saya menerjemahkan tulisan bahasa Jepang di kemasan keyboard tersebut. Saya ngeles aja kalo saya kesulitan mengartikan kanjinya. Saya bilang, ‘kalo di sastra Jepang kanji itu bisa memiliki banyak arti. Jadi tidak bisa sembarangan menerjemahkan sesuatu’”

Lucu sekali...

“kemudian ada suatu hari datang brand ambasador keyboard merek Kawai ke kantor kami. Para karyawan heboh meminta saya turun untuk berbincang dengan orang Jepang tersebut. Saya berhasil menolak turun ke showroom  dengan alasan banyak kerjaan.”

Hahahahahahahhahahahha

Teman kedua lebih ngaco lagi...

“Saat saya wawancara di epson, saya mendadak diberitahu bahwa saya akan diwawancara oleh GM-nya langsung yang orang Jepang. Saya tidak menduga akan seperti itu karena saya tidak melamar menjadi penerjemah Bahasa Jepang. Ketika si GM muncul saya langsung berdiri dan bersusah payah mengucapkan kalimat dalam bahasa Jepang yang berarti,’Maaf saya mengundurkan diri dari wawancara ini’”

Bahasa Jepang memang mengerikan! Salah ding, kami para lulusannya yang mengerikan.

So, just for your information. Jika saya amati dari 40-an lulusan Sastra Jepang satu angkatan dengan saya, saya rasa kurang dari 10 orang yang menggeluti profesi yang berhubungan denngan bahasa Jepang. Saya rasa pun hanya 4 orang. 2 bekerja di Konsulat Jenderal jepang di Medan, dan 2 orang menjadi Nihongo Kyoushi di SMA. Yang lainnya? Kebanyakan malah bekerja di dunia perbankan. Tidka heran banyakl perusahaan Jepang yang masih saja kewalahan mencari tenaga kerja Penterjemah di Indonesia.

Belajar bahasa yang sangat tidak familiar di kehidupan sehari-hari sangatlah challenging. Jika bahasa Inggris sudah sangat familiar dimana sehari-hari kita bisa mendengar anak es-de mengumpat mengucapkan “F*CK YOU!” maka bahasa Jepang sangat langka penggunaanya dalam kehidupan sehari-hari. Setahu saya hanya jokes bahasa jepang yang sering digunakan masyarakat Indonesia, seperti Takashimura (tak kasih murah) dan sakurata (miskin cyintt). Untuk kosa kata entah kosa kata mana dalam bahasa Indonesia selain romusha yang diserap dari bahasa Jepang. Kemungkinan ini seharusnya ada mengingat Jepang pernah menjajah Indonesia selama 3,5 tahun.

Kunci dari mempelajari bahasa adalah dengan mempraktekkannya sesering mungkin. Jika tidak dipraktekkan mana mungkin sebuah bahasa akan dapat dikuasai. Minimal kalau tidak diucapkan biasakanlah diri untuk dekat dengan bahasa Jepang seperti mendengar lagu-lagu Jepang dan Menonton dorama dan movie Jepang. Cara ini sangat ampuh untuk membuat kamu memahami penggunaan pola kalimat khususnya percakapan dalam bahasa Jepang. Saya jika ditanya mengerti bahasa Jepang maka saya akan menjawab ya saya mengerti sedikit. Kalau menonton dorama atau movie, saya dapat memahami jalan ceritanya dari penggalan-penggalan dialog yang berhasil saya pahami. Tapi jika mengucapkannya saya nyerah. Bahasa Jepang saya sudah terkikis Korean Wave. Hahahahahaha. Joudan ne~

Setelah melewati berbagai interview dan disentil mengenai kemampuan bahasa saya, saya mulai sedikit tersadar dengan big black hole in my life history ini. Jadi dengan tekkad yang (agak) kuat saya berniat untuk mengulang belajar bahasa yang satu ini dari awal. Saya kembali mebuka minna no nihongo I dan mulai berbincang dengan tawapon-san dan Maiku Miraa. Insya Allah kalo nggak ada halangan saya ingin mengikuti Noryoukushiken atau semacam ujian kemampuan bahasa Jepang atau TOEFL dalam bahasa Inggris tahun depan. Saya berharap saya dengan bangga akan berkata saya mampu berbahasa Jepang karena saya lulusan Sastra Jepang. Dan tidak ngeles lagi jika ditanya atau diminta berbahasa Jepang. Walau nantinya pekerjaan saya tidak berhubungan dengan bahasa Jepang. ^^

Ini secuil kenangan dari kebersamaan kami para eks mahasiswa Sastra Jepang USU angkatan 2006


dan kenangan indah saat BUNKASAI USU 2011



 ^^/