Jumat, 22 Februari 2013

A Day With Indah

Indah adalah nama sahabat saya. Kami telah saling kenal selama hampir 5 tahun sejak Indah di tahun 2008 pindah ke kos pertama saya di kawasan Padang Bulan USU. Awalnya Indah yang datang meninjau kamar kos bersama  Bunde nya menjadi teman kos kamar sebelah. Setahun setelah itu lah baru Indah dan saya merger satu kamar bareng. Setelah mengarungi bahtera sekamar bareng, kami akhirnya memutuskan untuk mencari rumah kontrakan di tahun 2010.

Indah adalah penggemar drama korea dan K-POP. Her favorite Korean actors was Lee Dong Wook and Lee Min Ho. Lee Dong Wook adalah idola Korea Indah yang pertama setelah ia menonton drama My Girl. Sementara untuk Lee Min Ho ada cerita lucu di balik sejarah kegemaran Indah pada aktor cakep yang populer berkat drama Boys Before Flower yang merupakan adaptasi dari manga Jepang, Hana Yori Dango. 

Ceritanya, Indah adalah penggemar Meteor Garden yang sempat hit banget di tahun 2000. gadis asli Barus ini sama seperti kebanyakan ABG Indonesia dan Asia  lainnya jatuh klepek-klepek pada pesona Jerry Yan yang berperan sebagai anak jutawan tengil. Nah, saat re-make Hana Yori Dango oleh rumah produksi Korea Selatan tersiar (2009) , saya memberi tahu Indah dengan exciting (Tahun segitu saya juga lagi suka-sukanya K-POP, khusunya DBSK dan Super Junior hehe). Reaksi Indah? Marah! Dia tidak suka Meteor Garden (baca: Hana Yori Dango selanjutnya disebut HYD) di bikin versi Korea. Bagi Indah itu merusak saja, dan pastinya tidak mungkin bakal menggantikan atau pun menyaingi MG (Meteor Garden). Saya sampe keukeuh mempromosikan aktor-aktor pasti lebih ganteng dari pada versi Taiwan. Indah  juga lebih keukeuh membela Jerry Yan. 

Sanking niatnya, saya sampai mencari-cari video promosi mengenai project remake HYD oleh Korea yang kabarnya akan berjudul Boys Before Flower (BBF). Saya menyodorkan sama Indah, dia masih emoh. Saya nyerah...

Akhirnya, BBF dirilis. Saya saat itu sibuk dengan persiapan BUNKASAI USU 2009, jadi kurang begitu aware lagi dengan perkembangan BBF yang saya sorak soraikan pada Indah. tahu-tahu begitu versi DVD bajakan berkeliaran di Indonesia dan modal rating megah di Korea sana sontak semua anak gadis belia demam BBF dan Goo Jun Pyo. Tao Ming Se dan Jerry Yan pun terlupakan. MG dan BBF berakhir di studi komparasi generasi 2000 awal dengan 2000 akhir. BBF disiarkan di TV swasta Indonesia. Indah yang awalnya menolak mentah-mentah kemakan ludah, dia menjadi penggemar LEE MIN HO!

Selanjutnya guess what?  Saya menjadi 'suruhan' Indah dalam berburu Lee Min Ho stuffs in internet. Saya awalnya fine-fine saja karena hubungan kami bersifat simbiosis mutualisme. Saya yang saat itu belum punya laptop diijinkan meminjam laptopnya buat mengetik tugas-tugas kuliah dan nebeng nonton drama Korea yang lagi di tonton Indah saat lagi ada waktu luang. 

Sayangnya, Indah memutuskan pindah di awal tahun 2012. Ia mendapat tawaran dari salah satu kerabatnya untuk menjadi pegawai honorer di salah satu instansi pemerintah di Singkil, NAD. perpisahan kami menjadi perpisahan penuh haru karena Indah menyesalkan tidak ada lagi sahabat yang mendownloadkan viedo klip  K-POP terbaru dan membelikan tabloid cobek Asian Plus terbaru tiap bulannya. 

Selang setahun setelah Indah pindah, kami bertemu lagi saat Indah mengunjungi Medan kemaren. Oh ya, satu yang saya lupa ceritakan mengenai Indah adalah ia penggemar icip-icip kuliner di kafe-kafe baru. Asal dengar ada kafe baru dibuka, Indah pasti langsung menyodok saya buat menemaninya. Tapi berhubung keuangan kami bukan keuangan limitless, kami pastinya selalu mempertimbangkan harga sebelum memutuskan untuk icip-icip di sebuah lokasi. under IDR 100000 is OK. 

Nah, saat memutuskan untuk makan siang di Pizza Hut kemaren kami have no clue untuk melanjutkan jalan kemana. Jadi Indah mengusulkan untuk  ke 21 Sun. salah satu obsesi Indah yang belum kesampaian sampai sekarang adalah nonton film format 3D di bioskop. Nah, kami pun memutuskan untuk mampir ke 21 Sun untuk nge-cek film apa saja yang lagi tayang dalam format 3D (karena paket BB-nya cuman buat BBM dan Facebook dan hp nya yang satu lagi loading internetnya lola amaria). Ternyata ada Flight, A Good Day To Die Hard satu film misteri saya nggak inget judulnya dan satu lagi Zero Dark Thirty. Jujur, tidak ada yang menarik minat kami. Saya cukup tertarik dengan Flight yang dibintangi Denzel Washinton, hanya saja tujuan kami hari itu adalah bersenang-senang. Jadi film dengan tema berat dan serius masuk daftar coret kami.

Berhubung tidak ada film ringan yang bisa ditonton dalam format 3D hari itu, kami akhirnya memutar otak untuk menghabiskan waktu sampai pukul 18.00 WIB. Dari pada tebego, akhirnya saya menawarkan Indah untuk icip-icip sebuah kafe unyu yang ada di Sun Plaza lantai 3. Adalah Teddy Coffee yang menjadi sasaran  kami. Sebelumnya saya sudah mendapat review dari salah satu teman bahwa kafe ini dapat titel must visit lah bagi pecinta makanan manis dan suasana unyu. Harganya tergolong mahal mungkin bagi sebagian besar orang, tapi dari apa yang sudah saya coba saya rasa harganya pas kok! Minum doang di sini bikin kenyang.

ini adalah Teddy Choco Rolled pesanan Inah. Kami memutuskan untuk share karena sudah cukup kenyang habis makan di PH.  Rasanya? Manis. Tapi nggak terlalu manis kali juga. Karena ada rasa pahit a la dark chocolate terasa disini. kejutannya ditengah-tengah tersisip selai blueberry . 

Minuman pesanan saya, Strawberry Juice. Jangan pikir saya pesan juice strawberry gara-gara saya doyan yang manis-manis. Bukan! saya pesan jus ini dengan harapan rasanya seperti strawberry beneran, asam asam manis. Dan yah, rasanya memang seperti rasa buah strawberry. 

Cake cokelat dan minuman pun cokelat. Kami tidak memesan keju karena baru melahap pizza dengan pinggiran keju. tapi memesan minuman cokelat yang porsinya bisa dibilang banyak dan kental rasa cokelatnya benar-benar sesuatu... -___-"

Teddy's everywhere

Teddy's Hall of fame, hehe

welcome to Teddy Coffee

Serius, tempat ini cocoknya untuk di datangi ibu dan anak serta orang yang sedang berkencan. Saya merasa jengah dan sedikit errrr...  dengan suasana disekitar saya. Bagi saya tempat ini too cute to be true, haha. 

Indah dengan tiga menu yang kami pesan... endingnya adalah Indah menyisakan setengah minumannya, saya 1/3 dan cakenya tersisa setengah. Tapi karena mubazir, saya memaksakan diri memakannya walau endinngnya masih belum benar-benar habis -__-.

Kamis, 21 Februari 2013

BUNKASAI USU 2013

Festival Kebudayaan Jepang atau BUNKASAI kembali digelar oleh Ikatan Mahasiswa Sastra dan Bahasa Jepang (AOTAKE & HINODE) Fakultas Ilmu Budaya Universitas Sumatera Utara. Setelah lama menunggu peminat kebudayaan Jepang akhirnya dapat kembali bersenang-senang di BUNKASAI USU yang meng-gratiskan tiket masuk bagi setiap pengunjungnya ini.

BUNKASAI USU pertama kali diadakan pada Februari 2008 selama tiga hari berturut-turut. Kebetulan saat itu bersamaan dengan moment perayaan 50 Tahun Persahabatan Indonesia-Jepang. Sehingga bisa dibilang BUNKASAI pertama yang diadakan secara besar-besaran itu berhasil menarik atensi berbagai kalangan, mulai dari akademisi, pehobi, dan masyarakat awam. 

Selanjutnya BUNKASAI USU ditetapkan sebagai kegiatan rutin tahunan dalam rangka memperkenalkan kebudayaan Jepang kepada masyarakat Medan khususnya dan mempererat silaturahmi mahasiswa Departemen Sastra Jepang (S-1) dan Bahasa Jepang (D III). BUNKASAI USU sempat absen di tahun 2012 dikarenakan berbagai faktor, tapi kemudian diadakan kembali di tahun 2013 tepatnya dari tanggal 21-23 Maret 2013. Berikut adalah poster sementara dari acaranya yang telah dirilis oleh panitia.


OK, saya mengerti kesulitan anda semua, tulisannya memang sulit dibaca! Jadi akan saya jabarkan satu-persatu acara yang diadakan di BUNKASAI USU kali ini :

1. PARADE & OMIKOSHI/ 21 Maret 2013/ 10.00 WIB - 11.00 WIB/Lap. FIB USU
2. LOMBA J-STYLE / 21 Maret 2013/ 11.00 WIB - 13.00 WIB/ Lap. FIB USU
3. LOMBA KARAOKE / 21 Maret 2013/ 13.00 WIB - 15.00 WIB/ Lap. FIB USU
4. FUN GAMES & FREE STAGE / 21 Maret 2013/ 15.00 WIB - 17.00 WIB/ Lap. FIB USU
5.OBAKE YASHIKI / 21 - 23 Maret 2013/ 11.00 WIB- 16.00 WIB/Gedung Pagelaran FIB USU
6. Photo With Yukata / 21-23 Maret 2013 / 11.00 WIB - 17.00 WIB/ Gedung K301 FIB USU
7. LOMBA SHODOU/ 21 Maret 2013/ 11.00 WIB - 16.00 WIB / Ruang Rapat Fakultas 
8. Workshop Origami/ 21-23 Maret 2013/ 11.00 WIB - 16.00 WIB/ Gedung Dharma Wanita FIB
9. Pemutaran Film Jepang/ 21 Maret 2013/ 10.00 WIB -  16.00 WIB/ Gedung Serbaguna FIB
10. Lomba Komik /21-22 Maret 2013/ 11.00 WIB - 16.00 WIB / Gedung A 104
11. DORAMA/ 22 Maret 2013/ 10.00 WIB - 11.00 WIB/ Lap. FIB USU
12. Demo KENDO, SUMO, AIKIDO/ 22 Maret 2013/ 14.00 WIB-17.00 WIB/ Lap. FIB USU
13. MAID CAFE/ 21- 23 Maret 2013/ 10.00 WIB - 17.00 WIB/ Gedung K202
14. Bazaar / 21-23 Maret 2013/ 10.00 WIB-17.00 WIB/ Lap. FIB USU
15. Demo Sushi/ 22 Maret 2013/ 10.00 WIB-12.00 WIB/ Gedung Serbaguna FIB
16. Konsultasi Pendidikan Jepang oleh JASSO/ 22-23 Maret 2013/ 11.00 WIB - 16.00 WIB/ Gedung Serbaguna FIB
17. Pembacaan Puisi Jepang / 23 maret 2013/ 10.00 WIB-11.00 WIB/ Lap. FIB USU
18. Quiz Taikai / 21-22 Maret 2013/ 10.00 WIB - 16.00 WIB/ Gedung K201
19. Lomba Cosplay/ 23 Maret 2013/  11.00 WIB-13.00 WIB/ Lap. FIB USU
20. Karaoke Warga Jepang/ 23 Maret 2013/ 13.00 WIB-14.00 WIB/ Lap. FIB USU
21. NIHON NO ODORI/ 23 Maret 2013/ 15.00 WIB-17.00 WIB/ Pendopo USU

Keseluruhan acara gratis untuk pendaftaran dan partisipasi kecuali untuk FOTO WITH YUKATA dan MAID CAFE. Khusus dua kegiatan ini anda harus membayar jumlah tertentu. Pertama untuk biaya fotografer dan cetak plus burning data ke CD untuk berfoto dengan yukata, serta untuk MAID CAFE anda tentunya akan dikenakan biaya untuk makanan dan minuman yang anda pesan. 

QUIZ TAIKAI adalah perlombaan cerdas cermat ilmu ke-Jepangan. Lomba ini khusus untuk siswa SMA yang mempelajari bahasa Jepang di sekolahnya.  Lomba SHODOU dibagi menjadi 2 kategori (biasanya), yaitu pelajar dan umum. Sementara untuk Lomba Komik ini istilah baru bagi saya, karena tahun-tahun sebelumnya adalah lomba YON-KOMA MANGA. Pada tahun ini panitia mengadakannya dua hari, yaitu 21-22 Maret. Kemungkinan akhirnya panitia BUNKASAI USU memecah lomba ini menjadi kategori pelajar dan mahasiswa/umum mengingat setiap tahun terdapat jurang dalam kompetisi karena bercampurnya siswa SD, SMP, SMA, Mahasiswa dan Umum. 

Workshop Origami biasanya diadakan bagi undangan tertentu, khususnya anak-anak Taman kanak-kanak, Play Group dan PAUD. Namun biasanya setelah sesi untuk anak-anak tersebut usai, para pengunjung umum diperkenankan untuk ikut serta. 

Oh ya, Parade & Omikoshi adalah event yang tergolong baru karena baru pada BUNKASAI 2011 mulai diadakan. Parade ini dimulai setelah upacara pembukaan secara formal diadakan di lapangan FIB USU. Para mahasiswa Sastra dan Bahasa Jepang akan berparade keliling kampus USU dengan mengusung OMIKOSHI dan disertai iringan marching band. 

Untuk Free Stage biasanya panitia membuka kesempatan bagi para pemilik bakat unjuk gigi di stage utama acara. Tahun-tahun sebelumnya berbagai penampilan muncul, seperti sulap. modern dance, accoustic performance dan sebagainya. Detailnya mungkin bisa ditanyakan kepada CP yang akan saya tulis dibawah nanti.

Satu lagi yang nggak gratisan adalah bazaar. Karena judulnya bazaar pastinya diisi oleh orang-orang yang berjualan dan anda sebagi pengunjung boleh membeli apa yang mereka jual. Jika ingin berpartisipasi di bazaar maka anda dapat mendaftar ke panitia, selama tiga hari anda mendapatkan stand 2x5 meter dengan fasilitas listrik, 1 meja dan 1 kursi. Soal pengunjung jangan pandang sebelah mata, BUNKASAI USU menyedot puluhan ribu pengunjung selama 3 hari. Jadi event ini cocok buat anda dagang dan mempromosikan bisnis.  Harga perstand kalau nggak salah Rp250.000. 

Batas pendaftaran adalah 14 Maret 2013 di Sekretariat Panitia Bunkasai USU 2013 yang berlokasi di Fakultas Ilmu Budaya USU. Gampangnya sih anda bisa masuk dari Pintu 1 jl. Dr Mansyur atau Gang Sumber. Fakultas Ilmu Budaya ada di seberang komplek Asrama Putri. Sekret panitianya adalah gedung mungil pertama yang menjorok sedikit ke depan sebelum parkiran. 

Contact Person :
Frans : 0899 0056 008
Lim : 0878 6843 605
Vindo : 0815 3013 699
Yuli : 0853 5959 0824


Sabtu, 16 Februari 2013

In The Mood For Love

Oke, judulnya memang mencaplok dari salah satu film karya Wong Kar Wei. Tapi memang dari sana lah inspirasi pemotretan kali ini berasal. Adalah Big Boss  Mr Berry G yang merupakan big fans of WKW dan saya adalah orang yang ikut teracuni belakangan  menjadi sangat terobsesi pada cheongsam dan Chinese culture yang diperlihatkan Mr WKW di film-filmnya. 

Setelah lama memendam rasa, akhirnya sebuah pemotretan dengan tema inspired by WKW's movies terwujudkan. Sebenarnya dari tahun lalu saya sudah pdkt dengan sepasang model keturunan Chinese, hanya saja rencana ini selalu timbul tenggelam karena kesibukan pemotretan lainnya yang lebih urgent karena lebih menghasilkan duit, haha.

Akhirnya OTR manager TROTOA, Mr Lubis menawarkan salah satu temannya untuk dipotret buat portofolio baru. Namanya Novida, seorang mahasiswi hukum yang aktif berkecimpung di perfilman indie Medan ( yang lagi seru-serunya berkembang nih). Ia baru saja merampungkan film yang berjudul Mutiara Danau Toba. Disini ia melakoni peran antagonis. Saya sudah sering melihat posternya yang bertebaran dimana-mana, dari Medan sampai Parapat. Dan saya notice Novida dari awal sebagai satu-satunya wajah yang berkarakter muncul di poster itu. Memasang wajah angkuh dan mengibas duit lima puluh ribuan beberapa lembar. There She is!

Akhirnya setelah bertemu sekali di Excelso dan membicarakan konsep, kami sepakat untuk menggarap sesi ini pada 16 Februari 2013 dengan lokasi Vihara Gunung Timur. Sempat ketar-ketir juga awalnya karena masih dalam suasana imlek Vihara tidak dibuka untuk umum. Syukurlah Vihara tetap terbuka untuk kami.

Kali ini saya tidak hanya jadi stylist dan asisten fotografer, Big Boss Mr Berry G meminta saya untuk memotret juga sebagai bagian dari program fotografer trainee (HAHAHA). Dan berikut beberapa foto hasil bidikan kamera mungil saya, Canon EOS KISS X4 dengan lensa 50 mm Carl Zeiss pinjaman dari Mr Berry G.

1

2


3


4


5


Bekerja sama kembali dengan make-up artist kesayangan kami, Mr Hendri Ginting , we' had a really good time on location. Thanks to our model Novida, yang sangat kooperatif selama pemotretan berlangsung. Girl, you got a talent! Love it! Dan tidak lupa, model pria disediakan oleh Novida sendiri yaitu Raja, a friend of hers.

Rabu, 13 Februari 2013

Take A Look At My...

It's not a lovely february. Benar-benar bulan yang suram bagi saya. Bulan Februari ini diawali cukup baik dengan job sambil plesiran. Tapi kembali dari job plesiran hal yang tidak menyenangkan terjadi dan sontak mengubur semua keceriaan saya. Dear friend of mine and also my roommate jatuh sakit. Seminggu lebih saya menemaninya sebelum akhirnya sang Ibu mengunjungi dan tinggal bersama kami sambil sahabat saya menjalani terapi alternatif.

Berhubung ada Omak-omak di rumah, my beautiful mess life berakhir. Baju-baju yang biasanya saya jejalkan sembarang ke dalam lemari, bangun pagi tempat tidur tidak pernah dirapikan dan tidak di kasih sprey, bantal nggak disarungin, semua berakhir. Saya merapikan berbagai aspek dalam rumah. Mulai dari kamar mandi, ruang tengah dan teras sampai mengganti sprey, sarung bantal dan yang paling menyebalkan adalah menguras isi lemari dan menyetrika semua pakaian saya. Wow, suddenly semua terlihat sangat CLING ! 

Pekerjaan bersih-bersih dan bongkar membongkar ini membawa saya kembali ke masa lalu. Apa pasal? Saya menemukan berbagai hal menarik dan membangkitkan emosi saat membongkar kardus-kardus berisi catatan dan diktat semasa kuliah dulu. Rasanya belum begitu lama saya menginjakkan kaki di kota Medan ini. Tapi mengapa semuanya begitu rapuh, lapuk dan dimakan waktu ya? 

Apa saja yang saya temukan? Komik karya culun saya, novel dengan tema fan fiction saya, karya-karya ilustrasi saya yang pernah  diterbitkan di SUARA USU. Semuanya membangkitkan kenangan akan cita-cita saya dulu untuk berkarir di bidang jurnalistik atau minimal jadi ilustrator. Saya geli sendiri membaca novel yang saya tulis jaman SMA yang karena nggak tamat-tamat saya bawa ke Medan untuk diteruskan. Hasilnya? Nihil. Saya tidak pernah melanjutkannya sama sekali. Saat selesai membaca salah satu karya unfinished tersebut sempat terpikir untuk melanjutkannya sekedar untuk menuntaskan kerjaan lama, tapi saya sudah lupa ending yang saya rencanakan dan saya sudah lupa istilah persepak bolaan!




Zaman SMA saya doyan menulis kisah-kisah fiksi yang terinspirasi dari komik-komik Jepang yang saya baca, baik itu shounen maupun shoujo. Nah, kalau saya kehabisan kertas isi binder (berhubung bokek) saya sering diijinkan menulisi kertas binder teman saya, Elsya Meci. Nah, kalo cerita sudah tamat seluruh halaman akan dipisahkan dan di bundel jadi satu. Tidak hanya menulis, saya juga menggambar ilustrasinya sendiri.

Nah, foto-foto di atas adalah kisah yang saya tulis untuk teman saya Lucyana. Dia memaksa saya untuk menulis kisah ini di bindernya agar dia juga memiliki kenang-kenangan kisah yang saya tulis seperti di binder Elsya Meci. Berhubung saat itu Lucya sangat menggemari sepakbola yang mana idolanya adalah Kaka, saya menulis kisah dengan latar belakang sepakbola. Sayangnnya saat itu saya lagi doyan komik tema basketball, Harlem Beat, jadi saya sedikit memasukkan unsur basketball di dalamnya. Saya dulunya penggemar sepak bola saat SMP, pengetahuan saya soal olahraga ini bisa dibilang cetek dan nyaris nol. Saat membaca ulang lagi setelah nyaris 7 tahun saya kaget dengan pengetahuan sepakbola saya di kisah ini. Setelah dipikir-pikir saya baru ingat kalau pas SMA saya lagi doyan nonton anime Captain Tsubasa dan saya penggemar berat komik The Striker dari SMP. Tidak heran kalau kisahnya sendiri agak-agak mirip The Striker dengan background yang sangat serial cantik elex media.

Penemuan saya selanjutnya adalah komik-komik yang saya gambar di atas kertas HVS pakek pinsil doang! (Kecuali bagian covernya)! Saya menulis beberapa komik cewek yang unyu-unyu gimanaaaaa gitu. Temanya cinta-cintaan, banyakan sih unrequited love. Tapi satu kesamaan yang saya lihat, karakter perempuan kesukaan saya adalah perempuan penindas laki-laki, tapi dibalik sikap jutek dan arogannya tersimpan jiwa yang lembut dan penyayang ( Alamakjangggggggggg *gantung diri*). Kalo nggak cewek penindas saya juga suka karakter cewek saya tuh anti sosial, zero-to hero, dan kutu buku. Sesekali saya bikin karakter cewek yang lelembut dan lemah. Entah dapat mood dari mana nulis kisah dengan tokoh perempuan seperti itu (mungkin masa itu saya lagi mellow yellow kali ya?).




Dari semua gambar di atas, hanya yang paling bawah yang sempat tamat. Sumpah, saat membaca ulang saya muntah darah! Culun banget, udah gitu sering nyadur gambar dan ekspresi dari komik lain! Syukur nggak sempat terbit resmi. Saya bisa membayangkan reaksi orang-orang yang membacanya. 

Beralih ke masa perkuliahan, saya mulai sedikit mengkomersialisasikan bakat gambar saya. Berawal dari seorang senior yang mempromosikan bakat saya pada teman-temannya (Thank You so Much kak Vinda, anda membantu saya menambah  pundi uang jajan bulanan yang tak seberapa) saya jadi mendapat proyek membuat gambar ilustrasi dan komik untuk nembak gebetan hehe. Proyek ilustrasi saya kebanyakan dipake oleh mahasiswa/i psikologi. Nggak tau deh mata kuliah apa yang bikin mereka pesen ilustrasi sama saya. Tapi lumayan lho, saya dapat Rp25.000 per gambar yang saya bikin.

Nah, kalo untuk proyek nembak gebetan saya sempat dapat 2 proyek yang lumayan menghasilkan duit. Dua-duanya datang dari kak Vinda. Hanya satu yang sempat saya copy untuk dijadikan arsip. Di bawah ini adalah preview nya =)

Klien saya yang ini berhasil jadian dengan gebetannya. Sayangnnya mereka kemudian putus. Saya sempat berjumpa dengan abang ini selang 2 tahun pasca proyek. Ajaibnya dia masih kenal saya, saya malah sudah lupa. Tapi syukur langsung ingat begitu dia bilang dia yang pesen komik. Saya ingat betul menggambar karakternya versi komik yang berjenggot berkali-kali sampe larut malam. Nama abang ini kalo nggak salah Donny. 




Selain menjadi ilustrator dan komikus bayaran freelance, saya juga sempat nangkring jadi ilustrator dan reporter di UKM Tabloid Mahasiswa Suara USU. Saya sempat menerbitkan komik serialisasi, tapi terputus karena saya mengundurkan diri dari SUARA USU karena alasan kesehatan. Ah, I wish i have a fit body. Sampai sekarang saya masih kepikiran soal pengunduran diri tersebut. Saya merasa seperti melepaskan sesuatu yang penting. 

Kalau dipikir-pikir, masa SD-SMP dan SMA adalah masa-masa saya paling produktif dalam berkarya. Memang masih cupu dan cetek, tapi saya konsisten menghasilkan tulisan, komik dan ilustrasi. Baik itu yang diterbitkan di Mading (Saat SMA saya menangani dua Mading, satu mading OSIS dan satu lagi Mading Rohis). Saat awal-awal kuliah juga saya sempat rajin menulis jurnal pribadi dengan bahasa acak kadut campuran Jepang, Inggris dan Indonesia. Kalau sekarang? Nulis singkat di blog  aja saya turun naek.

Saya sebenarnya suka kertas sebagai media menulis dan berekspresi. Saat menggunakan kertas, all you have to do is go with the  flow. You cant Undo it or simply copy and paste. Its all about be true to your self. Tidak heran sampai sekarang saya masih suka lapar mata beli buku dan notes. Saya juga paling suka kalau beli majalah ada bonus notesnya. Saya punya tiga buku tulis tebal yang isinya full gambar dan tulisan iseng saya (serius dan nyeleneh) dan juga diselipi catatan perkuliahan. Jika sedang suntuk saya suka membuka dan membaca kembali tulisan-tulisan jadul. Saya dapat menilai diri saya sendiri. Bercermin dan evaluasi diri saya masa kini. 

So What am i thinking? Saya seperti disadarkan bahwa saya semakin tua, tapi belum juga dewasa sepenuhnya. It's a wake up alarm. Dampaknya lebih keras dari pada setelah saya menonton Charlize Theron di movie Young Adult. Beban pikiran saya jadi bertambah karena saya mulai serius memikirkan hal-hal yang saya anggap sepele sebelumnya. Mungkin ini akan mengganggu tidur saya dalam beberapa hari ke depan. Mudah-mudahan saya tetap sehat dan waras.

Kamis, 07 Februari 2013

Ladies and the Culture Exchange

Kebudayaan tradisional jepang mungkin adalah kebudayaan tradisional yang paling mengglobal dan menjadi bagian dari kebudayaan populer di berbagai negara dunia. Seperti yang Profesor Situmorang ajarkan kepada saya dan kawan-kawan semasa kuliah dahulu, ada tiga lapisan kebudayaan dalam interaksinya dengan kebudayaan lainnya. Lapisan pertama dan terluar adalah Ilmu pengetahuan dan teknologi, lapisan ke-2 adalah kebudayaan dan paling dalam dan inti dari semuanya adalah agama. 

Lapisan yang paling mudah diserap adalah lapisan terluar, ilmu pengetahuan dan teknologi. Ketika sebuah komunitas masyarakat berinteraksi dengan komunitas di luarnya pastinya yang pertama kali dengan mudah mereka serap adalah ilmu pengetahuan dan teknologi yang dimiliki dan diaplikasikan oleh komunitas tersebut. Hal ini bisa kita lihat dari bagaimana Belanda menjajah Indonesia sampe lebih dari 3 abad. Memang sangat menyedihkan dijajah dan diperas sampe ke sum sum tulang belakang, tapi look at the bright side perlahan masyarakat Indonesia mulai teredukasi dengan cara Belanda. Setelah menyerap pendidikan Belanda maka kemudian cara hidup meneer dan noni akan ikut diadaptasi dan selanjutnya kita tahu bahwa kemudian agama Kristen juga berkembang di Indonesia. 

Di era modern sekarang ini perdagangan masih tetap menjadi media pertukaran kebudayaan. Jika dulu perdagangan antar bangsa dilakukan dengan cara barter maka sekarang ekspor impor menggantikannya. Produknya bukan hanya rempah dan tekstil, sekarang kebudayaan pun dikemas dan di perdagangkan dengan kemasan baru. Caranya? contoh sederhana adalah restoran franchise. Wendy's, Domino Pizza, Hoka Hoka Bento, A&W, KFC dan berbagai restoran fine dining berlisensi yang tersebar di kota-kota besar. Belum lagi cabel television yang memungkinkan kita menikmati sajian berita dan hiburan dari berbagai negara. Perlahan tapi pasti, kita mulai menyerap nilai-nilai kebudayaan dari negara seberang tersebut dan mengaplikasikan dalam kehidupan sehari-hari.

Lewat jalur pendidikan kebudayaan asing juga menelusup ke dalam kehidupan. Sekolah-sekolah di Indonesia banyak yang memasukkan pelajaran bahasa asing dalam kurikulum.Tidak hanya bahasa Inggris yang lazim disebut bahasa internasional, bahasa Jerman, Arab, Belanda, Jepang dan Mandarin. Di bangku kuliah, mempelajari bahasa tidak hanya sekedar tata bahasa dan kosa kata namun juga kebudayaan. Tidak heran jika disela-sela perkuliahan mahasiswa-mahasiswi bahasa asing akan mengadakan festival atau pertunjukan kebudayaan dari bahasa yang mereka pelajari. Yang paling semarak dan rutin diadakan dan tentunya menarik banyak atensi baik dari pakar dan awam adalah festival kebudayaan jepang. 

Korean Wave boleh mewabah, tapi belum bisa mengalahkan  meriahnya Festival Kebudayaan Jepang. Kalau menurut pendapat pribadi saya sih karena budaya populer Korea yang masuk ke Indonesia masih menyentuh satu lapis masyarakat saja yaitu sebagian besar teens dan young adult. Bandingkan dengan kebudayaan populer Jepang yang menyentuh nyaris seluruh lapisan masyarakat Indonesia. Anak-anak akan tertarik dengan animasi dan komik, remaja dengan harajuku style, dewasa dan orang tua tentunya lebih suka menikmati sesi workshop chanoyu, ikebana dan shodo. Itu lah daya tarik dari kebudayaan Jepang.

Jika Bunkasai lagi marak-maraknya diadakan seantero Medan ( dari Binjai sampai Perbaungan ikut-ikutan ) kebanyakan dibanjiri anak muda dan orang tua yang mendampingi anak-anaknya. Maka kali ini Konsulat Jenderal Jepang di Medan dengan didukung oleh perkumpulan Nyonya-Nyonya Medan Japan Club (Para Nyonya dari ekspat yang bekerja di Medan) mengadakan acara pengenalan kebudayaan Jepang bagi ibu-ibu PKK kantor Gubernur Sumatera Utara pada 6 Februari 2013. Acara ini terdiri dari workshop ikebana, chanoyu dan pemakaian yukata. 

Kehadiran saya di acara ini bukan buat terlibat langsung, hanya untuk urusan dekor mendekor. Tapi saya dan teman-teman satu tim dekorasi sempat menyaksikan chanoyu dan pemakaian yukata sebelum membenahi dekorasi setelah acara selesai. Dari apa yang saya lihat, para ibu-ibu PKK tampak sangat excited dan curious dengan setiap langkah-langkah chanoyu. Mereka juga banyak bertanya, mulai dari pertanyaan remeh sampai cukup serius. Ibu Khadijah dari Konsulat Jenderal Jepang di Medan juga menjabarkan berbagai keterangan dan informasi mengenai upacara minum teh sementara Mrs Kai suiko beraksi. Untuk ikebana ada Mrs Sakae Sitompul sebagai instrukturnya.

Saya tidak melakukan tanya jawab, apalagi wawancara di acara ini. Hanya jadi penonton pasif, dan pengamat aktif berhubung mata saya mengantuk sangat haha. Tapi saya menyempatkan diri buat mengambil beberapa gambar ...

















The flowers

The Arrangement 

To Tuk Tuk I'll Be Back !

Apa objek pariwisata paling paten di Sumatera Utara? DANAU TOBA!

Semua wisatawan yang berkunjung ke Sumatera Utara, pasti menyempatkan diri berkunjung ke danau Toba. Rugi kalo nggak menginjakan kaki di Parapat dan menyeberang ke Samosir. Rasanya kedatangan anda ke Sumatera Utara akan terasa hambar ibarat cake tanpa topping. Ini serius. Dan anehnya saya baru menyadari setelah hampir 7 tahun tinggal di Medan haha.

Saya cukup sering bepergian selama tinggal di Medan. Bepergian dalam artian mengunjungi berbagai tempat di dalam dan luar kota. Tujuan bepergian saya macam-macam, mulai dari RUA Suara USU, Pelatihan Kepemimpinan IMIB-USU, piknik bareng teman-teman seangkatan kuliah sebelum memasuki medan pertempuran bimbingan skripsi, Gasshuku (acara maen-maen bareng junior tahun pertama), dan belakangan adalah gara-gara aktivitas saya sebagai asisten fotografer merangkap fotografer trainee TROTOA. 

Beberapa tempat yang pernah saya sambangi bersama TROTOA adalah Bagan Batu, Duri,  Kaban Jahe, Perbaungan, Namorambe, Tembung termasuk Danau Toba. Saya sudah berkali-kali melewati Danau terbesar di Asia Tenggara ini karena saya keseringan menggunakan jasa transportasi darat jika mau mudik. Rute Medan-Bukittinggi jika melalui Lintas Timur & Tengah pasti melalui Danau Toba. Biasanya saya sudah terbangun di pukul 06.00 WIB saat bus ALS yang saya tumpangi sedang menyusuri jalan di pinggir danau.

Walau sudah berkali-kali lewat dan menginap di Parapat dalam rangka berbagai kegiatan kemahasiswaan, saya belum tersimpuh jatuh cinta pada lokasi eksotis ini. Pernah memang saya melewati hari di Samosir dalam rangka sesi pre-wedding. Namun berhubung waktu itu tim nya kecil, saya sibuk mengurus kostum dan si pengantin sampe tidak menghayati eksotisme di sekitar saya. 

Saya kembali ke Danau Toba pada 2 Februari semalam. Dalam rangka sesi pre-wedding yang berlangsung selama dua hari, 2-3 februari, saya dan fotografer TROTOA, Mr Berry G dan marketing kami yang konon kata si Boss masih trainee, Mr Lubis berkesempatan menikmati Danau Toba sekali lagi. Kali ini bermalam di Pulau Samosir, tepatnya di Tuk tuk, Bagus Bay cottage. 

Setelah menyelesaikan sesi formal di Tanjung Morawa, kami segera meluncur ke Parapat untuk mengejar ferry penyeberangan terakhir pukul 21.00 WIB. Kami sampai tepat waktu setelah sebelumnya cukup deg-degan tidak akan terkejar berhubung sesi pertama dikacaukan oleh hujan dan Waktu Indonesia Barat. Penyeberangan dengan ferry memakan waktu kurang dari 1 jam. Setelah merapat di Tomok, kami melanjutkan perjalanan ke Tuk Tuk, menuju penginapan tempat kami melepas lelah, Bagus Bay.

Sesampainya disana, kami belum halal beristirahat karena perut kami ribut minta di isi. Syukurlah menemukan rumah makan yang sedia nasi putih dan lauk halal tidak susah disini, konon lagi buka 24 jam. Kami akhirnya makan malam pukul 23.00 WIB. Setelah makan malam, kami melakukan briefing soal time line pemotretan keesokan harinya. Trotoa's photographer menginginkan sesi Sunrise di lake side. Jadi kami diharapkan sudah bersiap-siap dari pukul 4 pagi. Selanjutnya kami mencocokan wardrobe dan properti. Lewat pukul 12 barulah masing-masing kami diizinkan tidur setelah sebelumnya diwanti-wanti  oleh OTR Manager TROTOA (Trainee) Mr Lubis untuk taat pada schedule. 

Karena nggak ingin terburu-buru paginya, saya menyelesaikan semua props tengah malam itu juga. Saya berhasil menyelusup ke dalam selimut pada pukul 02.00 WIB dini hari dengan rencana bangun pukul 05.00 WIB. 

Kejadian berikutnya adalah saya terbangun karena alarm berbunyi berikut ketukan di pintu jendela oleh OTR manager (Trainee) Mr Lubis . Sudah pukul 05.00 WIB dan make up artist kami belum menyentuh wajah pasiennya. Gawatz. Sudah bisa diduga kalau selanjutnya kami bergerak dengan sangat cepat. Sun rise can not be paused. We have to chase it! Tidak berhasil menyalakan keran air panas, saya diguyur shower dengan air sedingin es subuh-subuh. Berlarian kesana kemari dengan mata dipaksa melek itu sedikit menyiksa apalagi  saya sampai tidak melihat got di depan mata. Terperosok adalah ganjarannya. Lecet di tangan dan lutut jadi souvenirnya, haha *ketawa pahit*

Akhirnya dengan banyak paksaan dan tekanan, sepasang calon manten itu sukses difoto dengan latar sunrise. Pfuihhhh, lega!

Sesi selanjutnya berjalan cukup lancar dan menyenangkan. Keuntungan dari trip pre-wedding kali ini adalah dengan banyaknya kru dan pendamping klien yang terlibat, saya jadi bisa menikmati waktu saya di Tuk Tuk. Saya jatuh cinta. Saya terpesona. Dan saya mendeklarasikan diri untuk kembali lagi, tanpa embel-embel pekerjaan. Just Me and the lake. Just Me and Me time. Saya tidak bisa berkomen banyak soal Tuk Tuk. Saya hanya menghirup udaranya yang segar dan pemandangan yang indah di sela-sela jeda pemotretan. Saya tidak menggelinjang kegirangan atau bernorak ria, tidak. Saya merasa rileks. Tentram. Seperti di surga (mungkin, karena saya belum pernah ke sana sebelumnya, ini hanya perumpamaan saya saja).

So Tuk Tuk, wait for me. I'll be back. So there'll be Just you and me.



Danau Toba, dari Menara Tele

Bagus Bay main building

Bagus Bay's backyard, the lake =)

Breakfast with homemade bread at Tabo Cottage 

The Coin Boy of Lake Toba, throw the coin He'll jump to pick it

Not Only The Lake, but also...

A Valley 

Relax...

Have A Romantic Date

Picnic

The Crew :
Mr Berry G, The Photographer

On The Road Manager, and also our marketing, Mr Lubis

Mrs Dewi, The Make Up Doctor

Mr Pardede, Our super fun driver! He is smart and very informative during the journey. You wont get bored, trust me!

And of course the bride and groom to be, Ferry and Fitri. Berhubung mereka belum menginginkan deatil pre-wedding dilahap oleh orang lain, foto ini lah yang baru di launching oleh TROTOA secara resmi.

Kebanyakan foto-foto yang saya ambil adalah candid sesi pre-wedding. Tapi berhubung klien kami tidak ingin dipublikasikan sebelum hari yang ditentukan jadi saya tidak bia nge-share banyak foto mereka, karena kebanyakan close up. Mungkin kalau sudah dapat lampu ijo untuk diedarkan, baru deh saya upload lagi foto-foto selama di danau Toba ini. Pokoknya saya harus kembali !