Selasa, 24 Januari 2017

Ketika Saya Jadi Fotografer Dadakan, Lagi



Jadi, kemarin saya baru jadi fotografer (dadakan) lagi. Kali ini saya dimintai memotret produk. Wah, jauh berbeda dengan job-job motret yang terbiasa saya lakukan sebagai asisten dulunya semasa masih di Trotoa Photography maupun ketika going solo buat bantu-bantu teman dekat saya. Ini sebenarnya kali kedua saya motret produk, sebelumnya saya motret produk berupa makanan atas permintaan Ibunda dari teman pas masih di Medan. Hasilnya sangat tidak memuaskan sebenarnya, bagi saya ya, tapi bagi Ibunda teman saya masih dalam taraf acceptable lah, walau maunya exceed expectation (lu kate lagi ujian OWL, and i am not Harry Potter huhuhu).  

A Not-So-Secret Garden Now, Lezatta Green House


Pariwisata di tanah kelahiran saya semakin berkembang dan semakin beragam. Objek-objek wisata semakin banyak yang berbenah dan mepercantik diri dan juga tidak lupa berinovasi. Memanfaatkan derasnya arus informasi dan semakin meningkatnya penggunaan smartphone di berbagai lapisan masyarakat memungkinkan promosi objek wisata baru semakin mudah, it's just one post, one click and one share anyway.

Minggu, 22 Januari 2017

Ke Yatai Ramen Lagi



Seseuai judulnya, saya dan adik saya akhirnya ke Yatai lagi. Yatai Ramen, kedai ramen yang ada dipinggir jalan Garegeh, Bukittinggi. Kalau kita datang dari arah Baso atau Payakumbuh, kedai ramen ini ada disebelah kiri setelah hotel Nikita.

Jumat, 20 Januari 2017

Wajah Baru Panorama Tabek Patah



Panorama Tabek Patah adalah salah satu objek wisata andalan Kabupaten Tanah Datar sejak tahun 90-an. Namun seiring dengan perkembangan zaman dan kurangnya inovasi, perlahan objek wisata ini mulai kehilangan pesonanya.

Kamis, 10 November 2016

Senja di Istana


Jam kerja saya di Istana menurut kontrak adalah pukul 08.00 WIB - 16.00 WIB. Namun pada prakteknya saya setiap harinya datang pada pukul 09.00 WIB dan pulang ke rumah bersamaan dengan juru kunci menutup semua jendela di lantai 2 dan lantai 3. Ini murni inisiatif pribadi karena pukul 08.00 WIB sangatlah langka ada pengunjung di Istana, sementara pengunjung akan mulai ramai setelah jam makan siang hingga pukul 18.00 WIB. 

Selama bekerja sebagai pramuwisata sejak Agustus 2014, saya jarang sekali memperhatikan warna senja di Istana. Selain karena harus bekerja hingga matahari terbenam, saat akan pulang saya biasanya selalu terburu-buru karena ingin sampai di rumah sebelum Magrib. Tidak sedikitpun mata saya akan memandangi langit dan menemukan ronanya seperti apa. 

Selasa, 08 November 2016

Yatai Ramen, Kedai Ramen berasa Butler Cafe


Kedai ramen dan Butler Cafe, itu yang muncul dibenak saya ketika menginjakkan kaki di kedai mungil berwarna merah di Garegeh, Bukittinggi. Kedai ini tidak begitu terlihat jika kita tidak mengamati dengan benar. Plang namanya pun berwarna dasar hitam dengan tulisan merah. Saya nggak akan ngeh kalau ada kedai Japanese food disana andai mata saya nggak menangkap sesuatu yang nggak lazim di pinggir jalan Soekarno-Hatta Garegeh siang tadi. Apa yang tidak lazim?

Minggu, 06 November 2016

Yang Baru di Istana Pagaruyung



Oke, ini sebenarnya ngak baru-baru amat. Hanya saja saya memang baru menuliskannya di blog baru-baru ini. Foto-fotonya pun sudah saya upload di sosial media saya yang lain yang lebih praktis dan nggak pakai lama.

Ada banyak tren yang terlihat dari pariwisata Sumatera Barat. Tren-tren ini nyaris merata dan serupa dimana-mana. Mulai ari pesisir hingga ke alam dataran tingginya. Contohnya saja pembuatan landmark nama kota atau nama objek wisata. Tidak ada lagi plang nama a la kadarnya. Sekarang zamannya nama lokasi objek wisata atau kota dirancang dan dibuat sebesar-besarnya. Agar terlihat jelas dan mengundang orang-orang mengaguminya. Tidak sedikit malah yang berfoto didepannya atau sekedar memilih huruf yanga ada di namanya. Versi ektrim adalah memanjat, bergelayutan sampai huruf itu patah. Ah, dasar lah memang kau manusia. Peletakan nama versi besar-besaran ini tidak hanya di tempat yang laindai, di lereng bukit pun dijabani. A la a la Hollywood begitu katanya. Coba lihat Sawah Lunto dan Pagaruyung di Sumatera Barat. Ini sukses mengundang decak kagum pengunjung luar negeri yang tidak menyangka Hollywood memberi inspirasi sampai sejauh ini.