Senin, 08 Oktober 2012

Happy Wedding


Seorang teman teman masa SMA menulis status "Disaat satu persatu teman mengirimkan wedding invitation, menimbulkan sebuah pertanyaan besar, giliran saya kapan ?? :D " Wow, Di usia yang menginjak nyaris seperempat abad  ini para sahabat perempuan saya sudah mulai memikirkan masalah berumah tangga. Kalau saya?  -____-"

errr...

Menikah? Berumah tangga? Settle down? 

Jauhhhhhh. Masih sangat jauh permasalahan itu terlintas di kepala saya. Pernah orang tua saya, dalam kasus ini Ibu saya bertanya perihal jodoh saya,

Ibu : Siapa pacarmu sekarang? Kalau udah ada ya dikenalin lah... jangan disembunyikan.
Saya: Nggak, nggak ada kok. Jadi nggak ada yang musti dikenalin dan disembunyiin
Ibu : Perempuan tu bagusnya menikah di usia 25 lho...
Saya: Saya nggak pande pacaran Bu, jadi nanti umur 28 ibuk cariin aja pria tampan nan mapan yang bersedia dinikahkan dengan saya..

Menurut hasil sensus penduduk tahun 2010, 50% penduduk Indonesia berjenis kelamin perempuan menikah di Usia di bawah 19 tahun. Sangat muda memang. Rata-rata pernikahan dini ini terjadi di daerah-daerah pedesaan namun di daerah perkotaan juga banyak terjadi pernikahan dini, khususnya di kalangan masyarakat dengan tingkat pendidikan rendah. Selain fakta mengejutkan di atas, ada hal lain yang juga cukup mengejutkan bahwa menikah di usia di atas 30 tahun tidak lagi menjadi hal yang tabu bin memalukan. Rata-rata perempuan yang menikah di atas usia 30 tahun adalah perempuan yang memiliki karir. Tipikal perempuan karir ini memiliki riwayat pendidikan yang bagus dan memiliki pandangan yang lebih logis atau kalau nggak terlalu 'kritis' terhadap lembaga pernikahan.

Saya masuk golongan mana?

Belum tau ding, 

Pernikahan bukanlah hal yang saya prioritaskan di usia 24 tahun. Entah kalo saya sudah berusia 39 tahun, hopeless takut akan kesendirian di hari tua, saya akan turun ke jalan dan menikahi pria mana pun yang bersedia. Hahaha

Book-EK


Ini perasaan saya saja atau memang harga-harga buku dan majalah bekas di Titi Gantung tu semakin melangit?

Titi Gantung atawa Lapangan Merdeka udah jadi spot favorit saya sejak pertama kali menjadi anak gaul di kota Medan. Awalnya beli-beli komik dan kamus bahasa Jepang bajakan, lama-lama saya merasa betah sekedar sight seeing disana apalagi sudah punya tempat langganan yang doyan traktir teh botol kalau saya mampir, hehehe.

Puncak aktivitas saya di Titi Gantung terjadi saat bekerja sambilan disebuah Toko buku merangkap rental buku dan sempat berekspansi menjadi kafe sebelum akhirnya gulung tikar, Rumah Buku Medan. Karena Boss Woman tahhu saya sering nyatronin lapangan merdeka buat hunting2 komik, novel dan majalah.. boss woman akhirnya sering mempercayakan pembelian novel dan komik baru untuk barang jualan kepada saya. Kadang saya ditemani oleh sang boss women, lebih sering sendiri karena boss women sibuk dengan kerjaannya yang lain. 

Masa-masa mengerjakan sekeripsi juga merupakan waktu dimana saya nyaris tiap minggu ke Titi Gantung -untuk selanjutnya disebut Tigan-. Galau sedikit dengan dosen saya ke Tigan nyari komik dan novel. Sekeripsiong di corat coret disuruh revisi saya tersesat ke Tigan dan malah makan mie ayam. Sidang saya terus menerus ditunda saya kabur ke setasiun kereta api di depan tigan buat menenangkan diri ke Perbaungan.

Mungkin karena keseringan, saya sampai nggak sadar bahwa pelan naik dan semakin naik. Jika dulunya novel-novel bekas masih bisa dapet 10000, sekarang 25000 dan kalo nawar pasti dicuekin. Novel baru yang biasanya masih bisa kita bei dengan harga 15000 sekarang berganti gaya penjualan.

Saya  : Bang, berapa nih? *nunjukin novel karya penulis Jepang yang nggak begitu populer*
Abang Tigan : 40 (ribu maksudnya), dah korting 30% tuh dari harga aseli.
Saya  : Mata melotot dan hidung mengembang *Serius Lo ?*

So, Tigan sekarang udah menjadi layaknya toko buku diskon yang ga murah-murah amat. Beda harga antara di Toko Buku besar dengan Tigan sekarang berdasarkan korting 30 %. Yang bikin sebal tu, pernah saya menjumpai sebuah buku yang menarik minat,

Saya  : Berapa ni bang?
Abang Tigan : 50 ribu dek, baru masuk itu.
Saya  : Mahal amatttt ! Ini Gr*media atau Titi Gantung sih?

Karena kemahelan saya nggak jadi beli. Tanpa direncanakan saya si hari yang sama setelah dari Tigan mampir ke ATM Gr*media Gajah Mada dan menemukan bahwa disana lagi ada cuci gudang buku-buku Gramedia. And You know wattttt? Buku yang kate si pedagang buku Tigan harganya 50 rebu dijual seharga 25 RIBU saja di parkiran belakang Gr*media Gajah Mada !

Dan siang ini saya kembali ke Tigan untuk mencari buku mengenai microsoft excel. Namun buat jaga-jaga saya juga berniat mencari novel-novel bagus untuk dikoleksi *apa hubungannya coba?* dan yah... Untuk 2 novel saya kenak charge 65 rebu, 2 majalah Harper's Bazaar Indonesia keluaran tahun 2011 dan Vogue Australia keluaran 2011 saya kenak 25 rebu, satu buku Microsoft office 2010 saya kenak 25 rebu, dan dua mini ensiklopedi fashion saya kena 25 rebu...

Tapi memang tidak ada tempat lain yang lebih menyenangkan dari pada Tigan. Walau harganya makin naik, dan gosipnya juga pemerintah kota Medan mau merelokasi usaha para pedagang buku disana saya merasa harus maklum juga. Harga buku di toko buku aja sudah meroket dari kemaren-kemaren, rasanya wajar juga kalau harga buku di Tigan ikut-ikutan naik. Tapi tetap saja sedihnya saya adalah harga komik baru yang biasanya cuman 7000 dan kadang malah 20 rebu dapat 5 bijik sekarang harga satuannya sudah 10000 !




Minggu, 07 Oktober 2012

Pre Wedding Madness


Biografi penulis :
Wilma Prima telah berkecimpung dalam dunia per-fotografi pre-wedding selama hampir 1 tahun. Pengalaman kerjanya di dunia pre Wedding photography meliputi  tugas-tugas paling sulit diantaranya mengamankan pakaian pengantin, menghalau anjing liar yang mengganggu jalannya pemotretan dan menghibur pengantin perempuan yang mengalami marriage blue termasuk over paranoid, panick attack dan konstipasi.

Pre-wedding telah menjadi sebuah kebutuhan yang nyaris mutlak bagi pasangan yang berniat melanjutkan hubungan ke tahap yang paling serius, MENIKAH. Berawal dari sebuah tren, pada perkembangannya menjadi sebuah kebutuhan. Dalam dunia yang berkembang dengan cepat ini, modernitas telah menyentuh berbagai aspek kehidupan di masyarakat. Kebudayaan asli kini tidak lagi menjadi eksklusif dan mulai permisif terhadap sentuhan-sentuhan baru dari dunia luar.

Sejak terjun secara tidak sengaja ke dunia per-pre-wedding-an saya banyak mengalami pengalaman yang lucu, haru biru bahkan menggemaskan sampai kadang saya pengen menjambak sanggul si calon pengantin dan menonjok lensa mahal si fotografer. Bagaimana tidak bekerja dengan fotografer freelancer dengan pekerjaan juga status freelancer (alias buruh lepas) dengan jam kerja terkadang gila-gilaan membuat emosi kadang turun naik seharian. Konon lagi kalau sedang berhadapan dengan siklus bulanan.

Pengalaman paling mengesankan adalah mengerjakan 3 pre-wedding selama 3 hari berturut-turut. 2 pre-wedding klien dan 1 pre-wedding si fotografer. 'Mengesankan' disini artinya bisa berbagai hal. Meninggalkan kesan menjemukan, menjengkelkan, membosankan dan  lain sebagainya. Dengan 2 klien awal yang lokasi pre-wedding sama dan tanpa konsep yang jelas membuat saya sebagai asisten mati gaya, mati akal dan mandeg. Hari pertama mungkin akan lebih santai walau kliennya bossynya minta ampun. Hari ke-2 sungguh menjemukan. Mengulangi arahan yang sama dan meladeni gaya yang sama membuat saya eneg dan mulai ogah-ogahan. Konon lagi hari ke-3 dimana yang ditangani adalah si fotografer itu sendiri. Saya lelah dan mengantuk dan satu-satunya yang ada dikepala saya adalah ingin tidur. Apalagi saat pemotretan pre-wedding si fotografer ada 2 fotografer dan 1 asisten lain selain saya. I almost have nothing to do but helping the bride changing her costume. Berawal dari pengalaman ini saya mulai membangun berbagai ide di kepala bagaimana agar pemotretan pre-wedding menjadi tidak menjemukan dan efisien secara waktu dan tempat.

1)  Before Pre-wedding
Pemilihan fotografer adalah hal yang sangat penting dalam pre-wedding. Bagaimana tidak, fotografer adalah pihak yang akan menerjemahkan image anda dalam foto-fotonya. Penting sekali bagi calon pengantin untuk mengadakan riset mengenai fotografer atau studio yang hendak dipakai jasanyanya. Baik dengan cara bertanya langsung mau pun mereview testimoni klien-kien fotografer atau studio sebelumnya. Dengan cara ini calon pengantin akan mendapat gambaran jelas mengenai hasil kerja dan cara kerja fotografer bersangkutan. 

Setelah menentukan fotografer atau studio idaman, kalau bisa persiapkan beberapa option (2-3 pilihan) tentukan budget yang anda keluarkan. Studio mau pun freelance fotografer umumnya memiliki paket-paket dalam layanan mereka. Jika studio menangani segala sesuatu dengan profesional dan mendetail, maka beda dengan freelance fotografer yang biasanya hanya menangani jasa fotografi dan cetak hasil. Berurusan dengan fotografer freelance maka anda juga berurusan dengan make-up artist lain, wardrobe studio lain, dan properti-properti lain. Namun beriurusan dengan freelance fotografer memungkinkan anda mengatur budget dengan lebih detail dan meminimalisir  transaksi-transaksi tidak penting dalam prosesnya.

Setelah 2 hal tersebut diputuskan, maka tentukanlah konsep yang anda inginkan. penentuan konsep sebenarnya bisa dilakukan di awal, setelah anda tahu konsep yang anda inginkan maka anda bisa dengan mudah menentukan dengan pihak mana anda cocok bekerjasama. tapi jika di awal anda belum yakin dengan apa yang anda inginkan, fotografer dapat membantu anda membangun konsep pre-wedding idaman anda termasuk masalah lokasi karena tentunya fotografer lebih berpengalaman dalam hal tersebut.

Alangkah bagusnya jika anda melakukan komunikasi yang intens dengan fotografer anda. Khususnya saat membahas konsep. Berurusan dengan fotografer freelance berarti anda mengurus semua properti pemotretan anda sendiri. Setelah menentukan tema maka buatlah list kebutuhan properti anda dan tentukan lokasi eksekusi apakah itu out door atau indoor. Selain itu pastikan kebutuhan kru anda. Fotografer biasanya membawa seorang asisten, tapi itu adalah asistennya, bukan asisten anda (pengalaman pribadi). Seorang asisten akan meringankan beban anda selama proses pemotretan berlangsung. At least anda punya seseorang untuk membantu anda sekedar mengencangkan korset dan mengambilkan air minum dan membawakan wardrobe anda yang bejibun. Dan asisten ini sebaiknya perempuan, karena yang paling butuh adalah calon pengantin perempuan.

Setelah persiapan properti maka wardrobe menjadi hal berikut yang anda perhatikan, Pastikan anda fitting wardrobe sebelum hari H. Jangan sampai di hari H wardrobe anda ternyata kebesaran atau malah parahnya kesempitan. Jika memungkinkan ada baiknya jauh-jauh hari sebelum hari H anda sudah melakukan perawatan tubuh. Hal yang paling lazim saya temui dalam pemotretan adalah pengantin perempuan bermasalah dengan jerawat dan pengantin pria walau bertubuh proporsional dari luar ternyata perutnya buncit *sighhh* . 

2) Hari H
Saat hari H pastikan tubuh anda fit dan juga relationship anda dengan pasangan fit ! Rasanya menyebalkan mengurus pre-wedding pasangan yang sedang bertengkar. No chemistry dan sulit untuk diarahkan. rasanya pengen cepat2 bilang, OK that's a wrap ! Lets go Home, seriously !

Pastikan kendaraan tempur sedia dan dalam keadaan fit. Nggak lucu dong kalau acara pre-wedding anda terganggu karena si mobil mogok?

Cash money prepare. Dalam setiap prewedding baik itu with freelance maupun studio biasanya akomodasi ditanggung klien, jadi sediakan cash money yang cukup walau untuk sekedar bayar parkir atau membeli sebotol aqua.

Chek and re-check. Pastikan semua wardrobe dan properti telah  sedia dan lengkap saat di dimasukkan ke bagasi. Juga pastikan kembali lokasi yang ingin dituju available. Kru yang  terlibat juga sudah ready to pack. hehe

Last bt not least berdoalah semoga cuaca mendukung eksekusi anda, jika memang lagi sial dan hujan turun sebaiknya anda punya back up plan juga agar pre-wedding anda tetap berjalan dengan sempurna.

Ok, that's a wrap everybody, lets do it !

Jika anda butuh fotografer untuk prewedding anda kontak saya saja... untuk lebih meyakinkan anda kunjungi blog jasa fotografi saya dan sahabat di http://trotoa.wordpress.com/ .


Jumat, 05 Oktober 2012

Body Me You


TGIF ! Thanks God I'm Fabulous ! Seandainya setiap perempuan memiliki tubuh indah sesuai dengan yang diimpikannya, pasti akan berucap seperti itu. And TGIF again! Thanks God It's Friday. Jumat kali ini tidak saya lewatkan dengan menangisi panggilan dr salah satu perusahaan incaran saya tidak kunjung datang. Yang berarti saya tidak lulus tes tertulis. Bah !

Saya memiliki beberapa teman akrab saat kuliah. Tidak hanya teman satu angkatan atau stambuk bahasa Medannya, tapi juga junior dan senior. Teman yang paling sering hang-out dan bar-gaje-gaje dengan saya adalah teman dari angkatan junior saya. Jika saya adalah stambuk 2006, maka teman nongkrong saya ini adalah stambuk 2007. Mereka tidak lebih muda dari pada saya, kami sebaya. Hanya saja mereka menunda kuliah satu tahun sehingga menempatkan posisi mereka di dunia perkampusan sebagai kouhai (junior) saya. Namun bukan sahabat junior yang mau saya bicarakan. Saya mau bicarakan soal sahabat satu angkatan saya dan seorang senior.

Jumat malam kali ini saya dan dua orang teman satu angkatan saya sesama eks-mahasiswi Sastra Jepang bertemu kangen setelah seminggu tidak bertemu (halah). Jumat malam minggu lalu kami suah melewatkan ladies karaoke nite sambil mabok kentang goreng. Maka malam ini kami kumpul-kumpul dengan agenda utang piutang malam karaoke. HAHAHA.

Saat sedang duduk dan berniat memesan menu kepada waitress Pizza Hut Plaza Medan Fair, sesosok perempuan berbadan kecil namun chubby menepuk pundakku. Suara nyaring dan tawanya khas. Ia menyapa aku dan teman-teman semejaku dengan hangat membara seperti sudah se-abad tidak bertemu (faktanya kami memang sudah tidak bertemu selama setahun).  Dia Senior kami. Senior kami yang lucu, mungil , dan ceking -OK, bagian ceking ini harus ditulis dalam bentuk past tense, karena bahasa indonesia tidak mengakomodasi bentuk lampau maka biar saya jelaskan di penjelasan interupsi yang nggak penting ini.

Ia datang bersama sang Adik yang 4 tahun lebih muda. Berstruktur wajah sama, kecil dan sepasang bola mata super belo. Sangat identik satu sama lain. Setelah sedikit bercengkerama akhirnya kami memutuskan menggabung meja dan mulai memesan menu paket dengan bill terpisah (ketahuan miskinnya!). Entah mengapa tumben-tumbennya pesanan kami cepat datang dan dimulailah pembicaraan kangen-kangenan dan studi komparatif para gadis mantan mahasiswa ini.

Senior : Wah Fris, kau makin cantik ya...
Friska : -pasang aksi mentel dan pose gadis anggun kantoran bergaji cetek-  baru tau kakak?
Senior : Kau makin kurus ya dibanding waktu kuliah dulu, makin cantik lah jadinya.
Saya  : Kakak nggak tau sekeras apa dia berdiet demi bodi yang sekarang, sampe kenak tipes dia !

Ya, sahabat saya  sebut saja Mawar 23 tahun korban pelecehan seksual anak TK sebelah rumahnya  Friska, seorang promotion staff perusahaan suplier alat musik terbesar di Sumatera Utara. Penampilannya layaknya gadis lajang yang bekerja tanpa tanggungan (kecuali bayar kredit sepeda motor tentunya), sepatu, tas, rambut dan make up yang tertata rapi. Jika melihat foto-foto awal kuliah tidak akan ada yang menyangka Friska berbodi lumayan berisi plus ditunjang sama penampilan yang rada-rada boyish, khas mahasiswa-mahasiswa baru, sneakers and t-shirt adalah wardrobe favoritnya.  Sekarang, meet new Friska, career woman bersepeda motor matic (hasil gaji jadi bankir sebelumnya) , ber-rok mini, blus feminin,  dan killer heels dan body yang seratus lapan puluh derjat beda... dari bodi jaman kuliah.

"Aku sejak kerja ini lah jadi begini badanku. Awalnya awak nggak sadar-sadar sampai waktu itu naik becak sama adek dan Uni ku," cerita si kakak Senior."Jadi biasanya kalau kami naek becak, kami bertiga muat duduk di satu tempat duduk itu. Tapi tiba-tiba aja saat itu aku mau duduk, 'Un, geser dong Un' aku sampe berkata gitu lho sanking nggak muatnya lagi..." Wajah si kakak kontan memerah dan tertawa sendiri mengingat pengalamannya. Dia kemudian bercerita lagi soal pengalaman geser menggesernya, "Di angkot biasanya awak yang paling kecil bisa diselipin, sekarang orang mau duduk pasti awak diminta bergeser." Sejak mulai bekerja sebagai seorang ilustrator di sebuah perusahaan multimedia pembuat game dan software, Seniorku itu mengaku semakin jarang bergerak dan semakin banyak makan. Bekerja di depan layar komputer dengnan tuntutan deadline membuatnya seringa melarikan diri dan memperbaiki mood dengan makanan.

Hal seperti ini bukan cuman seniorku yang satu ini yang merasakan. Salah satu seniorku yang kutemui beberapa hari sebelumnya juga mengalami perubahan drastis. Dulu ia bertubuh sangat ideal, namun saat bertemu aku terkejut dengan perubahan badannya. Ia sempat bekerja sebagai operator telpon perusahaan taksi. Dimana situasi bekerjanya nyaris sama dengan seniorku yang satu itu. Duduk dibelakang meja dan bekerja dengan instrumen yang berada di atas meja saja. Lagi-lagi makanan menjadi sebuah pelarian. Sahabat-sahabat kuliahku juga banyak mengalami hal yang sama, Staff Kantor, Teller Bank, dan Costumer service adalah jenis-jenis pekerjaan yang memungkinkan seseorang menjadi gemuk secara instan. Umumnya reaksi pertama saya saat bertemu dengan mereka setelah sekian lama adalah ,"Wah, gemukan ya. Makmur banget idup lo!". Hahahaha. Lain dengan teman-teman yang bekerja di lapangan. Mereka keballikan dari yang bekerja kantoran, KURUS. Karena aktifitas dan mobilitas kerja yang berbeda mereka mengeluarkan lebih banyak keringat dan membakar lebih banyak kalori.

Kembali ke cerita di awal, tubuh Friska memang jauh lebih ideal yang sekarang dibanding saat kuliah. Demi tubuhnya yang sekarang Friska menjalani berbagai percobaan diet ketat dan experimen makanan yang ditelusurinya dari internet. Walau sempat menemui jalan buntu dan stagnan, Friska segera menyadari ritmenya dengan mempelajari plus-minus program diet yang diuji cobanya.

"Aku mulai diet waktu pertengahan kuliah, Aku riset di internet aku print semua nya. Dari situ aku cobain satu persatu. Mulai dari Diet karbohidrat, diet golongan darah semuanya, aku bahkan pernah nyobain diet yang mengganti makanan dengan PISANG!"

"Hah, pisang?"

"Iya, aku cuman makan pisang selama seminggu. Efeknya berat badanlu memang turun. tapi badanku lemas, tidak berenergi. Aku sampe sempoyongan ke kampus."

Friska lalu mulai bercerita soal diet-diet lainnya, hingga pengalaman dia pernah nyaris anoreksia. Dari pengalaman Friska, 1 bulan pertama diet adalah tahap yang paling gampang karena akan langsung menunjukkan hasil Tapi tahap satu bulan pertama inilah yang paling krusial dari program diet keseluruhan. saat 1 bulan pertama seorang diet-er berhasil menurunkan berat 4 Kg maka secara otomatis dia akan berpikir bahwa jika dia konsisten dengan dietnya maka ia akan menurunkan berat badan dalam jumlah sama bulan berikutnya. Padahal di bulan ke-dua adalah tahap stagnan. Di bulan tersebut berat badan akan stuck. Tidak berkurang sama sekali. Nah, Diet-er yang hopeless biasanya akan stress dan berpaling dari diet karena berpikir dietnya tidak lagi efektif.

"Justru jika kita bisa bertahan melewati bulan ke-2, maka kita pasti bisa berhasil di bulan ke-3 dan seterusnya  begitu pengalamanku."

Saya dan teman termasuk senior dan adiknya takzim mendengar penjelasan Friska.

"Trus yang paling penting, kita harus kenal tubuh kita sendiri. Badan kita ni faktor turunan. Kalau memang turunan berbadan kecil, kita bisa diet sampai ceking, tapi kalau memang dari sononya turunan badan besar, berusaha sampai kapan pun nggak akan bisa dapat badan sekurus dia -Friska otomatis nunjuk saya-"

"Makanya aku nggak maksa buat nurunin berat badan lagi. Saat ini beratku berkisar di 49-50-51 dengan tinggiku yang cuman 150 cm."

Perempuan mungkin memang makhluk ciptaan Tuhan paling cantik (that's why kata 'cantik' memang tercipta cuman buat perempuan). Tidak heran jika mereka senantiasa berusaha menjaga anugerah yang Tuhan berikan kepada mereka. Mulai dari ujung kepala sampai ujung kakai ada nama treatmentnya. cream-bath, meni-pedi, lulur, ratus, dan lain-lain. Bukan semata pengen dipandang cantik dan menarik oleh lawan jenis. Menjaga kecantikan dan bentuk tubuh juga merupakan sebuah kepuasan tersndiri. Siapa yang nggak akan berpuas diri kalau rambutnya wangi, lembut dan tertata? Siapa yang nggak akan berpuas diri kalau kukunya rapih bersih dan nggak ada tanah nyelip? Hal ini juga sangat berhubungan dengan level kepercayaan diri. Saat seseorang merasa OK dengan dirinya (fisik dan mental) ia otomatis akan semakin percaya diri dan fearless.

Soal body apalagi. Body yang menjadi kulit luar atau kemasan individu juga merupakan aset yang penting untuk dijaga. Body mencerminkan siapa diri kita. Tidak hanya soal gendut, lansing dan ceking. Tapi juga, dekil, sederhana dan terawat. Jika kita melihat seseorang yang gendut apa yang ada di kepala kita? Nah, pasti deh kita langsung maen judge ,"Ni orang gendut, makannya banyak dan malas gerak." kalao yang ceking,"aih kurusnya, kurang gizi atau 'make' nih?"

Berkat Diet super ketatnya, Friska berhasil membangun kepercayaan dirinya. Friska berhasil merepresentasikan value yang dimilikinya. Siapa pun yang bertemu dengannya pasti akan menyukai attitudenya dan penampilannya yang berkelas.

Bagi seseorang yang terbiasa memiliki body ber-isi seperti Friska, mempertahankan hasil diet tidaklah ,mudah. Badan Friska cenderung mudah berisi lagi jika ia mulai menyalahi aturan makannya. No pain no gain memang. Demi bentuk tubuh ideal, Friska harus berjibaku menjaga pola makan dengan menyingkirkan karbohidrat dari nasi dan menggantinya dengan Oat. Tidak makan berat saat malam. Lebih memilih daging ayam bagian dada yang hambar dari pada sayap atau paha yang gurih. Namun memang harus begitulah dalam ber-diet. semua pola makan jelek harus diubah extremely. "It's only a matter of time," ujarnya bijak. "saat tubuhmu mulai terbiasa maka itu tidak akan menjadi hal yang menyusahkan."

Saya merasa sedikit tertohok dengan ucapan Friska sebenarnya. Saat orang lain memuji badan saya bagus saya sebenarnya memiliki dosa besar, yaitu pola makan yang jelek. saya tidak pernah benar-benar makan dengan teratur. Friska dengan pola makan barunya makan dengan teratur dan gizinya seimbang. Saya? jika serangan malas datang saya hanya makan satu kali dalam sehari. Parahnya lagi saya kadang hanya makan nasi dan telor ceplok. Tambahannya? Segelas teh manis panas. Namun untungnya saya bukan penggemar cemilan. Saya tiak terlalu suka membeli cemilan dengan kadar garam atau gula tinggi. Saya juga tidak suka mengkonsumsi minuman kaleng. Dibalik pola makan yang jelek saya sangat suka sayuran. Jika tidak terlalu banyak beraktifitas saya lebih senang makan nasi goreng , nasi putih atau mi goreng dengan satu mangkok aneka sayuran  (biasanya brokoli, wortel, arcis, tomat dan buncis)  yang direbus dengan bumbu tambahan GARAM saja. Nggak tahu deh pendapat ahli gizi apa. Tapi saya melakukannya tanpa tujuan khusus. hanya kebiasaan saja. Jika lagi rajin saya akan push up dan sit up sebelum tidur, hehe. Tapi saya rasa benar kata Friska, bentuk tubuh saya yang sekarang adalah warisan orang tua. Baik dari pihak Bapak dan Ibu tidak ada saudara ataupun orang tuanya yang gemuk. Mereka bertubuh sedang dan kurus. Saya harus berterimakasih pada tulang kecil mereka. Lucky Me.


So Guys, ini bukan lah masalah tubuh dengan penampilan yang menarik. Adalah kesehatan kamu yang harus jadi prioritasnya. Tubuh ideal bukanlah kurus ceking layaknya model-model runway. Tubuh yang ideal adalah tubuh yang membuatmu percaya diri dan kesehatanmu tetap terjaga. Percuma kamu capek-capek ngurusin badan kalau malah jadi sakit-sakitan. Seperti saya, berat badan saya biasanya berkisar di angka 42-43. Disaat berberat badan segitu saya sering kali gampang masuk angin dan alergi saya akan debu seringkali berlebihan. Saat berat badan saya naik 3 kilo, saya merasakan dampak positif. Badan saya jadi sedikit lebih kebal terhadap cuaca. Alergi pun kalau kumat tidak separah yang dulu-dulu. saya merasa saya lebih sehat. Orang-orang disekitar saya mamandang perubahan saya dengan positif (ada juga yang negatif dengan bilang, kok gendutan?", dasar orang aneh ) . Berat badan saya 47 Kg, dengan tinggi cuman 154 dan saya (rasa) sehat hehehe *narsis mode on*




Kamis, 04 Oktober 2012

A Very Long Journey To Medan



Tahun 2012 , 6 tahun sudah saya berdomisili di kota Medan. Berawal dari asal pilih jurusan saat SPMB tahun 2006 (Saya maunya Sastra Jepang Universitas Andalas (UNAND), tapi yakin sama kemampuan yang tak seberapa saya tempatkan Sastra Jepang UNAND di pilihan ke-2, USU dengan Sastra Jepang-nya di pilihan pertama. Apa daya, saya ternyata lebih pintar sedikit sehingga jeblos di pilihan pertama).

Kalau diingat-ingat, perjalanan saya menuju Universitas Sumatera Utara atawa USU ini memang penuh drama dan air mata. Jika orang tua lainnya menyambut gembira kabar kelulusan SPMB anaknya, lain dengan saya. Suara Bapak terdengar cemas dan hopeless begitu saya kabari via telepon bahwa saya lululs di USU, bukan di UNAND. Ia lantas bertanya, "USU itu di Medan?", Ia menghela napas berat lagi. " Wil mau pergi ke Medan?" . Dan saya terdiam seribu bahasa. Medan? Berapa duit butuh buat kesana ya?

Dengan kondisi uang pas-pas-an (entah Bapak minjem dari mana saya nggak tahu), maka kami berbapak-beranak ini memulai sebuah langkah kecil yang tidak kami duga sangat panjang menuju kehidupan baru si putri sulung yang 18 tahun hidupnya hanya mengenal kota Batusangkar. Sebelum berangkat ke Medan, Bapak bertanya kepada tetangga kami yang kebetulan pernah ke Medan,

Bapak saya : "Kira-kira berapa jam ke Medan?"
Bapak Tetangga : " Agak lebih jauh sedikit lah dari Pekanbaru."
Bapak Saya : "Ada lah 7-8 jam ya?"
Bapak Tetangga : "Yah, kira-kira segitu lah"

Maka dengan jantung berdebar kencang akibat bawaan yang sungguh teramat berat saya dan bapak beranmgkat menuju Bukittinggi. Lho, kok Bukittinggi?. Karena memang dari sanalah kami dapat menumpangi Bus besar yang akan menuju Medan. Modal tanya sana -sini kami akhirnya menitip sama keponakan Bapak tiket menuju Medan di Loket Bus ALS.

7 Jam kemudian...

Kami sampai di Kota Nopan dan sedang berhenti di sebuah rumah makan. Bapak pun bertanya kepada pelayannya,
Bapak Saya : "Berapa jam lagi Medan pak?"
Bapak Pelayan : melihat jam dengan serius, saat itu menunjukkan pukul 11.45 "Kalau dari sekarang, kira-kira Bapak besok masuk kota Medan jam 3 sore lah."
Bapak Saya : "What De Fuk !!!" -ini cuman becanda lho-
Saya             : melongo dengan takjub !

11.45 PM - 03.00 PM (keesokan harinya lhoooo). Berarti 15 Jam lagi ? Durjanaaaaaa ! Bapak tetangga saya kok bilangnya cuman 7-8 jam. Durhakaaaa!

10 Jam kemudian..

Saya   : suara mulai serak, badan mulai lemas, sudah seharian jam belom berak sama sekali "Dimana kita pak? Sudah sampai Medan?"
Bapak Saya  : memandang nanar keluar jendela bus " Ban pecah, lagi diperbaiki sama supirnya"
Saya   : -tidur lagi-

3 jam kemudian...

Anak tetangga kami yang sudah terlebih dahulu di Medan dan berencana menjemput kami di pol Bus ALS menelpon..

Anak Tetangga : "Sudah sampai mana?"
Bapak Saya  : "Walah, nggak tau ni ya. Nggak ada papan nama. Di luar gersang semua. Dari tadi ada yang nampak cuman sawit."
Anak Tetangga : "Siantar Bukan?"
Bapak Saya : "Siantar? Siapa Itu?"
Anak Tetangga : "Siantar nama kota pak, yaudah kalau begitu nanti kalau udah masuk Lubuk Pakam sms saya ya."


3 jam kemudian..
Anak tetangga  nelpon lagi..
Anak Tetangga : "Sudah nyampe Pakam kan pak?"
Bapak Saya   : "Belum, masih di Aek Kanopan. Masih jauh ya ke Medan?"
Anak Tetangga: "Masya Allah, kok masih di kota Pinang pak?"
Bapak Saya  : "Tadi Ban busnya pecah, agak lama memang memperbaikinya."
Anak Tetangga : " Oalahhh... pantesan lama "
Bapak Saya : "Masih Lama ya?"
Anak Tetangga : " 5-6 jam lagi pak."
Saya   : -pingsan-


Akhirnya setelah menempuh perjalanan nyaris 30 Jam kami sampai di Kota Medan jam 9 malam disambut guyuran hujan deras petir menyambar dan mati lampu. Saya dan Bapak benar-benar lelah fisik dan mental.

Beberapa tahun kemudian, saya sudah level advanced kalau naik Bus Medan Bukittinggi. Saat ditanya berada dimana dan berapa jam lagi sampai rumah saya fasih menjawab 7 jam lagi, 5 jam lagi, 2 jam lagi. Medan-Tanjung Morawa-Lubuk Pakam-Tebing Tinggi-Pematang Siantar-Parapat-Balige-Sipirok-Padang Sidimpuan-Muara Sipongi-Rao-Pasaman-Bukittinggi. 6 tahun sudah saya melalui rute itu.

Pernah sekali saya iseng minta dibelikan tiket pesawat yang harganya mendekati Rp400.000. Abang saya yang lagi baik hati memenuhinya. dan akhirnya saya mengalami pengalaman terbang pertama dengan Sriwijaya Air. Kurang dari 1 jam saya mendarat di Bandara Internasional Minangkabau. Saya takjub. 1/24 dari jarak tempuh biasa. Tapi tetap saja saya butuh 3 jam untuk mencapai rumah dari BIM ke Batusangkar. dan biaya yang dikeluarkan adalah 3 kali lipat ongkos bus termasuk makan. Apa pasal? selain taxi bandara, airport tax, tiket pesawat sekali jalan, yang paling memberatkan adalah sewa travel . Penerbangan Medan Padang hanya ada 2 kali sehari. Dengan Lion pagi hari dan Sriwijaya sore hari. Kalau terbang pagi saya terkendala akomodasi pagi buta. Kalau sore saya bisa bergerak sendiri. (Alasan sebenarnya lebih karena saya malas bangun pagi, apalagi sejak ngontrak rumah, saya tidak perlu lagi buru-buru bangun pagi hanya untuk antri ke kamar mandi).

And finally, benar-benar jalan yang sangat jauh menuju Medan. Sebuah langkah besar bagi seorang upik dari kota kecil yang terbiasa bnermain di sawah dan di ladang. Bukan Jakarta memang, tapi si upik ini bersyukur ia datang ke Medan dan akhirnya jatuh cinta setengah mampus dengan kota yang telah banyak memberikannya kepahitan dan kebahagiaan.

(FYI : foto saya catut dari situs Bis Mania, sering juga  liat2 situs bis ini buat baca pengalaman para pengguna setia bis. Image credit ada di foto)

Love Story

Apakah saya akan nge-pos kisah cinta saya? Hell No! i keep it in my secret box, lock it and swallow the key =p


Tapi novel roman, komik serial cantik dan rom-com movies adalah guiltypleasure terbesar saya. Sumber inspirasi saya. Saya tipikal yang emosional kalau membaca novel dan menonton film. Orang yang pengalaman nonton bareng saya atau kebetulan duduk disebelah saya saat saya baca novel pasti pernah menjadi saksi bisu saya nangis mewek sampe ingusan karena tersentuh oleh kisahnya yang sedih atau scene yang emosional. Tapi setelah menikmati tangisan tersebut pikiran saya akan kembali segar dan ide mengalir dengan cepat. Saya langsung produktif dalam menggambar, Sangat menyenangkan kalau dalam mencari wangsit yang anda butuhkan adalah menonton film dan membaca buku. Bukannya mendaki gunung tertinggi di dunia atau bertapa di bawah air mancur 7 hari 7 malam.



Gambar diatas terinspirasi dari banyaknya novel2 roman   Fan fiction yang saya baca. Semuanya bertema Korea dan pasti melibatkan karakter Aktor kondang, penyanyi kondang, Model kondang dan gadis manis dan lugu dari Indonesia. Ceritanya beberap Sucks, tapi ada juga yang berpotensi bagus andai lebih dimatangkan lagi konfliknya agar tiap kali orang baca nggak kayak lagi ber-deja vu menonton salah satu adegan dalam drama korea. 


Nah kalo yg diatas ini karena doyan nonton film-film dengan setting klasik jadul-jadul kolonial gitu. Tapi gambar ini saya bikin setelah nonton 2 seri film Sherlock Holmes by Guy Ritchie. Karakter  Rachel McAdams di film itu benar-benar menempel di kepala saya. Sayang skenario membunuhnya di film ke-2.

Sebenarnya saya ingin mencoba menggambar hal lain selain perempuan dan laki-laki kawaii. menggambar lanskap apalagi. Tapi saya tidak pernah benar-benar serius mencobanya. hanya wacana dan keinginan angin-anginan saja. =p

Mudah2an setelah ini ada film atau buku yang mendorong saya untuk melukis objek non-human. 


The Perks of Being an Ugly Ducky


The Perks Of Being An Ugly Ducky? Bah, siapa sih yang tau untungnya menjadi seorang buruk rupa? Saya rasa perempuan mana pun di dunia ini nggak ada yang mau dikatai buruk rupa, apalagi secara terang-terangan di wajah mereka. Tapi saya merasakannya. Sering malah. Dibilang bermuka pas-pasan oleh orang yang ada disekitar saya. Nggak semuanya juga sih ngatai saya jelek ato sebagainya. Mereka umumnya menggunakan istilah yang merujuk pada arti sebenarnya yaitu, "you're not pretty OK !". And you know what, sampai saat saya mengetik paragraf pertama ini saya masih bisa tertawa dan dan berpikir, situ OK ?

Saya lahir dengan kulit kuning langsat (sepertinya), jika melihat foto masa kecil saya kulit saya nggak keling-keling amat kok. Cuman yah dasarnya anak desa yang bermain selalu terpapar matahari khatulistiwa lama-lama kuning langsat akan berganti menjadi sawo matang juga, secara over cooked under the sun. Rambut saya juga tipikal rambut yang dikategorikan hair dresser sebagai rambut tidak terawat dan tidak ternutrisi. Kering ,meranggas dan bercabang sana-sini. Maklum deh om, dari pada luluran atau hal-hal berbau beuty treatment dulu saya nggak kenal. Penampilan saya juga nggak kalah biasanya. Boyish, dengan hobby menggunting celana jeans tua bapak dan kaos oblong. Atau kalo lagi agak kreatif saya pakai dress tua Ibu saya yang banyak tersimpan di rumah nenek di kampung. Apa yang saya kenakan tentunya tidak pernah mencerminkan atau merepresentasikan tren busana saat itu yang dikampanyekan oleh majalah-majalah seperti Aneka Yess, Gadis, Hai!, Anita Cemerlang,  Annisa (what?), dan Kawanku.

Tapi, ajaibnya saya sempat bercita-cita menjadi seorang Fashion Designer. WOW.  ehm, sampai sekarang masih sih. Hahahaha.

Kembali ke masalah ugly ducky stuff tadi, jujur saya nggak pernah merasa saya jelek. Saya cuman merasa saya ke -PE-DE-an. Saat bercermin setiap akan berangkat ke kampus pun saya selalu cermat dalam memilih pakaian. Saya  bukan orang yang selalu ingin ber-fashion statement, bukan. Yang terpenting bagi saya adalah saya nyaman memakainya dan apa yang saya kenakan bukan sesuatu yang lagi booming. Karena jujur saya tidak suka kemakan tren. Saya termasuk telat menyerap tren bercelana pinsil, bercelana lebar, bercardigan warna-warni dan berbaju chiffon.  Sampai saat sekarang ini! (satu yang masih belum saya cicipi adalah high waist-thing -____-)

Orang yang pertama kali secara tidak langsung mengatai saya jelek adalah ibu dari teman dekat saya di kampung halaman. Teman saya namanya Wenny adalah gadis jawa tulen yang berbahasa Minang. Maklum, ia lahir dan besar di Sumatera Barat, baru di umur 20 tahun ia mengunjungi tanah kelahiran emaknya di Jawa sana. Ia cantik, putih dan rambutnya lurus indah. Saya pernah sedikit iri dengannnya. Tapi tidak lama. Saya senang ketika menemui fakta saya sedikit lebih pintar daripada Wenny, karena dia suka datang ke rumah saya untuk diajari pelajaran sekolah, khususnya bahasa Inggris.

dalam sebuah kunjungan ke rumah Wenny, saya tidak ingat tahun kapan itu entah saya masih kuliah atau SMA, saat itu saya dan Emak Wenny sedang bercerita mengenai abang saya, Ari. Ari berkulit putih dan berwajah cukup cute karena fotocopy Ibu saya, se-copy-paste-nya (sayang sekali Ibu saya lumayan petite, dia juga ketiban petite deh gyagagagaggagaga). Si Emak tah dari mana awal mulanya berkata, "Wajahmu Wil, keras. Potongan jantan." Saya ,"...". Saya spechless. Tidak mengerti maksudnya tapi tau maknanya. Tapi jujur saat itu saya biasa-biasa saja sampai saya bercerita soal ucapan si Emak sama Ibu saya. Ibu saya berang! Dia tersinggung. "Apa maksud dia ngomong seperti itu?" Saya menyabarkan Ibu dengan cueknya. Wong saya aja nggak tersinggung kok. Lagian kalo marah sama aja ngakuin kalo saya benar seperti apa yang dikatakan si Emak.

Lalu saat kuliah dan ngontrak di rumah seorang bidan kaya yang bahenol dan cukup awet muda saya kembali jadi korban dikatai 'jelek'. Si ibuk Bidan dekat dengan saya karena sama-sama suka baca komik. Awalnya dia sering menawarkan krim-krim kinclong pemutih extra cepat. Saya selalu nolak. Tapi akhirnya saya  nyoba dan cuman bertahan 2 bulan. Wajah saya jadi aneh. Kulit (wajah) saya memang jadi putih, tapi bukan putihnya kulit, lebih terlihat seperti bercak panu raksasa.

Dalam satu kesempatan dia yang doyan curhat terselubung dan memotivasi saya untuk kawin muda berkata. "Kau Wil, orangnya baik, enak diajak ngomong lagi. Tapi sayang penampilan mu kurang." Aku ketawa kaku. Ada-ada saja si Ibuk bidan bahenol ini.Bukan cuman sekai dia ngomong seperti itu sih. Saat itu kami tiba-tiba beralih ke topik selingkuh  dan tiba-tiba dia berucap, "Si Wilma ini nanti kalo dapat jodoh laki orang pasti. Kau tau kenapa seorang suami selingkuh? Karena bosan dengan istrinya. Bukan karena Istrinya Jelek, tapi komunikasi dengan istrinya nggak bagus. Nanti si wilma ini bisa jadi pelarian sama laki-laki itu. Soalnya dia enak di ajak ngobrol." Aku ketawa ngakak mendengar pendapat ngawur si kakak. Tapi dalam hati aku memakinya, "Sialan kau, kusumpahi selingkuh beneran lakik mu tau rasa!". *yang ini becanda ding*

Dan masih, saya kemudian benar-benar tertawa ketika bercerita ulang dengan teman satu kontrakan saya. I feel fine.

Lain saya, lain lagi seorang kenalan saya. Sebut saja namanya Rosa. Dia mantan model yang tidak pernah benar-benar serius dengan modelling. Pertama kali bertemu adalah saat saya menangani edisi Anniversary sebuah tabloid remaja lokal Medan yang melakukan perombakan imej dan format. Awalnya si gadis cantik ini diplot sebagai model fashion halaman tengah. Tapi berhubung saya dan juga owner tidak puas dengan model cover, maka dia dipanggil ulang difoto untuk cover.

Saat itulah saya menyadari sesuatu yang aneh tentangnya. Si gadis cantik ini kurang PD dengan kecantikannya. Berkali-kali dia berkomentar mengenai fotonya dirinya jelek di foto-foto yang diambil oleh fotografer kami. Saya pun sempat gerah juga. Tapi berhubung ini kerjaan, yanh disabar-sabarin aja. Toh yang jelek dia kok, bukan saya =p.

Kerjasama kedua adalah ketika  Saya dan dua orang teman sedang ingin membuat portofolio untuk brand Fotografi kami, TROTOA. berhubung setelah pemotretan kami cukup akrab, maka saya meminta dia menjadi model gratisan. Dia memang gadis baik hati, Rosa mengiyakan tawaran kami dan bersedia di foto gratisan. Saat difoto dia tidak terlalu berkomentar soal dia jelek dan sebagainya (saya bersyukur sehingga saya tidak perlu berkali-kali meyakinkan betapa cantiknya dia).

Namun sifat 'itu' muncul lagi saat foto2 sdh masuk bagian editing dan di upload ke FB dan situs kami. Rosa mulai berkomentar dia jelek dan ber-drama ria. Minta foto-foto yang dia terlihat jelek dimatanya dihapus. Aduh mbak cantik ni. Payah kali lah memang.

Lanjut ke kerjasama ke-3 dan terakhir beberapa minggu yang lalu kerjasama yang ke-4. Saya gerahhhhh.

Di kerjasama ke-4 kami melakukan pemotretan dengan tema sedikit mnyerempet fairy tale. Dia berdandan ala peri yang lucu dan manis dengan baju-baju yang feminin. Saat pemotretan saya mengarahkkan agar dia sedikit membuka bibirnya, karena saat mengatupkan bibirnya wajahnya jadi kaku dan ekspresinya tidak hidup.  sepertinya Rosa tidak nyaman dengan arahan tersebut sehingga dia tidak konsen dan mulai tampak bete. Dia berkata karena terlalu berkonsentrasi ke bibir dia jadi tidak fokus saat difoto. Dan mulai lagi drama soal betapa jeleknya dia bergulir. Bibirnya jelek lah, idungnya peseklah, matanya sipitlah.. Who the hell in the world yang bakal bilang lu jelek kalo liat foto lu yang jelas-jelas mata lu disitu belo, hidung lu walo mungil tapi cukup bangir, dan bibir lu juga cowok mana pun bakal berkomen kissable (no, i'm not a gay... but i think all boys will told her so).

karena gerah saya akhirnya berkata dengan galak, " Berhenti ngatai diri sendiri jelek napa? Kalo sempat diamini malaikat dan wajahmu bener-bener jelek tau rasa. Biar kamu tau  jadi jelek tu kek mana rasanya. Ada banyak orang jelek yang rela nukar wajahnya sama wajah kamu kok."

Dia mingkem dan pemotretan berlanjut. God, Saya berharap dia berhenti mengatai dirinya jelek setelah itu. Tapi...

Seminggu setelah pemotretan.
"Kak tolong hapus foto-foto berbaju merah ya. jelek kali aku disitu."
"Lho siapa yang bilanng jelek rupanya? Aneh banget deh."
"Teman-temanku, mereka bilang jelek kali aku di foto itu."

Orang stress.


Jadi hikmahnya bagi saya sampai saat sekarang ini adalah, I'm Ok with me. i'm OK with my body, and i'm OK with my personality. Orang bilang apa saya nggak peduli.  malah saya bersyukur karena setidaknya saya tidak menghujat Tuhan akan karunia wajah dan tubuh yang dianugerahkannya kepada saya. Selagi saya nggak  bikin orang susah peduli amat mereka ngomong apa. Saya semakin berisi belakangan katanya? Alhamdulillah. Saya makin keling katanya? Segera beri Shinzui dan luluran tiap hari hahaha. yang jelas saya tidak terobsesi untuk menjadikan diri saya seperti para bintang iklan sabun atau pembersih wajah, krim malam dan sebagainya. Saya hanya ingin mengambil kritik positifnya saja. Kalaupun saya luluran, maskeran dan sebagainya lebih kepada tujuan merawat diri. Dan yeah, saya menemukan kenikmatan saat berdandan belakangan (saya memutuskan untuk belajar dandan karena mau terjun kedunia kerja). Saya senang saat memulas lipstik, mengaplikasikan eye-liner, menyapukan maskara ketiap helai bulumata saya dan tersenyum puas saat memandang hasilnya di cermin. I'm Beautiful, no matter what they say.